Tuesday, November 10, 2009

Libur Teruuussss…

KEGIATAN rutinku setiap pagi seperti mengulang kegiatan sepuluh tahun lalu: antar-jemput anak sekolah. Dulu si sulung Tia, sekarang si bungsu Gigih dan kakaknya, Biru. Pukul 07.00 aku antar keduanya ke Sekolah Alam Ar-Ridho, sekitar 6 km dari rumah, melewati dua “perumahan atas”, Bukit Sendangmulyo dan Puri Dinar Mas. Sekolah mereka berada persis di mulut Perumahan Bukit Kencana Jaya.

Sebelum Gigih masuk TK tahun ini, Biru turut mobil antar-jemput. Makan siangnya pun, karena sejak kelas III sekolah hingga asar, dia ikut kateringan. Sekarang, kelas IV, beda. Apalagi setelah aku fokus hanya nulis di rumah. Dia pulang (sore) bersama banyak teman dengan mobil jemputan, sedangkan bekal makan siangnya aku antar saat aku menjemput Gigih pukul 11.00.


“Lucu juga ya kerjaanku sekeluar dari Suara Merdeka, antar-jemput anak…” kataku suatu pagi saat ngobrol dengan Pak Doni di lab multimedia. Salah satu guru Sekolah Alam Ar-Ridho itu menyahut dengan suara pelan-sopan, “Disyukuri saja, Pak. Banyak lho orang tua yang pengin nganter anak sekolah tapi tak bisa karena terbentur jam kerja. Pak Budi enak, bisa menunjukkan perhatian dan rasa sayang pada anak dengan cara seperti ini juga…. Tak cuma membelikan buku atau bayar SPP.”

Sejak awal rutin mengantar-jemput Gigih, seperti ketika dulu mengantar-jemput Tia, aku memang jadi “pemandangan” yang berbeda di antara kaum ibu yang mengantar-jemput anak mereka. Kalaupun ada kaum bapak, hanya satu dua, plus dua tiga kakek yang mengantar-jemput cucu. Aku yakin, para ibu itu mbatin, “Hari gini kok ya ada suami yang punya waktu longgar begitu. “ Apalagi, kadang-kadang, aku “menunggui” Gigih hingga pulang sambil nulis di saung atau memanfaatkan hotspot free di Ar-Ridho.

Yang aku batin itu terbukti saat seorang ibu ertanya pada Gigih, “Kok diantar-jemput papa terus? Mama kerja ya?” Sebagaimana adatnya, Gigih spontan menjawab, “Nggak. Ibuk di rumah, jaga warung!” Terbukti lagi ketika Entik bayar SPP atau pas acara halalbihalal bulan lalu. Dia bertegur-sapa dengan ibu-ibu yang lain dan dapat pertanyaan ini: “Kok yang nganter Gigih bapaknya terus?” Santai Entik menjawab, “Lha bapaknya nganggur… Nganter anak kan jadi manfaat.”

Yang paling repot ketika ada guru yang tak begitu dekat atau bapak-bapak yang sesekali punya kesempatan menjemput anaknya menyapa dengan pertanyaan, “Libur, Pak?” Aku jawab libur, kok ya terlalu sering. Aku jawab tidak, pasti harus menjelaskan lebih panjang bagaimana pola kerjaku sekarang. Akhirnya, ya tertawa dan menjawab singkat, “Saya libur terus kok….” Yang bertanya turut tertawa karena menganggap aku guyon belaka. Lumayanlah, meski “nganggur”, bisa membuat orang tertawa.

Saturday, November 07, 2009

“Tenan Lho Ya!”

ROSI Simamora, salah satu editor buku Gramedia Pustaka Utama, melalui facebook berhasil ”memprovokasi”-ku untuk menulis buku edutivity: cerita bergambar plus aktivitas, tentu untuk anak-anak. Awalnya, aku tulis satu cerita contoh yang berangkat dari komentar dia di wall-ku tentang cicak. “Siiip Mas, bagus…. Tapi ya jangan cuma satu, bikin lima sekalian!” katanya via email.

Aku gembira sekaligus pusing sebab meski bukan cerita panjang, nulis satu judul saja harus mengerahkan aneka jurus kepenulisan, apalagi tambah empat lagi. Menolak tantangan jelas pantangan. Namun ribet “urusan” kantor (saat itu aku masih kerja di Suara Merdeka) membuat proses menulis itu tersendat-sendat. Cerita kedua jadi, tak bisa lanjut ke cerita berikutnya.

Syukurlah, Tuhan yang Mahabaik memberiku jalan. Begitu aku berketetapan hati untuk fokus menulis dan pamit berhenti dari Suara Merdeka (3 Agustus 2009), tiga cerita berikutnya mengalir begitu rupa. Setelah kuedit sana-sini, aku minta Tia dan Biru untuk membaca. Deg-degan kutunggu komentar keduanya. “Bagus!” Yesss!!! Tapi kurang lengkap juga kalau tanpa komentar Gigih, si TK-kecil itu.

Suatu malam menjelang tidur, seperti biasa dia minta dibacain buku. Segera kumanfaatkan kesempatan itu untuk “promo” cerita sendiri. “Bapak bacain karya Bapak ya?” tanyaku sambil membawa naskah ke tempat tidur. “Bukunya mana?” tanya Gigih. Aku menjawab, “Ini masih naskah, belum jadi buku. Tapi ceritanya bagus lho.” Ternyata… tegas dia menolak, “Nggak mau. Nggak ada gambarnya. Jelek!” Setelah beberapa kali mencoba tetap gagal juga, ya wis, aku kirim empat cerita berikutnya itu via email ke Rosi Simamora.


Tak lama, Rosi mengirimiku contoh ilustrasi, via email juga. Wow! Bagus sekali. Kutunjukkan “halaman 1” salah satu judul cerita itu pada Entik, Tia, Biru, dan Gigih. Semua suka. “Kok jadi bagus ya?” komentar Gigih. “Nanti malem bacaain ya, Pak!” Haiyah, baru satu halaman contoh, gimana caranya? Di komputer pula. Tapi karena pengin ngerjain Gigih yang kemarin-kemarin menolak tegas dan bilang jelek, aku bacakan juga malamnya. Ya cuma awalan cerita itu. “Lho, kok gitu thok?” tanyanya. Hahaha… kena dia. “Baru satu yang digambar. Entar kalau udah jadi buku, baru bisa baca semua…” kataku.

Tak lama pula setelah itu, Rosi mengirimiku contoh ilustrasi lima karakter cerita. Lagi-lagi kutunjukkan pada orang serumah. Sangat kelihatan, Gigih yang paling kemecer sampai dia sentuh layar komputer. Ingin benar dia mengambil “buku” itu. “Ini ceritanya juga belum selesai, Pak?” tanyanya. “Ceritanya udah, gambarnya yang belum. Nanti kalau udah semua, dicetak, dan jadi buku, pasti Bapak bacaiin.” Gigih tersenyum senang tapi tetap minta tanda kesungguhan, “Tenan lho ya!”

Aku mengangguk mantap.

“Ibuk DP-nya aja, nggak usah dibacain…” sela Entik.

Aku menggeleng, jauh lebih mantap. Dia pun mencubit –seperti dulu, dulu sekali…. “Aow!”

“Heh, heh! Udah tua-tua kok guyon!” sergah Biru. Renyahlah seisi rumah.

Friday, November 06, 2009

daripada daripada


SAMPAI hari ini, masih juga ada yang bertanya, kenapa atau apa alasan paling mendasar aku keluar dari Suara Merdeka, koran terbesar dan tersebar di Jawa Tengah itu. Sampai hari ini, masih juga ada yang “menganggap” aku emosional, grusa-grusu, dan memberikan reaksi yang tak proporsional atas “penghapusan” Kantin Banget , halaman remaja yang selama empat tahun menjadi salah satu tanggung jawabku sebagai redaktur di sana. Sampai hari ini, masih juga ada yang “menyesali” langkahku membubarkan Geng Kantin Banget, komunitas yang lahir dari persinggunganku dengan pembaca (remaja). “Eman-eman,” kata mereka. Bahkan masih juga ada “teman” yang mengulang-ulang pernyataan, “Kalau soal sakit, bukankah semua kita sakit? Kalau soal terzalimi, kamu tidak sendiri, semua terzalimi. Kenapa mesti keluar?” Fiuuuhhhh….

Pada sebagian anggota (mantan) Geng Kantin Banget yang silaturahim ke rumah sambil membawa tumpeng halalbihalal beberapa waktu lalu, aku ceritakan bahwa sudah sangat lama aku amat berhasrat keluar dari Suara Merdeka, bahkan ketika mereka yang sekarang sudah SMA dan mahasiswa itu masih riang gembira nyanyi-nyanyi di bangku TK atau SD! Penghapusan Kantin Banget itu bukan sebab, melainkan hanya semacam “pintu keluar yang terbuka dengan tiba-tiba”. Dan aku membubarkan Geng Kantin Banget, selain karena secara formal mereka memang tak lagi punya cantolan, juga karena rasa sayang. Aku tak ingin mereka menemukan “tulang tanpa isi di ujung gang”. Aku ingin mereka segera “menyebar ke pekan-pekan seperti jamaah usai jumatan”. Bubar demi masa depan!

Dengan nada sangat bercanda, dalam kasus penghapusan Kantin Banget itu, Entik bilang, “Tuhan tak sabar lagi menunggu Bapak kuat iman untuk keluar…”

Sekitar dua atau tiga tahun lalu, Entik malah pernah menyatakan, “Kalau Bapak tak bosan jadi karyawan Suara Merdeka, Ibuk yang sudah bosan jadi istri karyawan Suara Merdeka.” Pernyataan itu dia ulang akhir Juli 2009 saat kami kembali memperbincangkan langkah terbaik bagi kami sekeluarga.

Naaaa… daripada dia akhirnya minta cerai karena “bosan” itu dan kemudian mencari suami lain, ya sudah, aku pilih cerai dari Suara Merdeka. Hahaha…!

Sunday, October 25, 2009

Hanya ALAM yang Bisa Mengajarkan

BULAN ini Biru dan teman-temannya di SD Alam Ar-Ridho sedang riang gembira mengeksplorasi tema “hewan”. Dan karena itu, nyaris setiap hari dia minta, “Buk, beliin kelinci, Buk.” Sibuk pula dia membuat kandang kelinci dari kardus. Belum sempat kami belikan, suatu hari dia bilang, “Ndak usah wis. Aku dan teman-teman mau beli sendiri di Bandungan pas outing nanti.”

Pada hari outing itu, selain ke Bandungan juga ke kebun binatang Mangkang, sore Biru pulang “bersama” seekor kelinci putih imut dan lucu. “Wah, kok kecil sekali. Kenapa gak beli yang gede?” Tanya Entik. Biru menjawab cepat, “Yang besar mahal, Buk!” Dia taruh kelinci itu di kandang kardus, dia beri kangkung dan wortel. Dia amati dengan mata “jatuh cinta”.

Saat ikut Tia keluar rumah, dia titipkan kelinci itu pada Gigih. Tak lama, Gigih teriak, “Pak, kelincinya mau dimakan Pusi!!!” Aku yang sedang asyik nulis di kamar segera keluar. Wahaaa!!! Pusi, kucing piaraan kami, sedang berusaha meraih kelinci itu dari lubang kardus. Saat Biru pulang, Gigih cerita soal itu. Biru pun marah pada Pusi. “Kalau nakal, kamu kubuang lho, Pus!” katanya.

“Ya nggak boleh gitu, Mas. Ada piraan baru kok terus mau buang piaraan yang lama…” kata Entik. Biru menyahut, “Lha Pusi nakal!” Aku menimpali, “Itu kodrat binatang, Mas. Yang kuat akan memangsa yang lemah… Ati-ati aja. Taruh kelinci itu di tempat yang tak terjangkau Pusi.”

Malam itu, aku dan Entik menghadiri ijab-kabul pernikahan keponakan. Baru saja beramah-tamah dan duduk, Biru menelepon dari rumah. Dengan suara bergetaran tangis, dia mengadu, “Pak…. kelincinya mau dimakan Pusi… udah kutaruh di atas, tapi tetep aja Pusi bisa ngambil. Kelincinya berdarah, Pak…. kakinya digigit Pusi. Bapak cepet pulang!!!”

“Wah, nggak bisa Mas, Bapak baru aja sampai. Kok nangis sih? Waduh, belum lama jadi piaraan udah gitu. Kalau lebih lama kayak Pusi, gimana itu?”
“Kalau kelinci ini mati gimana, Pak? Ini kan dibeli dengan uang teman-teman. Kalau mereka marah, gimana?”

“Bapak udah bilang, itu kodrat binatang. Yang kuat memangsa yang lemah. Pusi nggak tahu kelinci itu dibeli dengan uang teman satu kelas, Pusi juga nggak tahu kelinci itu bagian dari pelajaran sekolah…. Udah, kamu obati dulu aja lukanya, minta bantuan Mbak Tia…”

Satu jam kemudian, Biru telepon lagi. “Bapak pulang jam berapa?”
“Nanti, setengah sepuluh. Kamu tidur aja dulu…”
“Nggak! Aku nggak mau tidur. Aku mau jaga kelinci ini biar nggak diterkam Pusi lagi!”

Ketika aku dan Entik pulang, Biru benar-benar sedang menjaga kelinci itu –di kamar kami dengan mata sembab pula. “Tadi Biru marah dan nendang Pusi,” kata Tia. Aku menatap Biru. “Kamu nggak sayang lagi sama Pusi?” tanyaku. Biru tersendat menjawab, “Ya sayang, tapi aku juga sayang kelinci ini. “

“Ya udah, bawa ke kamar kamu…” kata Entik sambil membuka kandang kardus itu. “Mana lukanya? Sudah dikasih obat merah kan?” Tapi…. “Wah, Mas, kayaknya… udah mati ini… udah kaku begini…” Dia ambil kelinci itu dan memang sudah kaku, sudah mati. Tak ada yang bisa mencegah, Biru nangis lagi.

“Bulunya halus sekali ya…” kata Entik.
“Bulunya halus tapi matinya kasar!” sahut Biru, sangat geram (pada Pusi pasti).
“Sudahlah…. Pusi nggak salah, dia nggak tahu…” selaku.
“Kalau besok teman-teman marah sama aku gimana?”
“Ceritakan saja semuanya dengan jujur, terbuka. Pasti teman-temanmu paham. Sekarang, kita kubur saja kelinci ini. Oke?”

Malam itu juga bersama Tia, Biru, dan Gigih aku menggali tanah dan “menanam” kelinci yang imut yang lucu di bawah pohon belimbing…. sambil deg-degan juga membayangkan apa yang akan terjadi saat Biru menghadapi teman-teman sekelas.
* * * * *
BESOKNYA, saat mengantar bekal makan siang, aku temui Biru di kelas IV-A. Bu Yayuk, guru mereka, sedang duduk lesehan dalam kerumunan beberapa murid. Murid-murid yang lain ribut “menggembala” kelinci yang lari ke sana kemari. Kandang-kandang kardus penuh sayuran ada di pojokan. Kelas yang hidup, bukan kelas yang sunyi, apalagi mati.

“Gimana, Mas, udah kamu ceritakan dengan jujur dan terbuka? Teman-temanmu gak marah kan?”
“Udah. Nggak, nggak marah. Cuma banyak tanya. Kami masih punya tujuh kelinci lagi kok,” jawabnya sambil tersenyum.

Aku tersenyum juga. Senang karena tema “hewan” tak hanya memberinya pelajaran tentang jenis-jenis hewan, jaring-jaring makanan, rantai makanan, atau simbiosis mutualisme/parasitisme, tapi juga pelajaran bagaimana menghadapi kenyataan tak terduga, bahkan pahit, serta mengelola kesedihan dan mengatasi rasa takut yang sering tak beralasan. Untuk itu, memang hanya Alam yang bisa mengajarkan….

Monday, October 19, 2009

Begini Rasanya

HARI ini, aku minta maaf dua kali. Pertama, saat mengantar Biru ke sekolah. "Maafin Bapak ya, Mas.. tadi malam Bapak marah," kataku sambil ngosak-asik rambutnya. Ringan dan cepat, Biru menjawab, "Iyah, gak papa."

Kedua, setelah Tia berangkat ke Peterongan untuk ngadang bis ke Salatiga. Mestinya, aku antar dia sekaligus hadir dalam pertemuan wali murid. Kukirim sms: I am so sorry... Agak lama, bahkan setelah aku telepon soal yg lain, barulah sms balasannya datang, "Heiii.. no problem, Dad!"

Lega, iya. Tapi tetap ada "sisa". Begini rasanya jadi orang tua yang "tak sempurna".

Wednesday, October 07, 2009

Saat Kau Cium Pipi Ini, Nduk

pundak memberat
langkah pun melambat
tak berani menoleh karena jejak bisa memanggil
seperti utang yang belum terbayar

kita simpan saja kata
untuk pertemuan berikutnya

X-Bening Sala3, 4 Oktober 2009

Monday, September 28, 2009

Kalaupun Bukan Doaku

SEPERTI tahun lalu, Idul Fitri tahun ini kami tak ke mana-mana --selain ke TimeZone! Seminggu menjelang Lebaran, Tia dan Biru beberapa kali bertanya soal “ke Tegal atau Gresik”. Gigih pun ikut-ikutan bertanya. Aku tak memberikan jawaban. Entik hanya bilang, “Kita lihat nanti.” Pada H-1, jelas, tak ada “fasilitas”. Bagiku itu berarti tak ada “amanah”. Tak perlu memaksakan apa pun, termasuk silaturahim yang sangat kami sukai itu.

Usai shalat id, ini tak seperti Lebaran-lebaran sebelumnya, aku memilih untuk meminta maaf lebih dulu setelah menyampaikan soal khilaf dan salah, juga kekuranganku sebagai bapak dan suami. “Sangat ingin Bapak memberikan yang terbaik untuk Ibuk, Mbak Tia, Mas Biru, dan Gigih… Tapi, ya, beginilah… Maafkan Bapak ya… Alhamdulillah, kita tetap terlimpahi rezeki kesehatan hingga bisa melakukan apa pun dengan lebih baik besok atau lusa.”

Diwarnai cekikik geli si Gigih yang memang belum “dhong”, Entik melanjutkan “ritual” itu. Dia memaafkan dan meminta maaf, terus berlanjut ke Tia, Biru, dan Gigih (ini yang paling merepotkan, karena salim sambil lari, tak mau cium pipi, apalagi saat mesti salim sama dua kakaknya). Setelah itu, kami nikmati sarapan lontong opor ayam dan apalagi kalau bukan televisi.

Syukurlah syukur, silat fisik kami tak terputus sama sekali. Hari kedua, sore sepulang dari TimeZone sebagai pengobat “sepi sendiri di perumahan” bagi anak-anak, kami ketamon Pak Doni sekeluarga (thanks Bro, kau orang pertama yang meminum sirup kami). Hari ketiga pagi, Benu (salah satu sohib yang dulu juga teman sekantor di Suara Merdeka) berkunjung. Sorenya, Cak Aris yang dari Gresik datang. “Wah, gondrong!” katanya. Fiuuhhh… Adik ketamon kakak, saat Lebaran pula, sangat menggetarkan. Dua kakakku yang lain, Cak No dan Mbak Win, tak mudik ke Kendal karena benar-benar sedang repot di Jakarta.

Hari keempat, Tia tak kuat (pisss Nduk!) dan “pulang” ke komunitas belajarnya di Salatiga. Berkurang satu anggota saja, ternyata sangat terasa, apalagi pada saat-saat begini. Saat itulah aku dapat jatah “silaturahim selingan”: Rabu (23/9) makan siang bersama Handry TM yang ulang tahun (tur nuwun untuk Ny TM yang memesan ikan Cianjur untuk orang rumah), Kamis (24/9) reuni angkatan pertama (1981) SMA PGRI Kendal setelah 25 tahun berpisah, Jumat (25/9) malam kopi-darat dengan Emi-Kenny-Malaysia (thanks lipstiknya).

Sabtu (26/9), bersama istri dan anak, Tavip yang rekan-dulur senasib sepenanggungan sejak kuliah hingga termehek-mehek di Suara Merdeka nyambangi kami dengan humor-humor pahitnya. Minggu (27/9) pagi Aulia yang sudah kopdar bersama Kenny datang beserta anak-istri plus nasi pecel yang uenak tenan untuk sarapan. Siang, Kang Putu beserta anak-istri yang baru saja balik dari Purwodadi mampir pula. Sore, Nining “si adik tiri” datang bersama suami dan memberi tahu akan mantu anak pertama Oktober nanti (ridhoi rencana mereka, Tuhan!). Bakda isak, rezeki teman rezeki persaudaraan hari itu disempurnakan oleh keluarga Syamsul, salah satu soulmate yang kerja di majalah Gatra.

Minggu malam, Entik bergumam, “Tahun depan, kita mesti satukan silaturahim yang gencal-gencil ini.” Aku berkerut dahi. “Mampukah kita?” tanyaku. Entik mengangguk. “Insya Allah, mampu…”

Tuhan yang Maha Berdaya, kalaupun bukan doaku, dengar dan kabulkanlah doa istriku…Please, Gusti!