Sebelum Gigih masuk TK tahun ini, Biru turut mobil antar-jemput. Makan siangnya pun, karena sejak kelas III sekolah hingga asar, dia ikut kateringan. Sekarang, kelas IV, beda. Apalagi setelah aku fokus hanya nulis di rumah. Dia pulang (sore) bersama banyak teman dengan mobil jemputan, sedangkan bekal makan siangnya aku antar saat aku menjemput Gigih pukul 11.00.

“Lucu juga ya kerjaanku sekeluar dari Suara Merdeka, antar-jemput anak…” kataku suatu pagi saat ngobrol dengan Pak Doni di lab multimedia. Salah satu guru Sekolah Alam Ar-Ridho itu menyahut dengan suara pelan-sopan, “Disyukuri saja, Pak. Banyak lho orang tua yang pengin nganter anak sekolah tapi tak bisa karena terbentur jam kerja. Pak Budi enak, bisa menunjukkan perhatian dan rasa sayang pada anak dengan cara seperti ini juga…. Tak cuma membelikan buku atau bayar SPP.”
Sejak awal rutin mengantar-jemput Gigih, seperti ketika dulu mengantar-jemput Tia, aku memang jadi “pemandangan” yang berbeda di antara kaum ibu yang mengantar-jemput anak mereka. Kalaupun ada kaum bapak, hanya satu dua, plus dua tiga kakek yang mengantar-jemput cucu. Aku yakin, para ibu itu mbatin, “Hari gini kok ya ada suami yang punya waktu longgar begitu. “ Apalagi, kadang-kadang, aku “menunggui” Gigih hingga pulang sambil nulis di saung atau memanfaatkan hotspot free di Ar-Ridho.
Yang aku batin itu terbukti saat seorang ibu ertanya pada Gigih, “Kok diantar-jemput papa terus? Mama kerja ya?” Sebagaimana adatnya, Gigih spontan menjawab, “Nggak. Ibuk di rumah, jaga warung!” Terbukti lagi ketika Entik bayar SPP atau pas acara halalbihalal bulan lalu. Dia bertegur-sapa dengan ibu-ibu yang lain dan dapat pertanyaan ini: “Kok yang nganter Gigih bapaknya terus?” Santai Entik menjawab, “Lha bapaknya nganggur… Nganter anak kan jadi manfaat.”
Yang paling repot ketika ada guru yang tak begitu dekat atau bapak-bapak yang sesekali punya kesempatan menjemput anaknya menyapa dengan pertanyaan, “Libur, Pak?” Aku jawab libur, kok ya terlalu sering. Aku jawab tidak, pasti harus menjelaskan lebih panjang bagaimana pola kerjaku sekarang. Akhirnya, ya tertawa dan menjawab singkat, “Saya libur terus kok….” Yang bertanya turut tertawa karena menganggap aku guyon belaka. Lumayanlah, meski “nganggur”, bisa membuat orang tertawa.

.jpg)
