Saturday, February 18, 2012

Demam yang Lebih Dahsyat

SEJAK SMP aku sering manggung. Berawal dari nyanyi di depan kelas, baca puisi di arena ulang tahun atau pesta pernikahan sehingga tak perlu bawa kado apa pun, eksibisi pencak-silat, sampai menjadi “dirigen” kasidah dengan alat musik terbang (lengkap), gitar, bas betot, pianika, dan angklung. Ketika mental menebal, selain membuat grup musik akustik bersama lima teman sekolah, aku juga berani nyanyi sambil memainkan gitar pinjaman, sendirian. Saat itu sebenarnya sudah coba-coba menulis puisi, cerpen, dan drama namun kalah oleh “hawa” pentas ke sana kemari. “Hawa” yang tak hilang ketika SMA dan berlanjut ke perguruan tinggi.

Karena itulah, demam panggung telah lama menjadi semacam “mitos” yang tak kupercayai sama sekali. Sepanjang niat pentas sudah bulat, aku selalu main sasak! Yang nonton satu atau seratus orang, sama saja. Aku tak pernah menganggap penonton sebagai semut agar tak grogi seperti saran para guru. Sebab, selain mana ada semut bisa tepuk tangan atau malah sorak-sorak menyuruh orang turun panggung, juga karena aku lebih suka “menghadapi kenyataan” di depan mata. Pede tak gentarlah pokoknya. Lagi pula, untuk apa pentas kalau yang nonton cuma semut?

Demam panggung yang telah kutaklukkan itu ternyata muncul lagi dengan kemeriangan yang lebih dahsyat. Bukan! Bukan ketika aku pentas baca cerpen, misalnya, melainkan ketika (hendak) menyaksikan anak-anak kami manggung. Wow! Sungguh tak menyangka, saat menunggu mereka bersiap di sisi atau belakang panggung saja, rusuh-riuh jiwa-raga sampai menelan minuman pun susah rasanya.

Semasa TK, Tia pernah pentas nari, ramai-ramai. Sebelum hingga sepanjang pertunjukan, perutku muleeeees terus. Semula aku berpikir, “Ah, ini pasti hanya karena baru punya anak satu. Pengalaman pertama. Nanti anak kedua atau ketiga, tentu biasa-biasa saja.”

Ternyata, tidak. Demam panggung itu tetap ada saat nonton Biru pentas nari, bahkan drama, bersama teman-teman TK-nya. Saat dia kali pertama ngemsi dalam acara perpisahan kelas VI di sekolah, wuaah, jangankan dia mengucap atau bertingkah salah, betul dan bagus pun tetap bikin jantung ini berdegup lebih kencang. Untungnya, karena suka motret, aku bisa bersembunyi di balik kesibukan jeprat-jepret, termasuk membidik obyek-obyek yang tak jelas atas nama fotografi. Padahal, aslinya, sedang menghalau demam.

Pernah aku gemetaran ketika Gigih hendak naik panggung dalam lomba hafalan surah pendek. Dan, celaka tiga belas, saat itu aku sedang tidak berkamera. Tak bisa pura-pura sibuk. Hanya bisa menonton. Ketika dia mengucap salam pembuka, alamak, nafasku nyangkut di tenggorokan sampai dia mengucap salam penutup dan turun. Kusambut kupeluk dia dengan kelegaan sawah kering tertimpa hujan. “Heeehhhhh…. Makan yuk!” ajak Entik yang tak kalah demam sampai telapak tangannya basah oleh keringat.

TANGGAL 11 Februari lalu, bersama guru dan teman-temannya, Biru pentas “musik rombeng” dalam “Semarang Education Expo 2012” di atrium Java Supermall. Kami serumah datang untuk jadi suporter. Saat Biru turut menaikkan dan menata alat musik dari berbagai barang bekas itu ke atas panggung, aku merasa dia sudah mulai bisa menguasai “demam”-nya sendiri. Dia tak hanya meletakkan alat sesuai dengan instruksi guru tapi juga mengubah atau membetulkan penempatan yang keliru. Ah, punya bakat memimpin juga dia.

Naaaa…. ketika grup “musik rombeng” itu ambil posisi masing-masing, diam, menunduk, alunan kibor mengalun dari sisi bawah panggung, mataku fokus ke Biru yang jadi “penabuh tempat duduk”. Demam yang lebih dahsyat kembali menyerang. Aku tahan nafas dengan duduk tegak bersedekap. Entik pun diam, pastilah sama, meriang luar dalam. Gigih nonton persis di depan pentas sana. Tia ambil posisi siap motret dekat panggung juga.

Di sepanjang lagu “Yamko Rambe Yamko” yang mereka mainkan dan nyanyikan dengan riang-gembira, sesekali aku mengalihkan pandang dari Biru yang tampak menikmati benar tugas “menabuh tempat duduk” itu. Kadang-kadang ke penampil yang lain, kadang-kadang ke Gigih yang nonton kakaknya sambil melompong, kadang-kadang ke Tia yang berasyik-asyik dengan kamera.

Demam panggung yang kurasakan di awal pelan-pelan menghilang dan berganti dengan keharuan. Tak tahu dan tak bisa aku menggambarkan keharuan macam apa ini. Aku hanya diam dengan mata yang kurasa berkaca-kaca. Apalagi kemudian Entik berbisik, “Pak… Ibuk terpesona…”

Pada saat-saat seperti itu, selalu aku bersyukur sekaligus mohon ampun pada Tuhan karena…. Ah! Maaf, tak bisa dan tak boleh kutulis di sini. Biarlah kusimpan dalam hati, sendiri…

Friday, February 17, 2012

Kenapa Sharing, Kenapa Caring

POM bensin Sigarbencah, suatu siang. Ketika menunggu dalam antrean, pikiranku sibuk bukan kepalang “akibat” berbagai berita yang kubaca di koran. Dari bunuh diri karena putus cinta, membuang atau membunuh anak sendiri karena tekanan ekonomi, tawuran antarsekolah antarkampus antarkampung dengan sebab yang menurut reporter “tak begitu jelas”, sampai kekerasan-kekerasan yang penuh kesengajaan –atas nama agama dan bahkan Tuhan!

Tentu banyak sebab, tentu tak tiba-tiba semua itu terjadi , namun datang semacam din, petunjuk, di kepala hingga aku berucap, “Cinta…” Dalam bahasa yang muluk-muluk muncul kesimpulan, negeri ini “kalang-kabut” dari atas sampai bawah karena banyak orang kehilangan rasa cinta yang terkelola dengan baik. Cinta yang menenteramkan. Bukan cinta diri atau kelompok yang amat berlebihan hingga menjadi ancaman bagi orang lain atau malah mendorong kita untuk saling menghancurkan.

Sangatlah naif jika kemudian aku turun ke jalan, mengacung-acungkan poster atau membentangkan spanduk, dan berteriak-teriak, “Cinta! Kita harus kembali ke cinta. Kita harus saling mencintai agar kasus bunuh diri tak makin tinggi, agar saling serang saling bunuh tak terus-menerus terjadi, agar tak ada acara larang-melarang orang menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing, agar para pejabat tidak sewenang-wenang dan asyik saja mengorupsi harta atau bahkan hidup rakyat!”

Terlalu jauh. Terlalu besar. Lalu? Kembali ke diri, kembali ke hubungan personal antarpribadi, kembali ke komunitas inti: keluarga. Sontak saja datang lagi semacam din, petunjuk, yang membuatku ingat Veronika Raharja, penyiar Smart FM Semarang. Segera kukirim sms padanya: bikin program radio tentang cinta yuk. Dari cinta dalam pengertian tersempit sampai terluas. Cinta diri, cinta kekasih, cinta sesama, sampai cinta Tuhan. Meski berharap, sambutan hangat Vero tetap di luar dugaan.

DUA kali kami bertemu dengan jarak hari yang lumayan jauh untuk memperbincangkan program itu: suatu malam di warung gemblong bakar Mataram dan suatu siang di warung makan seberang Grha Spirit, kantor Smart FM, Jln Soekarno-Hatta. Banyak hal dan ide yang kami pertukarkan hingga kami sampai pada kesepakatan awal.

Pertama, siaran setiap Sabtu malam Minggu mulai pukul 19.05 hingga 20.00. Kedua, memakai “tagline” blog ini, BERBAGI CERITA BERBAGI HATI, sebagai nama program. Ketiga, pendengar berbagi cerita, cinta, kepedulian atau curhat sekalian lewat tulisan. Sebab, ini yang kualami dan kukuhi, tulisan bisa menjadi salah satu kanal untuk mengalirkan perasaan, baik cinta maupun benci, baik sedih maupun gembira, baik sengsara maupun bahagia. Tulisan bisa menjadi jalan untuk “mengurai” tekanan hingga tak meledak ke mana-mana. Para psikolog Barat, sejak awal 1970-an, malah menggunakannya sebagai terapi, writing therapy.

Aku dan Vero taklah hendak menjangkau sejauh itu. Kami hanya memberikan semacam ruang bagi siapa pun untuk berbagi cerita, berbagi cinta, mengalirkan tekanan, lewat tulisan. Perbincangan kami saat on air juga hanya semacam “menemani”, tidak lebih. Jika kemudian bisa menjadi alternatif solusi atau apalagi sampai menginspirasi para pendengar yang lain, ya alhamdulillah wa syukrulillah. Di wilayah itu, jelas Tuhan yang bekerja, sama sekali bukan kami.

Sekitar seminggu sebelum siaran pertama, awal November 2011, Vero memberitahu bahwa nama program bukan BERBAGI CERITA BERBAGI HATI melainkan SMART SHARING & CARING. “Kami sesuaikan dengan nama-nama program Smart FM yang lain. Nggak papa kan, Mas?” Nama yang bagus juga, manalah mungkin aku keberatan. Berbagi dan peduli, berbagi karena peduli, sana berbagi sini peduli. Indah sekali!

MAKA setiap malam Minggu sejak November itu, sebelum nonton sepakbola di televisi, hujan tak hujan aku meluncur ke Grha Spirit Smart FM untuk mendengar cerita kiriman smart-listener yang Vero bacakan dengan suara merdu. Dibantu Eko atau Seto sebagai operator, kami berbincang tentang cinta yang menerima, merengkuh, menenteramkan agar “kita semua” tak pernah lupa berbagi dan tetap peduli…

NB: Yang tinggal di Semarang dan sekitarnya , Smart FM ada di gelombang 93.4. Yang tinggal di “planet lain” bisa bersilaturahim lewat streaming www.smartfmsemarang.com. Yang hendak berbagi cerita (cinta) silakan tulis cukup satu halaman kuarto spasi renggang dan kirim ke ssc.smartfm@gmail.com.

Saturday, January 14, 2012

Memandikan Langit

KEMARIN siang tiba-tiba saja terdengar Gigih teriak di luar, “Langit! Langit! Mbak! Pak! Langit jatuh di got!” Tia berlari ke teras, aku keluar dari kamar. Langit berlarian panik mau masuk rumah tapi ngerem dan belok karena kepergok Tia yang teriak, “Hayo, Ngit! Nggak boleh masuk!” Wis, air got “bertebaran” ke mana-mana.

“Pegang to, Mbak!” kataku. “Kotor sekali itu, nggak mungkin dia bersihkan sendiri. Pegang dan mandikan di pancuran belakang sana…”

Tia menangkap Langit dan membawanya ke belakang rumah. Nyaris seluruh badan kucing kami itu belepotan peceren. Gigih bersukacita, “Horeeeee…. Langit mandiii!!!” Di antara kucing-kucing yang pernah kami punya, memang Langit yang belum pernah mandi air atau kami mandikan. Repotnya, hawa sedang dingin, air dari tandon atas pun masih dingin karena matahari tak benar-benar nampak sejak pagi.

“Akhirnya, mandi juga kau, Ngit…” kata Tia sambil menyiram Langit di bawah keran.

“Kedinginan tuh, Mbak… Langit ndrodhok…” kata Gigih.

Sudahlah memang kucing “anti-air”, dingin pula. Ya wis, Langit “teriak-teriak” dan berusaha lepas. “Disemprot aja, Pak… biar cepat bersih,” kata Entik yang sedang sibuk bikin jus alpukat. Aku pun turut sibuk memandikan Langit. Kusemprot dengan agak kencang agar tak perlu menggosok badannya. Tapi tetap saja ada kotoran yang lengket di kaki dan perut. Terpaksalah semprotan lebih kencang. Langit kian menggigil dan meronta-ronta.

“Ambil kamera, Gih! Kamu yang motret!” kataku karena ini momen langka. “Oh, okeh!” sahut bungsu kami itu sambil lari masuk rumah tapi nggak muncul lagi. Ternyata o ternyata, dia motret dari jendela kamar. “Waaaaa…. Kalau dari situ, yang kelihatan cuma cagak atau Bapak… sini, motret deket sini!” kata Tia.

Setelah kotoran tak nampak lagi, acara memandikan Langit kusudahi. “Ambil handuk, Gih!” Tapi dari dalam Entik bertanya, “Udah pakai sampo belum?” Dan Gigih yang menjawab, “Beluuummm…” Entik menyahut sambil nongol di belakang membawa Rejoice saset, “Kelihatannya sih bersih tapi bau kalau nggak disamponi!”

Terpaksalah balik lagi. Langit makin menggigil, makin protes. Kupercepat. Setelah itu, kami keringkan tubuh langit dengan handuk. “Ambil hair dryer, Gih… biar Langit hangat dan segera kering.”

Pindah ke kamar. Tia yang memegangi Langit, Gigih yang mengeringkan bulu dan tubuh kucing itu dengan hair dryer. Mungkin karena terasa hangat di badan, Langit jadi lebih tenang, berkesan menikmati bahkan, sambil sesekali menjilati badan sendiri sesuai dengan naluri. Begitu selesai, wow, bulu-bulu Langit jadi lembut dan wangi….. Kulihat matanya berucap, “Thanks!” (ini sih gr.com, hahahaha…)

Tuesday, December 27, 2011

Kembali “Melebah”

SALAH satu cerpen karya sendiri yang sangat kusuka adalah “Lebah”. Baik dari segi proses, isi cerita yang masih juga relevan hingga sekarang, maupun kelenturannya saat “dipanggungkan”. Ide cerpen itu lahir 20-an tahun lalu ketika suatu hari aku naik bis ekonomi (banget) yang penuh penumpang dan tiba-tiba seekor lebah masuk lewat jendela paling belakang. Terjadi keributan sebentar sebelum seorang penumpang berhasil mengusir lebah itu keluar.

Tetapi dengan “mata pengarang” plus jurus andai yang sering ampuh untuk memanjangkan imajinasi, tak aku biarkan lebah itu pergi. Hasilnya, di dalam cerita, penumpang tidak hanya tak berhasil mengusir si Lebah namun juga panik-malinik karena binatang bersengat itu “terbang ke sana kemari seperti sengaja menyerang dan menakut-nakuti”.

Lebah menjadi titik puncak kepanikan dalam bis yang sejak awal penuh keributan karena kondektur dan kernet terus saja menaikkan penumpang, sopirnya pun ugal-ugalan. Itulah sebab seorang kawan pernah mengatakan, “Cerpen ini sangat politis!”

SETIAP kali membacakan cerpen itu di “panggung”, aku selalu menemukan gairah baru karena bisa memasukkan aneka improvisasi: dari mengubah (selingan) lagu sampai mengganti dialog dan bahkan umpatan –sesuai dengan situasi saat pembacaan. Sebuah proses kreatif pemanggungan yang tak habis-habis dan menyenangkan.

Maka ketika Gambang Syafaat, forum silaturahim bulanan yang ber-tagline “Untuk Kesejahteran & Kebersamaan Indonesia”, berulang tahun ke-12 pada 25 Desember 2011 di Aula Masjid Baiturrahman Semarang, aku kembali “melebah”. Ya, aku jadikan pembacaan cerpen “Lebah” sebagai hadiah: sebungkus kado pengingat untuk semua, termasuk diri sendiri, jangan sampai salah memilih pemimpin atau jangan takut mengkritik, bahkan kalau perlu mengganti pemimpin yang tak becus menyejahterakan dan menenteramkan rakyat…”

Usai pembacaan, seluruh nadi terasa berdenyar, darah mengalir bebas ke mana-mana tanpa hambatan. Badan dan jiwa terasa segar karena sontak aku merasa pulang. Ya, pulang ke rumah sastra, rumah yang telah lama kutinggalkan….

Ah ya, malam itu Tia, Biru, dan Gigih hadir, turut menyaksikan si Bapak kembali “yak-yak-o” di hadapan banyak orang. Semoga saja mereka paham bahwa berbagi itu niscaya, sunatullah, meski sekadar berbagi cerita…


PS: Terimakasih untuk teman-teman (penggerak) Gambang Syafaat, wabilkhusus Wahid yang percaya galau itu indah, Ronny yang selalu siap ngangkat beras dan sound, Arfen yang berani di titik tantang, Adib yang hobi minta maaf padahal telah melayani dengan baik, Amin yang tekun tapi hendak balik ke kalangan Bangbang Wetan, dan Kang Dur yang ngabimanyu dengan lampu merek “Asu”. U’r the best!

Saturday, December 24, 2011

Nggak Harus Barang

PAS hari ulang tahun yang ke-12, Rabu 21 Desember 2011, Biru mendapat ajakan menarik dari Bryan, teman sekolahnya: renang di Water Blaster! “Boleh nggak?” tanyanya pada sang ibu. Entik menjawab cepat, “Bolehlah. Beneran malah. Ibuk sama Bapak nggak usah ngulangtahuni… hehehe.”

Sebelum Bryan beserta ayah-ibunya menjemput dan berangkat, ajakan lewat SMS bertambah: nonton film di Paragon usai renang dan pulang pukul 9 malam. “Boleh nggak?” tanya Biru lagi. Kali ini Entik tegas, “Nggak. Sebelum atau pas magrib udah harus di rumah.”

Namanya juga anak-anak. Sore-sore, gantian Bryan minta persetujuan lewat SMS: Bilal boleh ikut nonton nggak? Dan aku yang menjawab, “Bilal ulang tahun hari ini. Kami perlu merayakannya di rumah.” Sebelum magriban di masjid usai, Biru telah kembali.

“Gimana, Pak?” bisik Entik.

“Apanya?”

“Ya ulang tahunnya? Ibuk nggak masak lho… Rotinya juga belum ada.”

Aku nyengir. Lha iya, minta Biru pulang sebelum magrib untuk “merayakan” tapi kok nggak siap babar-blas. Akhirnya, diam-diam Entik kirim SMS ke Tia yang sedang cetak foto di kota untuk sekalian beli kue tart. Begitu Tia datang, kue itu aku sembunyikan di dalam kamar, di atas lemari pakaian.

Setelah “berdebat” sejenak, kami sepakat makan malam di luar, di warung mi jowo mas jenggot.Saat kami beriringan ke jalan raya, si Langit klayu. Semula kami ragu tapi karena kucing itu tampak “bersemangat” turut, ya sudah, kami biarkan ia berlarian di kiri-kanan kami. Sesampai di warung, Tia yang bertugas menggendong Langit saat menyeberang jalan, melepaskannya karena kucing itu terus meronta. Yang terjadi kemudian: Entik, Tia, dan Biru “mengejar” Langit yang berlarian panik di dideretan ruko. Syukurlah akhirnya tertangkap. “Antar pulang dulu aja sana,” kata Entik.

Tia dan Biru terpaksa balik ke rumah. Lamaaaaa tak nongol-nongol juga. Ketika kembali ke warung, keduanya berebut cerita tentang Langit yang tak mau ditinggal. Keputusan terakhir: masukkan rumah dan kunci. Tak terhindar, sambil makan mi jowo, kami terus-menerus memperbincangkan Langit sampai lupa bahwa yang ulang tahun Biru, bukan kucing itu.

SEPULANG dari warung mi, Entik menyalakan lilin di atas kue tart dalam kamar, lalu keluar sambil menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”, sama dengan yang anak-anak lakukan tempo hari padaku. Meski tak sekaget aku, tetap saja Biru terperanjat. “Oh, ada roti to? Kapan belinya? Perasaan tadi Mbak Tia pulang nggak bawa roti…” Gigih yang menyahut, “Bawa, Mas… Kamu aja yang nggak tahu.”

Di tengah haha-hihi ketika Biru menyampaikan keinginan untuk tahun depan, antara lain lebih rajin belajar, rajin ngaji, rajin sholat, dan sunat (!), Gigih bertanya, “Mas, tadi siang itu, Mas Bryan tahu nggak kamu lagi ulang tahun?”

“Ya tahu to ya.”

“Trus, Mas Bryan ngasih hadiah nggak?”

“Lha renang di Water Blaster itu apa? Hadiah kan nggak harus barang, Gih.”

“Ooo… gitu.”

“Peluang emas” yang muncul tak terduga itu kutangkap dan manfaatkan sebaik-baiknya. Kurengkuh pundak Biru dan kukatakan dengan suara berat kebapakan, “Mas Biru betul, Gih. Hadiah memang nggak harus berbentuk barang. Karena itu, malam ini, Bapak kasih hadiah doa aja ya, Mas…”

Biru mengangguk dan tertawa dengan ekspresi antara “asem ik” dan menerima.

Thursday, December 22, 2011

Menginginkan Yang Terbaik

INI cerita carangan: silang pertemanan di dunia maya mengantarku bertemu Jetty Maika, salah satu balerina terkemuka Indonesia, Kamis 8 Desember 2011, di Bandara Soekarno-Hatta. Itu kencan kedua setelah kencan pertama, Senin 5 Desember 2011, gagal karena aku bangun kesiangan. Garuda terpagi tak lagi siaga di Bandara Ahmad Yani. Saat aku SMS, akan terbang pada jam berikutnya, dia menjawab: saya sudah nunggu di bandara, Mas. Duh! Isin aku…

“Pukul tujuh Garuda nggak terbang. Pukul setengah sepuluh, penuh. Setengah dua bisa tapi ya nggak akan efektif karena pukul empat saya harus check-in untuk balik ke Semarang. Kalau besok aja gimana?” teleponku Senin pagi itu dengan perasaan khawatir Jetty akan kian kecewa atau malah marah.

Yang kudengar ternyata suara renyah perempuan yang membayang amat ramah. “Iya Mas, bener. Tapi besok saya nggak bisa. Saya kontak Mbak Nana dulu ya, gimana enaknya…. Kapan bisa ketemu kita selain hari ini dan besok.”

Tujuan kami bertemu, selain agar lebih kenal, juga hendak membahas penyuntingan dan penerbitan buku dengan Nana Lystiani, editor life-style Gramedia Pustaka Utama. Aku menunggu beberapa waktu sampai kemudian Jetty menelepon, “Mbak Nana bisa hari Kamis, Mas… Longgar banget katanya. Saya juga bisa. Mas Budi bisa kan?” Tanpa pikir panjang, sebagai sebuah tebusan, aku menjawab, “Bisa!”

“Tapi jangan terlambat lagi ya, Mas?” pintanya.

Aku tertawa jengah. “Nggaklah. Rabu malam saya akan tidur lebih awal, lalu bangun lebih pagi. Soal hari ini, ya, untuk bertemu perempuan hebat memang harus ada drama…” Kudengar suara tawa Jetty yang (lagi-lagi) renyah.

“INI Mas, saya di sini! Saya sudah lihat Mas Budi!” kata Jetty saat aku menelepon sekeluar dari pintu kedatangan. Kucari sosoknya dan kutemukan di gerai makanan cepat saji: perempuan ramping, berkulit putih, berambut panjang terjepit sebagian, berdiri melambai-lambai dengan senyum yang sangat menyambut.

Kami berjabat-erat seperti sahabat yang lama terpisah waktu dan jarak. “Jetty, Mas. Ini kakak saya… Dia yang nganter saya ke mana-mana selama di Jakarta. Duduk, Mas. Oh ya, belum sarapan kan? Silakan pesan dulu…” katanya dalam satu tarikan nafas. Seketika aku ingin memotret wajah riangnya tapi kutahan. Kupendam.

“Baru pukul tujuh, terlalu pagi untuk sarapan. Saya biasa sarapan pukul sepuluh,” sahutku sambil duduk setelah bersalaman dengan Mas Yapi, kakak Jetty.

Lalu, ajaib benar, kami ngobrol begitu saja, mengalir ke mana suka. Dari soal penerbangan, kemacetan, pekerjaan, buku, sampai keluarga. Di sesela itu aku mengatakan, “Apa pun penyebabnya, hari inilah waktu kita bertemu, bukan Senin lalu. Saya yang terlambat, penerbangan yang penuh, penundaan, hanya alur yang memilih waktu pertemuan, hari ini, bukan hari yang lain.”

“Wah, enak sekali kalau bisa begitu ya, Mas. Nggak mudah panik, nggak mudah kecewa, nggak mudah nyesel, nggak mudah stres. Suami saya juga suka begitu…. santai orangnya. Kapan ya saya bisa begitu?”

“Pulang ke Jakarta sekeluarga?” tanyaku.

“Nggak. Cuma sama Vaya. Kakaknya, Rava, nggak ikut karena sibuk sekolah, begitupun suami yang memang kerja di Kuala Lumpur,” tutur Jetty yang kemudian berbelok cerita tentang kebiasaan “menghilang” suaminya ke sudut-sudut kota. “Dia suka banget travelling, Mas. Saat anak-anak masih kecil, kami sering melakukan perjalanan bersama. Kadang-kadang ke luar negeri, tak jarang cukup ke pelosok Kuala Lumpur. Sekarang, susah Mas… Anak-anak sudah gede, punya kesibukan sendiri-sendiri. “

“Lho, malah enak kan, bisa pergi berdua dengan suami?”

Jetty membelalak lucu, lalu tertawa, geleng-geleng kepala. “Nggak bisa, Mas… Pergi tanpa mereka, selalu… apa ya? Ada feeling guilty. Jalan-jalan sendiri, senang-senang sendiri, rasanya gimanaaaa gitu. Dan saya memang nggak bisa ninggalin mereka tanpa saya sendiri stres. Untuk anak-anak, saya ingin semua terencana dan terjadwal. Saya selalu memastikan mereka tidur dan bangun pada waktunya, nggak terlambat berangkat sekolah, mengerjakan PR, merapikan kamar…. Sampai-sampai suami bilang, kalau begitu caranya, kamu nggak akan bisa tenang. Hahaha! Saya setuju tapi mau gimana lagi? Untuk anak-anak, saya bener-bener ingin yang terbaik.”

OBROLAN berlanjut di sepanjang perjalanan menuju kantor Kompas-Gramedia, saat makan siang di Mal Taman Anggrek, pun dalam perjalanan balik ke Bandara Soekarno-Hatta. Meski porsi terbesar soal balet, karena dia balerina dan aku sungguh ingin tahu soal tari itu, topik tetap bebas ke mana-mana namun ke satu muara: (masa depan) anak-anak dan keluarga. Ini misalnya: “Vaya umur sebelas tahun sekarang. Dia sangat berbakat dan bertekad jadi penari balet klasik seperti saya. Biar fokus, sekolahnya ya homeschooling aja. Sedangkan Rava lebih menonjol di bidang akademik, ya biarlah dia meraih cita-cita melalui jalur sekolah.”

Nyaris seharian, termasuk lewat spion-dalam mobil, tak lepas-lepas aku menatap Jetty yang amat ekspresif ketika bercerita. Wajahnya berubah-ubah sesuai dengan emosi yang sedang menjadi latar kisah, namun ada satu yang tak hilang: mata yang bersinar-sinar dan senyum di ujung tuturan.

Sembari mendengar dan menatap itu, kucatat dalam benak: sebagai orangtua, meski berbeda keadaan dan gaya, kami ini sama: senantiasa menginginkan yang terbaik untuk anak-anak. Dulu hidup untuk diri sendiri, sekarang hidup untuk mereka….

PS: Terimakasih tak tertara untuk Gaganawati Stegmann yang menjadi penyebab pertemuan ini.

Sunday, December 18, 2011

Ruh yang Saling Mencinta

DI TENGAH kesibukan mengelilingkan kumpulan cerpen Nyanyian Penggali Kubur karya Gunawan Budi Susanto ke kampus dan komunitas sastra, pun kegiatan lain yang berhubungan dengan profesiku sebagai “lelaki panggilan”, Senin 12 Desember 2011 kukosongkan. Undangan diskusi tak kuhadiri, permintaan talkshow di televisi (lokal) juga kutolak. Aku hanya ingin di rumah, “menunggu” anak istri merayakan atau minimal mengucapkan selamat ulang tahun untukku.

Biasanya, pagi-pagi, Entik menjadi pengucap pertama sambil cium pipi. Tapi tidak untuk kali ini. Karena berniat hanya “menunggu”, aku pun pura-pura tak terganggu oleh perubahan kebiasaan itu. Sampai agak siang, setelah upacara kecil berdua saja, barulah dia berucap, “Met ulang tahun ya, Pak…” Aku tersenyum, membalas ucapan itu dengan pelukan.

Anak-anak? Sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda ingat bahwa bapak mereka ulang tahun. Tapi menjelang sore, ketika Entik memberitahu bahwa Bapak pengin makan-makan di KFC, Biru keprucut, “Bapak pengin hadiah apa?” Tia buru-buru menegur, “Biru! Sssttttt….!” Yang ditegur segera pula menyahut, “Apa? Aku bilang apa?” Sambil ketawa, Tia menjawab, “Kan kita udah sepakat pura-pura lupa Bapak ulang tahun hari ini.” Oalah… Maka harapan dapat perayaan pun muncul lagi.

Bakda magrib, kami ke Jamol. Setelah tengok-tengok buku di Gramedia, kami makan malam di KFC yang bersiap-siap tutup. Tia motret beberapa kali. Selebihnya, ya, ngobrol dan makan. Tak ada ucapan ulang tahun, apalagi hadiah atau kado, sampai pulang, sampai tiba di rumah. Tiba-tiba, menjelang tidur, aku merasa kesepian. Terlupakan.

SELASA, 13 Desember 2011, kembali ke kesibukan. Sejak pagi, bersama Kang Putu, aku berbagi proses kreatif menulis cerpen dengan guru-guru Bahasa Indonesia SMP di Kompleks Kalireyeng Kendal. Sore sepulang dari Kendal, aku bersegera mandi dan tidur agar kembali segar. Apalagi ada rencana menghadiri Malam Rebo Legen Sanggar Paramesthi di Taman Budaya Raden Saleh, bakda isyak.

Selepas magrib, setelah menemani Gigih ngaji, di ruang tamu aku tergeragap ketika mendengar suara pintu kamar yang terbuka dan Biru menyanyi sembari tertawa, “Selamat… ulang tahun… Kami ucapkan…!!!” Aku menoleh. Ah, dia membawa roti tart dengan empat lilin kecil menyala di atasnya. Tia dan Gigih mengiringi dengan tawa senang karena berhasil memberikan kejutan. Entik yang sejak tadi di depanku pun turut tertawa. Dia tahu! Dia turut dalam “persekongkolan” itu! Benar-benar tak terduga karena tanggal 12 sudah lewat.

Aku hanya bisa mesam-mesem tak jelas: antara senang dan malu karena kemarin merasa terlupakan. Maka manut saja aku ketika mereka memintaku untuk tiup lilin setelah Biru mematikan lampu. Manut juga ketika Tia memintaku untuk mengulang adegan karena tiupan yang tadi belum terpotret.

“Apa resolusi Bapak untuk tahun depan?” tanya Entik. Aku, terus terang, bingung juga. Begitu banyak yang belum teraih hingga hari ini. Maka kusebut yang paling umum, “Lebih banyak buku, lebih banyak penerbitan… dan keluarga ini sehat sentosa.” Serempak mereka mengamini. Lalu segera potong dan makan kue karena Gigih sudah tak sabar menunggu.

“Boleh Bapak meminta sesuatu, terutama pada Mbak Tia, Mas Biru, dan Gigih?” tanyaku kemudian. Setelah mereka siap mendengarkan, aku berujar, “Dulu, saat salah seorang sahabat bertanya, ‘Siapa orang yang wajib aku hormati, ya Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu.’ Sahabat kembali bertanya, ‘Siapa lagi, ya Rasulullah?” Dia mendapat jawaban yang sama, ‘Ibumu.” Bertanya lagi, jawaban masih sama, ‘Ibumu.’ Bertanya lagi, barulah Rasulullah menjawab, ‘Bapakmu.’

“Nah, mengikuti sabda Rasulullah itu, sekarang Bapak sungguh-sungguh meminta pada Mbak Tia, Mas Biru, dan Gigih… Bantulah Ibuk, bantulah Ibuk, bantulah Ibuk….. Lakukan apa saja yang meringankan pekerjaan Ibuk di rumah agar Ibuk tidak terlalu capek. Belajar silakan, main silakan, melakukan kegiatan yang lain silakan tapi jangan pernah lupa membantu Ibuk. Tak usah menunggu disuruh atau diperintah. Disuruh itu tak enak, diperintah apalagi. Ya kan? Dan jangan pernah mengira terus-terusan menyuruh atau memerintah itu tak capek. Capek juga…

“Khusus untuk Mbak Tia… manfaatkan waktu yang sangat longgar itu sebaik-baiknya untuk lebih cepat mandiri. Sejarah bukanlah peristiwa pada masa lalu yang jauh, sejarah adalah sepersekian detik yang baru saja berlalu. Kita tak bisa menariknya kembali ke sini, ke kini… Begitu lewat, ya lewat. Ingat, siapa pun yang merasa memiliki banyak waktu, biasanya malah kehilangan lebih banyak waktu…”

Semua diam sampai aku bilang, “Sudah, itu saja.”

RABU, 14 Desember 2011, sekitar pukul 9 pagi, bersama rombongan anjangsana sastra Nyanyian Penggali Kubur aku meluncur ke Universitas Muria Kudus. Bedah buku dari perspektif sastra dan sejarah sampai siang. Setelah itu, kami bertandang ke Padepokan Seni Olah-olah untuk istirahat sekaligus mempersiapkan pementasan malam harinya.

Balik ke Semarang lewat tengah malam. Setelah makan di nasi liwet lesehan Simpanglima, kami bubar, pulang. Sampai di rumah, tentu saja anak-anak sudah tidur. Di kamar, di atas meja kerja, kudapati sebuah kado yang rapi. Kejutan apa dan dari siapa lagi ini? “Tia yang naruh tadi,” kata Entik yang terjaga karena mesti membukakan pintu.

Tak sabar, tergesa kubuka. Sebuah pigura dengan foto susun tiga: kue tart, foto kami berlima, dan foto saat Entik menyuapiku di KFC. So sweet…. Ingin rasanya aku masuk kamar Tia dan mencium pipinya –seperti saat dia kanak-kanak dulu. Ingin sekali. Tapi tak kulakukan. Selain karena dia sudah besar, juga karena aku tak mau mengusik tidur dan mimpinya.

Meski badan kadang-kadang bertengkar, sesungguhnyalah ruh kami saling mencinta. Kami sekeluarga.