SEJAK SMP aku sering manggung. Berawal dari nyanyi di depan kelas, baca puisi di arena ulang tahun atau pesta pernikahan sehingga tak perlu bawa kado apa pun, eksibisi pencak-silat, sampai menjadi “dirigen” kasidah dengan alat musik terbang (lengkap), gitar, bas betot, pianika, dan angklung. Ketika mental menebal, selain membuat grup musik akustik bersama lima teman sekolah, aku juga berani nyanyi sambil memainkan gitar pinjaman, sendirian. Saat itu sebenarnya sudah coba-coba menulis puisi, cerpen, dan drama namun kalah oleh “hawa” pentas ke sana kemari. “Hawa” yang tak hilang ketika SMA dan berlanjut ke perguruan tinggi.
Karena itulah, demam panggung telah lama menjadi semacam “mitos” yang tak kupercayai sama sekali. Sepanjang niat pentas sudah bulat, aku selalu main sasak! Yang nonton satu atau seratus orang, sama saja. Aku tak pernah menganggap penonton sebagai semut agar tak grogi seperti saran para guru. Sebab, selain mana ada semut bisa tepuk tangan atau malah sorak-sorak menyuruh orang turun panggung, juga karena aku lebih suka “menghadapi kenyataan” di depan mata. Pede tak gentarlah pokoknya. Lagi pula, untuk apa pentas kalau yang nonton cuma semut?
Demam panggung yang telah kutaklukkan itu ternyata muncul lagi dengan kemeriangan yang lebih dahsyat. Bukan! Bukan ketika aku pentas baca cerpen, misalnya, melainkan ketika (hendak) menyaksikan anak-anak kami manggung. Wow! Sungguh tak menyangka, saat menunggu mereka bersiap di sisi atau belakang panggung saja, rusuh-riuh jiwa-raga sampai menelan minuman pun susah rasanya.
Semasa TK, Tia pernah pentas nari, ramai-ramai. Sebelum hingga sepanjang pertunjukan, perutku muleeeees terus. Semula aku berpikir, “Ah, ini pasti hanya karena baru punya anak satu. Pengalaman pertama. Nanti anak kedua atau ketiga, tentu biasa-biasa saja.”
Ternyata, tidak. Demam panggung itu tetap ada saat nonton Biru pentas nari, bahkan drama, bersama teman-teman TK-nya. Saat dia kali pertama ngemsi dalam acara perpisahan kelas VI di sekolah, wuaah, jangankan dia mengucap atau bertingkah salah, betul dan bagus pun tetap bikin jantung ini berdegup lebih kencang. Untungnya, karena suka motret, aku bisa bersembunyi di balik kesibukan jeprat-jepret, termasuk membidik obyek-obyek yang tak jelas atas nama fotografi. Padahal, aslinya, sedang menghalau demam.
Pernah aku gemetaran ketika Gigih hendak naik panggung dalam lomba hafalan surah pendek. Dan, celaka tiga belas, saat itu aku sedang tidak berkamera. Tak bisa pura-pura sibuk. Hanya bisa menonton. Ketika dia mengucap salam pembuka, alamak, nafasku nyangkut di tenggorokan sampai dia mengucap salam penutup dan turun. Kusambut kupeluk dia dengan kelegaan sawah kering tertimpa hujan. “Heeehhhhh…. Makan yuk!” ajak Entik yang tak kalah demam sampai telapak tangannya basah oleh keringat.

TANGGAL 11 Februari lalu, bersama guru dan teman-temannya, Biru pentas “musik rombeng” dalam “Semarang Education Expo 2012” di atrium Java Supermall. Kami serumah datang untuk jadi suporter. Saat Biru turut menaikkan dan menata alat musik dari berbagai barang bekas itu ke atas panggung, aku merasa dia sudah mulai bisa menguasai “demam”-nya sendiri. Dia tak hanya meletakkan alat sesuai dengan instruksi guru tapi juga mengubah atau membetulkan penempatan yang keliru. Ah, punya bakat memimpin juga dia.
Naaaa…. ketika grup “musik rombeng” itu ambil posisi masing-masing, diam, menunduk, alunan kibor mengalun dari sisi bawah panggung, mataku fokus ke Biru yang jadi “penabuh tempat duduk”. Demam yang lebih dahsyat kembali menyerang. Aku tahan nafas dengan duduk tegak bersedekap. Entik pun diam, pastilah sama, meriang luar dalam. Gigih nonton persis di depan pentas sana. Tia ambil posisi siap motret dekat panggung juga.
Di sepanjang lagu “Yamko Rambe Yamko” yang mereka mainkan dan nyanyikan dengan riang-gembira, sesekali aku mengalihkan pandang dari Biru yang tampak menikmati benar tugas “menabuh tempat duduk” itu. Kadang-kadang ke penampil yang lain, kadang-kadang ke Gigih yang nonton kakaknya sambil melompong, kadang-kadang ke Tia yang berasyik-asyik dengan kamera.
Demam panggung yang kurasakan di awal pelan-pelan menghilang dan berganti dengan keharuan. Tak tahu dan tak bisa aku menggambarkan keharuan macam apa ini. Aku hanya diam dengan mata yang kurasa berkaca-kaca. Apalagi kemudian Entik berbisik, “Pak… Ibuk terpesona…”
Pada saat-saat seperti itu, selalu aku bersyukur sekaligus mohon ampun pada Tuhan karena…. Ah! Maaf, tak bisa dan tak boleh kutulis di sini. Biarlah kusimpan dalam hati, sendiri…








