Wednesday, January 07, 2009

Hingga Lupa

kita duduk di sebuah bangku
menikmati bubur ayam dan teh manis
setelah semalaman berbincang
tentang banyak tentang

berapa kali pagi
kita begini
tanyaku

kita saling pandang
sebentar
menggaruk-nggaruk kepala
sebentar
lalu tertawa
berlama-lama....

hingga lupa

16 comments:

lusysyarifa said...

kita berbincang tentang "rubrik tentang" di Media Indonesia barangkali,...

wahyu said...

pasti lupa bayar tuh hehe....

Anonymous said...

btw, lipa nggak ngirim buku ke aku?.miftah.

angin-berbisik said...

produktif banget bapak satu ini...hehehe

Shun said...

Sastra itu apa pak? ^^

Mena Larasati said...

Salam perkenalan pak, moga memberi berkah untuk ku yang sedang mencoba melangkah menuju ujung dunia untukku singgah.
hihihi....pak bolehkah aku bertanya? bagaimana membuat puisi yang lebih berisi dan berarti? dan bagaimana caranya agar karya kita bisa dipublikasikan pada khalayak umum?
Terima kasih sebelumnya...

chubby said...

negeri lupa
di mana berada?

ismun'vies'faidah said...

segalanya hidup dalam perbincangan
dan tenggelam dalam beku kata
hingga....

awie said...

karena asik berbincang sehingga kadang kita lupa usia,tanpa sadar kita udah setengah abad yo to kang budi???

Bulan Luka said...

lusy = jadi nggak tuh? Kalo nggak, pesimistis gw terhadap "masa depan" antum dkk. Haha...

wahyu = pasti kau sering lupa bayar. Iya kan?

miftah = bener, kau sms alamat lagi.

angin = mari beria, mari berlupa (kata Chairil)

shun = Ngeceeee!!!!

mena = wuaduh, kok ngasih PR sulit gitu. Ikuti "Nulis Puisi Bareng Om Daktur" di Edisi Minggu Suara Merdeka aja. Banyak ilmu ngawur di situ. Suer! Eh, lam kenal balik.

chuuby = di mana lagi kalo bukan di sini.

vie's = kau sedang belajar mengeja, sabarlah...

awie = "Ciaaaa!!!" Eh, kukontak hape kau, kok gak nyambung? Udah dijual? Hahahaha....

awie said...

02825293696,wedew ketahuan nich malu aku

Anonymous said...

nggak perlu, mas. Miftah

Anonymous said...

semoga minggu besok aku bisa dateng di kaligawe. so aku nggak perlu sms alamat to?. bukunya bawa. jangan lupa lagi lo... MIftah.

ryendzoom said...

salam kenal, senang bisa membaca puisi di ruangan ini. saya senang menulis apa saja dan juga tentang keinginan abadi

ryendzoom said...

Ingin segera aku satukan

Segala langkah pada jalanmu

Sekiranya aku rapatkan segala keinginan

Pada muaramu, terpenuhilah segala harapan

Wahai harapan

Sedikitkanlah keinginan

Seringkali aku melihatmu mengejar bayangan

Menyiksa langkah

Menjajah pikiran serta perasaan

Hingga tak tenang jua

Sedang kau tidak tahu menahu betapa tersiksanya adaku

Seperti kehidupanku

Bukanlah aku

Seperti adaku adalah wujud pemaksaan

Bukankah segala keinginan

Adalah kebutuhan tiada batas

Seringkali aku saksikan segalanya terpenuhi

Namun tak tentu sebagaimana kau butuhkan

Wahai harapan

Wahai mimpi

Wahai keinginan

Wahai kebutuhan

Biarkan keinginan tetap abadi

Untuk menghidupkan segala mimpi

Dan sekiranya keinginan tetap abadi

Abadilah ada tiadaku.

Karena akan datang kematian

Membawa segala keinginan

Maka abadilah ada tiadaku

Dan ada tiadaku

Adalah wujud keinginan abadi


http://ryendzumaroh.blogspot.com/2008/11/keinginan-abadi.html

Bulan Luka said...

miftah = wis lho ya, lunas utangku padamu.

ryend = lam kenal juga, seneng ada yang suka nulis puisi. Dan puisi kau tentang "harapan" itu, wah!