Saturday, January 24, 2009

Beratus Tahun Kemudian

"JADI bagaimana, kita menerabas atau menunggu hujan reda?" tanyamu ketika bom pertama menghantam Jalur Gaza. Aku lupa mencatat, kita sedang bicara tentang perang atau cuma hati yang termangu di tubir jurang. Kau mendesak dengan mata dan aku mengangguk tanpa kepala. "Baiklah kalau begitu," katamu. Beratus tahun kemudian, kau duduk aku berdiri, sama-sama kedinginan, beku, dalam kerumunan anak-anak yang belajar tentang sejarah sebuah kota tua.

7 comments:

awie said...

bukunya dah sampai tinggal sekarang kewajibanku hehehe
pertamax nich

beratus tahun kemudian kita hanya meninggalkan sejarah untuk anak cucu kita ya kan kang budi maryonoooo

Soeryani Atmadja said...

Pak Budi, tulisannya sekarang makin keren aja ya...

--Faiqoh Fauzie-- said...

nggak nyangka, ada yang heran plus complain juga ngeliat aku mampir posting comment di blog ini.
katanya, "kok yo bisa nyasar di blognya P.Budi?".
"emangnya yang kenal P.Budi coman lo doank???", batinku sambil nyolot plus ngakak.... wakakakakak

amethys said...

laah seratus th yg lalu mereka sudah perang2 an terus jeh....seratus taun kedepan??? hihihi...dak bakalan beku kedinginan koq...(wong sekarang aku kedinginan tapi ndak beku blas kij??)

Bulan Luka said...

awie = mungkin begitu.

yani = aduh ya, merah dadu pipi ini (hah?)

faiqoh = aku sedang membayangkan batin yang ngakak sekaligus seneng ada orang tersesat ke blog yang benar. Hahaha....

amethys = ada yang beku di luar, ada yang beku di dalam.

indri said...

sulit...sulittt

cuman mau tanya

kalian itu apa???

goresan pena said...

hanya mau bilang...history written by the winning general...

apa kita bisa mencatat sejarah? mungkin....