Saturday, March 07, 2009

Sebelum Pentas


SEPEKAN lalu, Sekolah Alam Ar-Ridho menyelenggarakan Book Week. Selain bazar buku, banyak kegiatan lain yang "enak dipandang", terutama market day (para murid berjualan) dan talent show (para murid unjuk kebolehan).

Nah, selain ikut lomba membuat pembatas buku dan pulang sekolah teriak, "Buuukkk... aku kalaaaaahhh!!!", Biru turut talent show bersama teman sekelas. Mereka main "drama" dan Biru jadi pemain basket. Cilaka 12-nya, dia baru memberi tahu malam sebelum pentas. "Pak, aku nggak punya kaos basket lho. Masak pemain basket pakai kaos sepak bola?"

Ya sudah, malam itu juga, aku dan Biru menembus gerimis ke Swalayan Ada. Langsung menuju pojok kaos olah raga. "Ini, Mas?" Biru mengangguk. "Tapi yang besar lho," katanya. Biru umur 9 tahun, kaos itu nomor 8. AKu segera tanya pada pelayan, "Yang nomor 9 ada, Mbak?" Pelayan itu mencari di tumpukan dengan sikap ogah-ogahan. Ketemu. "Coba dulu," kataku pada Biru dan kami masuk ke kamar pas.

"Wah, kurang gede ini, Pak."
"Ini pas, Mas. Nomor 9. Nggak kekecilen, nggak kebesaren."
"Tapi celananya nggak nutup lutut, nggak nutup aurat."
"Lhah, mau olah raga kok mikir aurat?"
"Kalau nggak nutup aurat, nggak boleh sama Bu Kasmi."
"Ya diplorotke dikit to."

Biru memelorotkan sedikit celana itu, lalu jongkok. "Tapi kalau jongkok gini, celanya naik dan lututku kelihatan..."

"Keteknya juga kelihatan," godaku.
"Wah, iya ya..."
"Ketek bukan aurat laki-laki, Mas. Aurat laki-laki itu pusar sampai bawah lutut."
"Ya wis, aman, yang penting lutut tertutup."

Aku menyerah. "Ya wis, kita cari nomor 10." Kami keluar dari kamar pas dan aku bertanya pada pelayan. "Yang nomor 10 ada, Mbak?" Cepat dia menjawab cepat dan cuek, "Nggak ada." Jengkel, tapi aku pendam. Aku cari sendiri di tumpukan dan menemukan kaos nomor 11. "Yang gede sekalian ya, Mas, biar pasti aurat bernama lutut itu tertutup?" Biru mengangguk. Beres.

Di kasir, dia mengeluarkan uang Rp 15.000 dari saku. "Nih, aku ikut bayar dari uang tabunganku," katanya. Surprise! Tapi saat aku bayar pakai kartu, dia langsung protes, "Lho, nggak pakai uang to? Sini, kembaliin!" Aku ketawa. "Ya nggak bisa, Mas, wis kadung."

Esoknya, sambil menunggu naik panggung, Biru tampak menikmati kaos barunya: kaos engklek itu. Beberapa menit dia menghilang dari sekitar panggung, balik lagi sudah berkaos tumpuk. Oblong di dalam, kaos basket di luar. Keteknya tak kelihatan.

"Lho, kok rangkepan, Mas?"
"Banyak yang usil."
"Lhah, kamu itu, main jadi atlet kok ribet sama aurat."

Biru tak menjawab. Menghilang lagi. Kemudian... "Pak!!!" panggilnya saat aku asyik motret anak-anak yang sedang jualan es. Aku menoleh. Dia mendekat. "Kata Bu Kasmi, aku ini pemain basket islami."

"Iya, sip!!!" sahutku, lalu aku potret dia. Gayanya, bener-bener seperti pemain basket (islami). Hehehe...

14 comments:

kenny said...

hehehe, baru denger nih pemaen basket (islami), untung gak disuruh diatas polok :D. Tambah besar tambah ganteng aja si biru.

Anonymous said...
This post has been removed by a blog administrator.
lutfi Syarifudin said...

jadi tukang komen islami ah,..

nek di LN, komentar di atasku tu dah dilaporin polisi lo...nyepam tiba2,..kek gini yg bikin blog KB di blogspot dulu kena pirus,..

Bulan Luka said...

kenny = Iyah, kalo di atas polok bisa berangkat "jihad" tuh.

lutfi = sudahlah, biarkan saja...

Wiwien Wintarto said...

pebasket islamine kurang peci..
emang dhuwure lutfi nulis opo?

pujanggapelangimalam said...

om daktur yang baek hati

saya pujangga salam kenal dari saya,
kalo om mau silakan liat blog puisi saya ya. saya menunggu komentar dari om.

tq

ignatiussuparyanto said...

Salam kenal. Gimana memompa semangat untuk terus menulis disaat mood atau lagi tidak mood. trims

mukidi said...

bagus banget tulisannya, wah senang ini kalau bisa belajar.
salam kenal

mukidi
http://mukidi.wordpress.com

Bulan Luka said...

wiwien = suk kusuruh pakai pecis kaji. Ra jelas.

pujangga = insya Allah. Tx udah mampir, entar ada kunjungan balasan deh,

ignatius = salam kenal juga. Jawaban ada di buku "Cara Keren Nulis Cerpen". Buruan beli dan baca. Hehe... Setelah itu, boleh kok tanya-tanya via email.

mukidi = seneng juga ketemu yang sama-sama suka belajar.

goresan pena said...

hihi...asipp...pemaen basket islaminya...

pak mau koment yang penjaga toko males2an...gitu juga tuh kalo' ke jogja...ada sebuah toko yang sangat dihapal deh tabiat pemalas pekerjanya... sayang, namanya lumayan besar, pemiliknya baik lagi...namanya Pam**a...hehe...

Esti Durahsanti said...

Biru ngganteng mas, pasti karena maknya :)

ismun faidah said...

Esti: tepatnya kayak bapaknya. lha bapaknya juga ganteng. huakakak.... (jangan ge-er lho, pak!)

amethys said...

ih biru ganteng oiiiii....

wah klo di toko di Indonesia tuh pramuniaga yg cantik2 nya emang njelehi...aku pernah megang2 baju di matahari, eh mosok penjaganya ketus banget ngomong.."ini mahal"

galake rek

Bulan Luka said...

pena = itu yang bikin aku males, kerja kok males.

Durah = kenapa kau tak juga percaya bahwa aku ganteng, minimal potensial gantenglah.

ismun = gak, gak GR, stay cool.

amethys = aneh memang, karo dulure dewe kok galak.