Friday, March 20, 2009

Terlalu Biru, Terlalu Biru...

RABU (18/3) siang, usai "ndosen" matakuliah Penulisan Kreatif (Tingkat) Lanjut di FBS Universitas Negeri Semarang (Unnes), aku tengok hape yang sepanjang kuliah main-main tadi kubisukan. Ada empat SMS masuk. Satu di antaranya dari Tia, sulung kami. Isinya: Aku kirimkan kasih sayangku lewat rengkuhan....

Aku terenyak. SMS itu judul salah satu postinganku di blog ini (arsip 2005). Dulu, saat kutulis postingan itu, dia baru saja lulus SD, belum akrab dengan internet, apalagi baca blog ini. Sekarang dia "kelas I SMA" dan tentu saja sudah ke mana-mana. Sesekali dia meninggalkan komentar, karena itu sudah lama kuanggap dia telah membaca semuanya. Ternyata, belum. Ternyata, baru Rabu siang itu dia membaca salah satu momen terpenting dalam hidup kami.

Aku tak bisa langsung membalas karena keharuan yang terlalu biru. Sepulang dari Unnes, karena kelaparan (belum makan siang demi datang tepat waktu pukul satu), mampir aku di warung dan pesan tongseng ati. Sambil menunggu, kubuka dan baca lagi SMS itu. Keharuan masih juga terlalu biru. Kubalas SMS itu: Kau baca juga akhirnya... Tia membalas: I'm proud of u.. my father. . Wis, menahan air mata tak punya kuasa lagi aku.

Pesanan datang, aku segera makan, tapi air mata itu mengundang ingus. Sudah, tak kuat, air mata dan ingus pun jatuh bercampur kuah. Aku berhenti. Kubalas SMS itu: Oalah, Nduk, Bapak makan tongseng ati sambil mbrebes mili ki. Dan jawaban Tia membuat seluruh dunia membiru: Q dah mbrebes dari tadi...

Senang rasanya, anak sedemikian bangga atas diri ini meski harus melalui "adegan" mbrebes mili segala. Tapi bersamaan dengan itu, kesadaran bahwa masih begitu banyak yang belum kulakukan dengan baik untuknya, muncul tiba-tiba. Maka buru-buru aku mohon ampun, waktu, dan petunjuk dari Yang Punya Segala.

NB: Saat kencan berdua nanti, aku akan bilang pada Tia, "Ibuk lebih layak menerima rasa bangga itu...."

17 comments:

kenny said...

sempat buka arsipmu mas...ikutan mbrebes mili tp untung gak pas makan jadi gak nyampur ke kuah :D

rasa malu yg dulu pasti dah berubah menjadi sesuatu yg membanggakan, beruntunglah karena kalian saling memiliki.

Mama Aji said...

Seorang lelaki tidak akan maujud lelaki sejati jika ia tidak cinta kehidupan keluarga. Keluargalah harta termahal ya mas, rumah terindah kita titipan Awloh.

wahyu said...

makan sambil mbrebes mili campur netes ingus,rasane pie kang?

doniriadi.blogspot.com said...

mengharukan....ini kali yang disebut ikatan hati... senangnya punya anak yang telah 'memahami'...meri aku...hehe...

amethys said...

wah tya bener2 sudah dewasa...

selamat, semoga anak2 akan selalu membawa kebahagian bagi ibu dan bapaknya...

Soeryani Atmadja said...

Betapa kuatnya ikatan cinta antara seorang ayah dan anak ya...

Pambajeng "Broer" Argaputra said...

Mas Bud, beberapa kali saya baca ulasan nJenengan di Suara Merdeka Minggu, tapi lupa terus untuk 'jag-jagan' di blog nJenengan. Baru Minggu ini (22/3) niat saya kesampean. Lupa terus, lupa terus. Begitu buka, langsung baca "Terlalu Biru, Terlalu Biru..." Nyess...gitu loh Mas setelah kubaca. Lalu beberapa mulai kubaca. Enake memang klo udah biasa merangkai kata. Pengalaman harian bisa begitu menggoda, seterusnya....menyentuh-nyentuh.
Saya tautkan dalam blog saya ya Mas, blog nJenengan ini.

n i t u t said...

padahal cuma cerita "singkat" tapi kata-katanya bagus .
jadi ikut kebawa suasana .

saya udah sempet baca buku bapak, yang tentang tulis-menulis.
cukup termotivasi buad nulis .
hehe .

sekali-kali kalo sempat,
mampir ke blog saya.
saya butuh saran kritik, tentang tulisan saya .
soalnya saya gag begitu pinter tentang bahasa .
http://kisutanakbawel.blogspot.com

trimakasih .
C=

Bulan Luka said...

kenny = jika kau baca juga tulisan di RelungQ (ada di tautan "silaturahim")...

Mama Aji = Alhamdulillah...

Wahyu = suatu ketika akan kaurasakan itu

Doni = sabar, Bro! Hahaha

Amethys = Amin Allahuma Amin

Yani = Begitulah.. Meski kadang Bapak yang satu ini galak juga. Hehe

Broer = Makasih udah sempat mampir. Plis-plis aja.

Nitut = Oke deh, aku akan jalan-jalan ke sana... Tengkiu

ARIEF FIRHANUSA said...

Hoho, saya paling telat ngasih komentar atas tulisan ini.

Sedikit aja, Mas: Saya sangat-sangat-sangat TERHARU (saya kompak dengan istri: iri).

relungQ said...

SEMUA...
(bapak,ibuk,biru,gigih)
aku banggakan....
^^,

padahal said...

Hedsot di FS Tia dah jadi fotomu yag keren Boz!!

Lutfi,...

Bulan Luka said...

Arie = sering aku iri sama orang, kini ada yang iri sama kami. Hehehe... Alhamdulillah, moda "iri" itu jadi doa untuk semua.

relungQ = kami juga bangga "memiliki" dirimu.

lutfi = itu dia!

Bono Kelana said...

salam kenal pak Boss, saya sering baca di SM, tapi baru kali ini kasih komentar.Tapi tentu nggak pakai mbrebes mili....truss boleh kenal sama tia juga nggak ?

lifs_alive on cyber said...

alahmaaak, bagus banget critannya. memang gambaran dari kehidupan sehari-hari itu selalu alami dan menginspirasi,

--Faiqoh Fauzie-- said...

Langsung pengen buka arsipnya, hiks, sedih...
aku pernah berada di posisi Tia, dan saat itu aku bertanya dalam hati, aku sudah berusaha lahir batin, apakah orang tuaku juga telah melakukannya?

dan pertanyaan itu telah terjawab kemudian, semua sudah berikhtiar, lahir dan batin. dan semua telah kutemukan hikmah di baliknya...

Wiwien Wintarto said...

layak utk dijadikan novel teenlit...