Di meja makan, kami duduk berhadapan.
"Gimana? Berhenti sekarang?" tanyaku soal keinginan (lama) keluar dari Harian Umum Suara Merdeka.
"Ya, sekarang. Jangan lagi-lagi ditunda," jawab Entik, mantap sekali.
"Anak-anak? Selama ini mereka jadi salah satu pertimbangan yang membuatku selalu ragu... "
"Justru karena mereka, Bapak harus berhenti dari Suara Merdeka. Rugi besar kalau sisa umur, energi, kreativitas dan produktivitas yang Bapak punya Bapak habiskan di sana, Bapak akan kerdil dan habis... Demi anak-anak, kita harus lakukan yang memang semestinya kita lakukan..."
"Aku kadang-kadang takut jadi orang yang tak pandai bersyukur. Banyak orang tak punya pekerjaan tetap, apalagi di perusahaan dengan nama besar berkibar-kibar, bingung ketika sakit karena tak punya asuransi kesehatan, tak punya uang tunjangan, tak punya uang perjalanan.... Aku yang sudah punya semua itu, kok malah berhenti, keluar... Kok rasanya tidak bersyukur..."
Entik diam.
"Tapi kalau dibalik, bisa juga tetap bekerja di Suara Merdeka itu salah, kufur nikmat malah. Tuhan telah memberiku begitu banyak anugerah, jalan kreatif, umur, kesehatan, dan tak terhitung din...Kalau semua itu terabaikan, terbengkalai, karena aku tak pandai berbagi perhatian, tak bisa fokus, terus bekerja di perusahaan yang tak menghargai kreativitas dan profesionalitas, terus menggerutu dan bekerja tak ikhlas.... apakah itu tak berarti aku malah kufur nikmat. Kalau bersyukur, mestinya aku fokus, mengambil jalan kreatif yang telah berkali ulang dibukakan oleh Tuhan...."
"Berapa kali Bapak bertanya pada Tuhan? Sudah terjawab sebenarnya kan? Kenapa masih ragu juga?"
"Maklumlah, aku laki-laki, kepala keluarga... Aku berani sengsara sendiri, tapi membawa kau dan anak-anak..."
"Dulu saat berangkat berdua, tanpa pekerjaan tanpa rumah, berani... sekarang ditemani Tia, Biru, dan Gigih... jadi berlima, mestinya tambah berani melangkah dong..."
Aku tertawa kecut. Entik mulai berpikir tak linier, mulai ambil jalan alternatif.
"Kita tak punya persiapan apa-apa. Kita hanya bisa terjun bebas. Tanpa payung, tanpa pengaman apa pun, bahkan tanpa kasur empuk yang akan menerima kita saat terempas ke tanah. Benar-benar terjun bebas!" kataku menunjukkan segala kemungkinan terburuk yang bakal terjadi.
Entik mesem. "Tuhan tahu dan sudah lama menunggu..."
Aku mengangguk. "Ya, menunggu kita, terutama aku, tak hanya bersaksi dengan kata, tapi juga dengan perbuatan nyata bahwa Dia dan hanya Dia tempat bergantung satu-satunya... bukan yang lain, apalagi cuma Suara Merdeka..."
"Lalu?"
"Aku akan bertanya sekali lagi pada-Nya..."
Saturday, August 22, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

6 comments:
Dia pasti sudah menyediakan jalan yang terbaik untuk bapak sekelurga..
aku terharu, pak. pengen seperti bapak, berhenti kuliah. Tapi aku masih mikir kata-kata orang lain (semisal, rugi ya kamu keluar, tinggal skripsi tok)dan memikirkan perasaan orang tua yang mungkin nanti akan sangat kecewa bila saya memutuskan ingin berhanti dari kuliah...
Saya salaut dengan bapak. Semoga kebahagiaan selalu menyertai bapak sekeluarga..
lalu..?
(MIftah)
selalu yang terbaik untuk keluargamu mas=)
yani = aku percaya dlm deg2an. hehe
muji = tengkiu. Eh kalo kuliah, udah nanggung pula, kelarin sekalian
miftah = kau tahu
mei = amiiiinnn...
kamu bukan terjun bebas, kawan...
sebab selalu ada sayap tak terlihat
yg dipasangkan tuhan
kau tahu itu
Post a Comment