Di teras, kami duduk bersisihan. Aku bercerita tentang banyak hal, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan, cita-cita, dan masa depan kami sekeluarga. Juga tentang penghapusan Kantin Banget, halaman remaja Suara Mereka yang bertahun kukelola, berikut sebab pembubaran Geng Kantin Banget sehari sebelumnya yang aku lakukan dengan rasa berat dan kesedihan tak tertakar. "Bapak memang lagi sok ngidir..."
Tia tak banyak berkomentar. Sulung kami itu lebih memilih mendengar, menyerap, semua yang aku katakan. Malam itu, aku benar-benar bapak yang sedang curhat, sekaligus meminta pertimbangan "jalan terbaik" pada anak. "Kebiasaan" yang (seolah) terbalik memang, tapi itu aku lakukan karena Tia --meski berusia enam belas tahun-- "sudah besar", mbarep pula, dan anak yang bakal langsung menerima dampak keputusan "terjun bebas" ini.
Aku ceritakan juga pada Tia, betapa ibuknya sudah sangat mantap melangkah ke arah yang berbeda, karena yakin arah tempuh selama ini tak memberikan peluang perubahan apa-apa. "Gimana, Nduk?" tanyaku saat malam telah berubah menjadi dinihari.
"Sempurnakan saja," jawab Tia. "Kantin Banget tak ada, gengnya sudah bubar, ya redakturnya keluar sekalian..."
"Ini bukan soal Kantin Banget lho Nduk..."
"Aku tahu... Sejak setahun lalu aku sudah merdeka belajar, kini saatnya Bapak merdeka bekerja."
"Jadi kau setuju Bapak ambil langkah terjun bebas? Tanpa payung, tanpa tali pengaman, tanpa kasur yang menunggu di tanah? Bahkan kau pun harus siap turut berkarya, berjuang?"
"Yupz, ayo terjun bebas!"
Azan subuh terdengar. Aku menangis --meski tanpa air mata.
Thursday, August 27, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

6 comments:
dah......lillahita'ala...met terjun bebas...terbanglah sebebas burung, berkicaulah selantang gunung (meletus)......
ntar terjune aku kancani, tenang wae.. tapi aku ngelihat sampeyan ndisik, nek ora ono kasur or payung tetap oke, aku nyusul secepat2nya!
allah maha penyayang ..
ketika terjan tanpa pengaman tapi aman dan selamat setelah terjun ,.
doa adalah senjata ..
=)
aku gak iso ngomong opo opo mas...yang pasti hanya dekat allah saja kita tenang, percaya dan yakin bahwa apapun jalan yang kita tempuh, asal kita selalu mendekat sama yang di atas, pasti selalu terberkati =)
aku selalu simpan sms dari bapak:"selalu ada titik bingung dalam proses. tak hanya satu malah. lewati dengan tabah."
semoga proses itu berjalan indah ya, pak...
sebagai penguat ibadah!
amethys = aku seneng semangatmu ini, ayoh terbang!
abu = nyusul kok ngenteni Paradoks tuh!
relung = maka mari bergandeng tangan - selamanya!
mei = aku selalu mengamini apa yg kau yakini.
reva = ya gitu deh (tx udah mo nyimpen sms itu)
Post a Comment