
SEMINGGU yang lalu, Gigih yang baru saja menikmati hari-hari baru di TK Sekolah Alam Ar-Ridho harus "bolos" karena sakit. Repotnya, seperti Tia dan Biru dulu, dia punya masalah juga dengan puyer dari dokter: menolak. Saat aku bilang, "Kalau gak mau minum obat, gak sembuh-sembuh lho. Kalau gak sembuh-sembuh, gak bisa sekolah...." Eeee... dia malah tanya, "Sekolah itu untuk apa to, Pak?"
"Ya biar kamu punya lebih banyak teman..." jawabku.
"Terus?"
"Ya biar kamu bisa lebih sering main di luar..."
"Terus?"
"Hmmm... biar kamu lebih pintar..."
"Apalagi?"
"Udah."
"Oooo.... gitu..."
Sudah. Dia tak bertanya lagi. Dia lakukan hal lain seolah tak pernah bertanya dan tak mendengar jawaban apa pun. Terus terang, jawaban itu jawaban asal. Aslinya, aku kesulitan menjawab. Bukan karena pertanyaannya, melainkan karena yang bertanya: bungsu kami yang berumur empat tahun itu.
Lewat pertanyaan serupa. Gigih pernah membuatku cep-klakep dan tak bisa tidak aku pilih jalan ngeles karena memang benar-benar tak siap memberikan jawaban. Dalam perjalanan pulang sekolah, naik motor di jalan tembus (jalan setapak menurun) dekat rumah, tiba-tiba dia bertanya, "Kita kok harus sholat itu kenapa to, Pak?"
Apa jawabku? "Aduh, Bapak gak bisa dengar dengan jelas. Tanya lagi nanti di rumah ya..." Gigih mengangguk tapi setelah itu langsung bertanya dengan suara lebih kenceng, "Kita kok harus sholat kenapa?"
Jawaban asal pun keluar, "Kenapa ya? Ya biar kita dekat sama Tuhan dan tenteram."
"Tenteram itu apa?"
DHUENG!!!!!
PS: Untung segera sampai rumah dan begitu ketemu sang Ibu, Gigih lupa pada pertanyaan yang "merepotkan"-ku itu.

4 comments:
susahnya jadi orang tua....
salam kenal.... memang butuh perjuangan dan kesabaran
DIRGAHAYU INDONESIA KE 64
ikutan belajar nulis donk....
salam kenal
Post a Comment