SEPERTI tahun lalu, Idul Fitri tahun ini kami tak ke mana-mana --selain ke TimeZone! Seminggu menjelang Lebaran, Tia dan Biru beberapa kali bertanya soal “ke Tegal atau Gresik”. Gigih pun ikut-ikutan bertanya. Aku tak memberikan jawaban. Entik hanya bilang, “Kita lihat nanti.” Pada H-1, jelas, tak ada “fasilitas”. Bagiku itu berarti tak ada “amanah”. Tak perlu memaksakan apa pun, termasuk silaturahim yang sangat kami sukai itu.
Usai shalat id, ini tak seperti Lebaran-lebaran sebelumnya, aku memilih untuk meminta maaf lebih dulu setelah menyampaikan soal khilaf dan salah, juga kekuranganku sebagai bapak dan suami. “Sangat ingin Bapak memberikan yang terbaik untuk Ibuk, Mbak Tia, Mas Biru, dan Gigih… Tapi, ya, beginilah… Maafkan Bapak ya… Alhamdulillah, kita tetap terlimpahi rezeki kesehatan hingga bisa melakukan apa pun dengan lebih baik besok atau lusa.”
Diwarnai cekikik geli si Gigih yang memang belum “dhong”, Entik melanjutkan “ritual” itu. Dia memaafkan dan meminta maaf, terus berlanjut ke Tia, Biru, dan Gigih (ini yang paling merepotkan, karena salim sambil lari, tak mau cium pipi, apalagi saat mesti salim sama dua kakaknya). Setelah itu, kami nikmati sarapan lontong opor ayam dan apalagi kalau bukan televisi.
Syukurlah syukur, silat fisik kami tak terputus sama sekali. Hari kedua, sore sepulang dari TimeZone sebagai pengobat “sepi sendiri di perumahan” bagi anak-anak, kami ketamon Pak Doni sekeluarga (thanks Bro, kau orang pertama yang meminum sirup kami). Hari ketiga pagi, Benu (salah satu sohib yang dulu juga teman sekantor di Suara Merdeka) berkunjung. Sorenya, Cak Aris yang dari Gresik datang. “Wah, gondrong!” katanya. Fiuuhhh… Adik ketamon kakak, saat Lebaran pula, sangat menggetarkan. Dua kakakku yang lain, Cak No dan Mbak Win, tak mudik ke Kendal karena benar-benar sedang repot di Jakarta.
Hari keempat, Tia tak kuat (pisss Nduk!) dan “pulang” ke komunitas belajarnya di Salatiga. Berkurang satu anggota saja, ternyata sangat terasa, apalagi pada saat-saat begini. Saat itulah aku dapat jatah “silaturahim selingan”: Rabu (23/9) makan siang bersama Handry TM yang ulang tahun (tur nuwun untuk Ny TM yang memesan ikan Cianjur untuk orang rumah), Kamis (24/9) reuni angkatan pertama (1981) SMA PGRI Kendal setelah 25 tahun berpisah, Jumat (25/9) malam kopi-darat dengan Emi-Kenny-Malaysia (thanks lipstiknya).
Sabtu (26/9), bersama istri dan anak, Tavip yang rekan-dulur senasib sepenanggungan sejak kuliah hingga termehek-mehek di Suara Merdeka nyambangi kami dengan humor-humor pahitnya. Minggu (27/9) pagi Aulia yang sudah kopdar bersama Kenny datang beserta anak-istri plus nasi pecel yang uenak tenan untuk sarapan. Siang, Kang Putu beserta anak-istri yang baru saja balik dari Purwodadi mampir pula. Sore, Nining “si adik tiri” datang bersama suami dan memberi tahu akan mantu anak pertama Oktober nanti (ridhoi rencana mereka, Tuhan!). Bakda isak, rezeki teman rezeki persaudaraan hari itu disempurnakan oleh keluarga Syamsul, salah satu soulmate yang kerja di majalah Gatra.
Minggu malam, Entik bergumam, “Tahun depan, kita mesti satukan silaturahim yang gencal-gencil ini.” Aku berkerut dahi. “Mampukah kita?” tanyaku. Entik mengangguk. “Insya Allah, mampu…”
Tuhan yang Maha Berdaya, kalaupun bukan doaku, dengar dan kabulkanlah doa istriku…Please, Gusti!
Monday, September 28, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

5 comments:
Aminnnnn...Allah pasti mendengar doa tulus seorang suami+ayah...
aminnnnnnn ya robbal alamiinnn
Weh...
Berita reuniannya ditulis juga, meski cuman sak uprit...
yani = seneng kau muncul di sini.. tx ya.
anang = maturnuwun, Cak!
mars = aku mau tulis khusus, tapi nunggu foto dari teman-teman, tapi kok juga datang
yeeee.......wis kopdar mbek Emi ik.....pasti ngupi di kopi luwak lagi???? hehehehehe mbayangin ik
met idul fitri..Insya Allah th depan balek aku....
kangen jeh karo mie kopyok...kekeke pomaneh nganggo gendar sing uakeh
Post a Comment