Sunday, September 13, 2009

Seperti Yang Terjanjikan

SETIAP Ramadhan, “menu utama” buka puasa kami tak pernah berubah: teh hangat (aku dan entik) atau es teh (anak-anak) dan mendoan. Makan boleh apa saja, bahkan mi instan sekalipun, tapi si pembuka tetap sama. Jika sehari saja menu utama itu tak terhidang, karena Buk Min si penjual sayur lupa atau kehabisan tempe misalnya, pasti terasa ada yang kurang.

Beli mendoan di luar? Dua atau tiga tahun lalu pernah begitu dan Biru protes keras: “Kok beli sih? Ibuk bikin sendiri dong… Rasanya beda, lebih enak mendoan bikinan Ibuk.”

Jika diukur dengan lidah obyektif, sangat bisa jadi mendoan kami kalah rasa dibandingkan dengan mendoan yang dijual di pinggir-pinggir jalan itu. Namun bukankah “rasa enak” tak hanya urusan indera pencecap? Buktinya, satu saja di antara kami tak hadir saat berbuka, “rasa enak” itu berkurang.

Jadi begitulah. Setiap hari, saat buka, kami berlima (Gigih belum puasa tapi selalu turut heboh saat magrib tiba) duduk melingkari meja dan “khusuk” menikmati menu utama. Kami beranjak untuk shalat magrib berjamaah, biasanya, setelah teh dan mendoan tandas-das!

Ramadhan tahun ini, alhamdulillah, “kekhusukan” itu bertambah karena Tia yang tahun lalu menjalani Puasa bersama komunitas belajarnya di Kalibening, Salatiga, kini memilih berpuasa di rumah. Aku yang tahun lalu masih bekerja di Harian Umum Suara Merdeka dan karenanya kadang-kadang harus berbuka di kantor, kini full pula di rumah. Walhasil, seperti yang terjanjikan, saat berbuka adalah “pahala pertama” yang ternyata sudah tiada tara.

Karena itulah, terutama tahun ini, “berat” bagiku untuk menerima ajakan atau menghadiri acara buka bersama di luar. Buka bersama Sabtu sore di masjid dekat rumah pun tak bisa menggantikan kekhusukan dan “rasa enak” itu, apalagi buka puasa di mal atau hotel…. Ajakan bertemu untuk ngobrol atau “menggagas proyek bersama” pun aku angguki asal setelah tarawih.

Sungguh, sadar benar aku, ini anugerah yang tak main-main. Sungguh, rahman-rahim Allah begitu melimpah-ruah, khususon bagiku yang belum juga bisa berjauh-jauh dari khilaf dan dosa. Matur sembah nuwun, Gusti…. Matur sembah nuwun…

Catatan:
Sampai hari ini, lima kali aku buka puasa di luar. Hanya satu yang memberiku kesan berbeda, tak terasa sebagai basa-basi pergaulan belaka: Sabtu kemarin, berdua saja dengan…. Ah, tak usahlah kusebutkan siapa. Cukuplah aku, dia, Entik, dan yang gaib-gaib yang tahu.

2 comments:

muji said...

wah proyek bersama apa tuh? memang buka bersama dengan keluarga gak ada gantinya,pak.. Saya pun meraakan hal yang sama...

indri said...

brrrrrrrrsamaaaaa lebih nikmat