Thursday, September 17, 2009

Ulang Tahun “Termewah”

SUNGGUH, rasanya baruuuu saja aku nulis puisi di blog sebagai hadiah ulang tahun untuk Entik dan Tia, eh, kemarin (16 September) keduanya kembali ulang tahun. Entik ke-45, Tia ke-16. Setahun berlalu, tak hanya begitu cepat, tapi juga singkat. Dan aku? Lagi-lagi “kelabakan”. Apalagi sekarang, baru saja “terjun bebas”, tak bisa memberikan hadiah kecuali ciuman….

Tapi sungguh juga, Allah Mahasayang Maha Pemurah. Dalam keserbaterbatasan kami, ulang tahun “duo virgo” tahun ini malah jadi ulang tahun “termewah”.

Kemewahan pertama: hujan yang cukup lama lenyap, turun begitu deras saat kami berbuka puasa. Sejuk luar dalam rasanya. Lalu… listrik mati! Mau tak mau, kami mesti menyalakan beberapa lilin sekaligus. “Ulang tahun dan buka puasa jadi romantis nih,” kata Entik. Saat lampu menyala, yang tak ulang tahun turut berebut tiup lilin. “Kita ulang tahun sekarang juga ya, Mas?” kata Gigih pada Biru.

Kemewahan kedua: karena hujan begitu deras, kami memutuskan untuk tak ke masjid dan tarawih berjamaah di rumah. “Tapi Bapak harus ceramah lho, aku catet,” kata Biiru yang tahun ini punya buku kegiatan Ramadhan hanya demi rebutan tanda tangan pengisi kultum. Kuangguki karena aku tak mau melewatkan kemewahan ini: “merayakan” ulang tahun istri dan anak dengan tarawih (hahaha).

Kemewahan ketiga yang subhanallah banget: saat hendak “ceramah” itu, baru aku tersadar, ulang tahun Entik dan Tia kali ini bertepatan dengan malam ke-27 Ramadhan, salah satu “malam favorit” pada sepuluh hari terakhir puasa. Wow! “Mari kita kejar lailatul-qadar dengan zikir terafdol, yaitu mengaitkan segala gerak dan apa pun yang kita alami dengan Allah. Selalu ingat Dia dalam berdiri, duduk, rebah… bahkan berjalan ke mana pun,” kataku. Biru bertanya, “Jadi, judul ceramahnya apa, Pak?” Hhhh…

Kemewahan keempat: kemarin malam itu, Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng hadir dalam acara konser rebana di halaman Gedung DPRD Jawa Tengah. Begitu hujan reda, sekitar pukul 9 malam, kami sepakat untuk “iktikaf” bersama sebanyak mungkin orang di sana. Tia semangat karena tanggal 25 Agustus lalu dia tak bisa ikut hadir dalam rutinitas Gambang Syafaat. “Ulang tahun Ibuk dan Mbak Tia top banget ah, bisa nanggap Kiai Kanjeng…” kataku saat dalam perjalanan. Ulang tahun yang kuyup dengan shalawat Nabi. Indah sekali!

Kemewahan kelima: usai konser rebana, kami jalan kaki ke Simpanglima untuk sahur di warung nasi liwet lesehan bawah Matahari. Penutup “acara ultah” yang amat melahapkan. Sembari makan, sesekali aku curi-curi pandang, menatap wajah Entik dan Tia berganti-ganti. “Limpahi keduanya kebahagiaan dan umur yang manfaat, Gusti…..” doaku dalam hati. Dalam sekali.

PS: Thanks untuk Didin Suwungnana yang bersilaturahim di tengah “iktikaf”, mengantar Biru ke toilet, dan kembali dengan minuman plus kacang godok. Panjang umur luas rezeki ya!

5 comments:

doniriadi.blogspot.com said...

aminnn...
semoga keberkahan tercurah kpd duo virgo-nya...amin..Allahuma amin...

Anang said...

alhamdulillah semoga menjadi anak dan istri yang berbakti..

muji said...

alhamdulillah, selamat untuk keduanya... semoga bahagia..

amethys said...

selamat ultah Jeng Entik dan Nak Tia.....selamat dengan perayaan yg luar biasa ini....
wuihh aku kehabisan kata....segitunya perayaannya..hujan yg deras, sholat berjamaah, nonton "konser" dan sahur bareng di Simpang lima...(bikin iri....segitu panjang perayaannya, dan penuh doa dan cinta...)

Mataharipagi said...

doni = tengkiu doanya, bro!

anang = waduh, doamu gue banget.

muji = amin, amin, amin

amethys = bali rak? hahaha... Ini memang keajaiban, perayaan panjang justru karena tak punya "daya" untuk merayakan...