.jpg)
SAMPAI hari ini, masih juga ada yang bertanya, kenapa atau apa alasan paling mendasar aku keluar dari Suara Merdeka, koran terbesar dan tersebar di Jawa Tengah itu. Sampai hari ini, masih juga ada yang “menganggap” aku emosional, grusa-grusu, dan memberikan reaksi yang tak proporsional atas “penghapusan” Kantin Banget , halaman remaja yang selama empat tahun menjadi salah satu tanggung jawabku sebagai redaktur di sana. Sampai hari ini, masih juga ada yang “menyesali” langkahku membubarkan Geng Kantin Banget, komunitas yang lahir dari persinggunganku dengan pembaca (remaja). “Eman-eman,” kata mereka. Bahkan masih juga ada “teman” yang mengulang-ulang pernyataan, “Kalau soal sakit, bukankah semua kita sakit? Kalau soal terzalimi, kamu tidak sendiri, semua terzalimi. Kenapa mesti keluar?” Fiuuuhhhh….
Pada sebagian anggota (mantan) Geng Kantin Banget yang silaturahim ke rumah sambil membawa tumpeng halalbihalal beberapa waktu lalu, aku ceritakan bahwa sudah sangat lama aku amat berhasrat keluar dari Suara Merdeka, bahkan ketika mereka yang sekarang sudah SMA dan mahasiswa itu masih riang gembira nyanyi-nyanyi di bangku TK atau SD! Penghapusan Kantin Banget itu bukan sebab, melainkan hanya semacam “pintu keluar yang terbuka dengan tiba-tiba”. Dan aku membubarkan Geng Kantin Banget, selain karena secara formal mereka memang tak lagi punya cantolan, juga karena rasa sayang. Aku tak ingin mereka menemukan “tulang tanpa isi di ujung gang”. Aku ingin mereka segera “menyebar ke pekan-pekan seperti jamaah usai jumatan”. Bubar demi masa depan!
Dengan nada sangat bercanda, dalam kasus penghapusan Kantin Banget itu, Entik bilang, “Tuhan tak sabar lagi menunggu Bapak kuat iman untuk keluar…”
Sekitar dua atau tiga tahun lalu, Entik malah pernah menyatakan, “Kalau Bapak tak bosan jadi karyawan Suara Merdeka, Ibuk yang sudah bosan jadi istri karyawan Suara Merdeka.” Pernyataan itu dia ulang akhir Juli 2009 saat kami kembali memperbincangkan langkah terbaik bagi kami sekeluarga.
Naaaa… daripada dia akhirnya minta cerai karena “bosan” itu dan kemudian mencari suami lain, ya sudah, aku pilih cerai dari Suara Merdeka. Hahaha…!

5 comments:
yaaah, knapa di potonya nggak ada saya ??
hehe
njur wis rampung buku piro?
nurse (geli juga nyebut nama ini) = 1. Aku tak punya foto saat pembubaran itu. 2. Kau tak hadir dalam acara GOKIL (sungguh saat itu nyaris aku bubarin geng tapi "gak tega"). 3............... (isi dengan pensil 2B)
wiwien = sakrampung-rampunge. Hehehe...
saya pembaca SM, mas. sempat dengar soal pengunduran itu. ternyata ini cerita lengkapnya. salut atas keberanian itu.
haris = tengkiu, Mas... Tapi ini baru sebagian juga. Lengkapnya, wah, "mengerikan". Hahaha.... Salam.
Post a Comment