JANGAN abaikan senja karena ia mengantar kita pada malam. Kalaupun jingga langit menawan gelisah dalam jiwa, cecap saja seperti menikmati teh tawar hingga terasa manisnya. Tak perlu menghitung berapa sudah bintang jatuh di atap rumah sebab langkah bukan lagi soal jumlah.
”Jika punya layang-layang
terbangkanlah!”
”Jika tidak?”
”Ucapkanlah!”
Wednesday, January 28, 2009
Saturday, January 24, 2009
Beratus Tahun Kemudian
"JADI bagaimana, kita menerabas atau menunggu hujan reda?" tanyamu ketika bom pertama menghantam Jalur Gaza. Aku lupa mencatat, kita sedang bicara tentang perang atau cuma hati yang termangu di tubir jurang. Kau mendesak dengan mata dan aku mengangguk tanpa kepala. "Baiklah kalau begitu," katamu. Beratus tahun kemudian, kau duduk aku berdiri, sama-sama kedinginan, beku, dalam kerumunan anak-anak yang belajar tentang sejarah sebuah kota tua.
Wednesday, January 21, 2009
Luka Bulan
INILAH yang tak kusuka: kau biarkan bibirmu mengundang badai, melantakkan jantungku hingga tujuh bidadari yang mandi di kali tak mampu memalingkanku dari mata bintangmu. Aku pun kehilangan kesempatan mencuri selembar selendang jingga dan terkapar tanpa raga. Begitu saja. Kau? Terbang bersama mereka setelah meninggalkan jejak di teka-teki silang, lima kotak, menurun dan mendatar. Luka bulan ini, kenapa tak sembuh juga?
Friday, January 16, 2009
Cuma Berdua
KURABA buku-buku jarimu lewat cerita di bawah hujan kota: sebuah fragmen yang tak pernah kita lalui bersama sebelum bersimpang mimpi remaja. Kabut menelungkup dan kau berucap persis di telinga, "Belok ke mana kita?" Lirih kujawab, "Lurus saja." Kemudian senyap danau tengah hutan malam-malam menelan kita. Cuma berdua.
Wednesday, January 14, 2009
Semangat Main-main
PELATIHAN menulis kreatif untuk guru di FBS Unnes benar-benar menjadi kejutan bagiku. Terselenggara hari Minggu 11 Januari 2009 dengan 270 peserta. Demi "keamanan", mereka dibagi dalam dua kelas. Akibat yang nyata, aku bersama dua tutor yang lain (Sucipto Hadi Purnomo, dosen menulis kreatif) dan Triyanto Triwikromo, sastrawan banget), "main" dua kali secara saling silang wira-wiri.
Karena bukan guru bukan pula dosen seperti dua temanku itu, agak ngeri juga: bicara dan melakukan hal yang sama di dua tempat, nyaris tanpa jeda. Syukurlah syukur, meski di kelas kedua agak-agak lambat memanas, toh akhirnya lancar dan ramai juga.
Sebagaimana bisaku, tentu aku tak bicara soal teori. Apalagi buku Cara Keren Nulis Cerpen sudah di tangan tiap peserta. Aku cuma mengajak peserta bermain kata dan meyakini bahwa kalau mau nulis, ya wis, nulis aja... bahwa menulis itu sudah atau minimal sedang, bukan akan.

Hasilnya? Ramai seperti pasar. Guru, seuzur apa pun, bisa gila juga kalau dapat ruang untuk menggila (hahaha....). Dan, ini yang bikin hati geli, setiap aku bertanya "siapa mau maju", eh, mereka menunduk atau pura-pura tak dengar, memandang kiri-kanan atau malah atas sekalian --persis gaya murid saat mereka (para guru) memberikan pertanyaan di kelas.
Ketika aku jalan ke sana kemari sambil membawa kartu-kata untuk tugas dadakan membuat kalimat, mereka makin seperti murid. Untunglah, tak semua begitu. Ada juga yang maju tak gentar salah pun dianggap benar (ha!). Untunglah, setelah suasana makin cair karena ger-geran, banyak guru yang berani malu, eh, maju.
Ada juga kepala sekolah yang maju meski tak tahu bakal dapat tugas apa. Ketika aku beri tugas "ambil satu kata dari setiap kalimat itu dan jadikan kalimat baru yang indah", dia menatap lima kalimat di layar, berpikir keras, geleng-geleng, berpikir lebih keras, geleng-geleng makin sering lagi. Ujungnya, dia comot sembarang kata dan jadilah sebuah kalimat sembarangan. Hahaha... Salut Pak!
Senang sekali rasanya berada di antara para guru yang punya semangat belajar dalam kelas yang penuh main-main. Semoga saat balik ke kelas masing-masing, mereka tak lupa, belajar yang paling menyenangkan itu belajar dengan semangat main-main!
NB: Thanks untuk Deni dkk berikut seluruh sejawat di Unnes. Anas, temanku di Jogja bilang, itu baru event keren. Padune... Hehehe...
Karena bukan guru bukan pula dosen seperti dua temanku itu, agak ngeri juga: bicara dan melakukan hal yang sama di dua tempat, nyaris tanpa jeda. Syukurlah syukur, meski di kelas kedua agak-agak lambat memanas, toh akhirnya lancar dan ramai juga.
Sebagaimana bisaku, tentu aku tak bicara soal teori. Apalagi buku Cara Keren Nulis Cerpen sudah di tangan tiap peserta. Aku cuma mengajak peserta bermain kata dan meyakini bahwa kalau mau nulis, ya wis, nulis aja... bahwa menulis itu sudah atau minimal sedang, bukan akan.

Hasilnya? Ramai seperti pasar. Guru, seuzur apa pun, bisa gila juga kalau dapat ruang untuk menggila (hahaha....). Dan, ini yang bikin hati geli, setiap aku bertanya "siapa mau maju", eh, mereka menunduk atau pura-pura tak dengar, memandang kiri-kanan atau malah atas sekalian --persis gaya murid saat mereka (para guru) memberikan pertanyaan di kelas.
Ketika aku jalan ke sana kemari sambil membawa kartu-kata untuk tugas dadakan membuat kalimat, mereka makin seperti murid. Untunglah, tak semua begitu. Ada juga yang maju tak gentar salah pun dianggap benar (ha!). Untunglah, setelah suasana makin cair karena ger-geran, banyak guru yang berani malu, eh, maju.
Ada juga kepala sekolah yang maju meski tak tahu bakal dapat tugas apa. Ketika aku beri tugas "ambil satu kata dari setiap kalimat itu dan jadikan kalimat baru yang indah", dia menatap lima kalimat di layar, berpikir keras, geleng-geleng, berpikir lebih keras, geleng-geleng makin sering lagi. Ujungnya, dia comot sembarang kata dan jadilah sebuah kalimat sembarangan. Hahaha... Salut Pak!
Senang sekali rasanya berada di antara para guru yang punya semangat belajar dalam kelas yang penuh main-main. Semoga saat balik ke kelas masing-masing, mereka tak lupa, belajar yang paling menyenangkan itu belajar dengan semangat main-main!
NB: Thanks untuk Deni dkk berikut seluruh sejawat di Unnes. Anas, temanku di Jogja bilang, itu baru event keren. Padune... Hehehe...
Wednesday, January 07, 2009
Hingga Lupa
kita duduk di sebuah bangku
menikmati bubur ayam dan teh manis
setelah semalaman berbincang
tentang banyak tentang
berapa kali pagi
kita begini
tanyaku
kita saling pandang
sebentar
menggaruk-nggaruk kepala
sebentar
lalu tertawa
berlama-lama....
hingga lupa
menikmati bubur ayam dan teh manis
setelah semalaman berbincang
tentang banyak tentang
berapa kali pagi
kita begini
tanyaku
kita saling pandang
sebentar
menggaruk-nggaruk kepala
sebentar
lalu tertawa
berlama-lama....
hingga lupa
Thursday, January 01, 2009
Greg!
Mata angin mencair dan mengalir sampai muara beku. Maka berhenti aku memanggil angin di pusaran rindu. Kulepas yang melekat. Kubiarkan apa pun yang lewat. Tak ada tanda di sini, selain jejak yang kian melesak.
Subscribe to:
Posts (Atom)