luapkan saja amarahmu
asal tidak mengapi dan membakar shinta
karena panah bisa luput
meski titik telah kau bidik
berabad luka
buat saja semacam upacara
siapkan sesaji cerita yang mengusang dalam ramayana
lalu jangan pernah percaya
cinta tak bisa dibungkus dan dijual
di pasar kata-kata
Saturday, February 21, 2009
Thursday, February 19, 2009
Cari Suami
Bertapa di tengah jalan...GIGIH dan aku berdebat. Hah? Iya, bener-bener berdebat. Awalnya, dia masuk kamar dan mengusirku yang sedang istirahat di sisi Entik. "Bapak keluar sana, aku mau tidur sama Ibuk."
"Bapak juga mau," kataku.
"Nggak boleh!"
"Kenapa?"
"Ini ibukku! Aku anak Ibuk!"
"Bukan anak Bapak?"
"Bukan!"
"Tapi ibukmu ini istriku..."
Gigih menatap dengan telengan kepala menggemaskan. Berpikir. Entik menimpali, "Bapak ini suami Ibuk." Gigih makin menelengkan kepala. Kian berpikir.
"Jelas kan, Ibuk itu istri Bapak. Jadi, Bapak boleh tidur sama Ibuk."
"Nggak! Ibuk istriku juga! Udah, Bapak pergi sana!"
Weh! Lha piye jal? Aku mengalah. Bangkit dari tempat tidur dan pindah ke kursi kerja, duduk, membaca majalah. Tak lama, aku mencoba menjelaskan lagi, "Sebelum jadi ibuk Gigih, ibuk Mas Biru, dan ibuk Mbak Tia... Ibuk jadi istri Bapak dulu."
"Nggak! Ini ibukku. Dulu istri Bapak, sekarang istriku!
"Gigih tidur sama Mas Biru, sama-sama anak, di kamar sana. Bapak tidur sama Ibuk karena Ibuk ini istri Bapak dan Bapak itu suami Ibuk... Naaa... Ibu tidur sama suami Ibuk," jelas Entik.
Gigih turun dan berjalan keluar kamar. "Ya udah, aku mau nonton film aja," gerutunya.
Kami tertawa. Karena telanjur duduk di kursi kerja, ya sudah, aku nyalakan komputer dan klik ini-itu. Beberapa menit kemudian, Gigih masuk kamar lagi, naik ke tempat tidur, dan menyingkap selimut ibuknya. "Ngapain, Gih?" tanya Entik heran.
"Cari suami!" jawab Gigih sambil terus menyingkap-nyingkap selimut itu.
"Cari suami?" Entik kian heran. Aku pun tertarik untuk mengalihkan tatapan dari komputer ke Gigih.
"Katanya Ibuk tidur sama suami. Mana, mana suaminya?"
Tak pelak, tawa kami pun meledak.
Saturday, February 14, 2009
Kiamat Sudah Lewat
MENURUT kalender Suku Maya, tiga tahun lagi kiamat. Tanggal 21 Desember 2012 tepatnya. Jika Desember kita tulis dalam angka, beginilah jadinya: 21-12-2012. Hanya ada satu 0, yang lain 1 dan 2. Apa artinya? Entahlah. Yang jelas, berita tentang "kiamat" itu membuat Biru gundah. Maklumlah, 21 Desember itu tanggal lahir dia. "Kenapa kiamat pas hari ulang tahunku, kenapa nggak milih hari lain?" protesnya.Suatu malam, Mama Laurent nongol di televisi dan menjawab pertanyaan presenter tentang 2012 itu kira-kira begini: "Bencana besar mungkin terjadi. Tapi bagaimana persisnya, saya tidak tahu. Bahkan pandangan saya terbatas pada tahun 2012, tak bisa menembus ke tahun berikutnya."
Bakal benar-benar tamatkah dunia pada tahun 2012? Ya embuh juga!
Bersama kami, Biru nonton acara itu. Tak bereaksi dan berucap apa pun dia. Tapi malam-malam, dia keluar dari kamarnya, mengetuk kamar kami, dan sambil sedikit terisak bilang, "Aku gak bisa tidur..."
"Kenapa?" tanyaku.
"Takut kiamat..."
Hwuaduh! Sangat ingin aku menjelaskan soal 2012 dan Mama Laurent itu, tapi pasti sulit masuk ke pikiran dan hati Biru yang sedang direjam gelisah dan takut itu. Ya sudah, tidur ngumpul seperti pindang di pasar.
* * * *
LAIN hari, sepulang sekolah, dia bicara lagi soal kiamat yang kian dekat. Kesempatan itu tak aku lepaskan. Santai aku bilang, "Dulu Mas, waktu Bapak masih SD, ada selebaran 'awas, seminggu lagi kiamat'. Gegerlah orang-orang. Tapi seminggu kemudian, dunia tetap ada. Saat Bapak SMP, ada lagi selebaran soal kiamat. Pak Khotib, guru fiqih Bapak waktu itu, segera lari ke masjid dan bersujud.... Menangis! Tapi ternyata, dunia tetap ada. Saat Bapak SMA, ada lagi selebaran kayak gitu. Jadi, sekarang, tenang aja Mas, kiamat sudah lewat, berkali-kali malah...."
Biru termangu. Entah paham entah bingung. Entik segera menengahi agar (ini sangat mungkin) jawabanku yang "keterlaluan" itu tak tertelan mentah-mentah. "Sesuai dengan keyakinan kita, Islam, kiamat pasti terjadi, Mas. Tapi kapan, hanya Allah yang tahu. Yang penting, selama masih hidup, kita lakukan hal-hal yang baik..."
Aku pun menimpali, "Kalau sudah melakukan hal-hal yang baik, sudah, tenang aja. Mau besok mau 2012 mau kapan pun kiamat itu, terserah Yang Punya Hidup."
Biru manggut-manggut. Wajah keruhnya melenyap, berganti senyum. "Jadi nggak usah takut ya, Buk?"
"Ya nggak perlu wong pasti terjadi kok..."
* * * * *
KEMARIN, Biru membawa topik itu lagi, tapi dengan gaya yang berbeda, lebih santai. "Kiamat tak kiamat sama aja, yang penting jadi orang baik. Iya kan, Buk?" Entik mengangguk. "Kalau pas kiamat, kita tenang aja ya Buk, nggak usah lari ya? Mau sembunyi juga nggak bisa kan? Yang hancur kan dunia... Mau sembunyi di mana?"
"Ya iyalah..." kata Entik.
Aku berdiri di belakang Biru tapi tak berkomentar sedikit pun. Ingat dosa. Ingat belum banyak melakukan hal-hal yang baik itu...
Sunday, February 08, 2009
"Tengkiu..."
rumput yang meliar di belakang rumah
pagi ini kubabat sudah
hingga kembali tersinari
apa saja yang tersembunyi
dan jarang kita perbincangkan
karena tak kelihatan
(melati yang kau tanam dulu itu
tersenyum dan berucap, "Tengkiu...")
pagi ini kubabat sudah
hingga kembali tersinari
apa saja yang tersembunyi
dan jarang kita perbincangkan
karena tak kelihatan
(melati yang kau tanam dulu itu
tersenyum dan berucap, "Tengkiu...")
Subscribe to:
Posts (Atom)