kereta yang paling kutunggu
tak menyerahkan jalur pada waktu
datang dan berangkat
semata bergantung pada niat
di peron
kugenggam tiket dalam cemas
teramat getas
Tuesday, March 31, 2009
Monday, March 23, 2009
Barokallah, Gigih!
HARI ini Gigih ulang tahun ke-4. Masih seperti tahun-tahun lalu, tak ada pesta. Hanya "perayaan" sekeluarga, termasuk Tia yang memulangkan diri dari Salatiga. "Mau hadiah apa, Gih?" tanya Entik begitu bungsu kami itu bangun tidur. Tanpa mikir, Gigih bilang, "Sepeda yang ada gambare hiu!"
Aku maklum. Meski Gigih tergolong mungil, sepeda roda tiga hadiah ultah ke-2 tetap saja sudah "jadoel". Saat main bersama teman-temannya, dia selalu teriak, "Hei, tunggu aku hei!" karena lingkar rodanya terkecil ya selalu ketinggalan --sekuat dan secepat apa pun dia nggenjot.
"Hadiahe sepeda aja kan?" tanyaku. Gigih mesem dan menjawab lantang, "Ya nggaklah. Yang banyak dong." Aku segera menyahut, "Lho, itu udah banyak lho. Bapak ngasih hadiah roda belakang, Ibuk roda depan, Mbak Tia setange, Mas Biru ngasih hadiah rantai. Bonusnya, sadel, pedal, rem, dan rangka. Banyak kan?" Gigih diam, mikir, mesem lagi, "Banyak tu bukan kayak gitu!!!!"
Biar sekali dayung, siang kami (kecuali Biru yang sekolah) keluar untuk banyak keperluan. Entik dan Tia kulakan ke Makro, aku dan Gigih ke bank untuk ini dan itu. Saat antre mengular di bank, Gigih kelihatan capek dan gelisah. "Pak, beli sepedanya kapan? Di sini kok lama to?"
Aku hibur dia. "Bentar lagi. Habis ini, kita jemput Ibuk dan Mbak Tia, terus beli sepeda. Oke?" Dia mengangguk. Saat jalan, dia tanya lagi, "Ini mau beli sepeda kan?" Ganti aku yang mengangguk. "Iya, tapi kalau nggak ngajak Ibuk dan Mbak Tia, kasihan kan?" Kembali dia mengangguk. "Iyalah, aku sabar kok!" Gubrak hwakakak! Dari mana dia dapat kata "sabar" itu?
Sampai Makro dan jalan lagi, Entik bilang, "Kita makan dulu yuk, laper." Gigih segera protes. "Kok makan? Beli sepedaaaa!!!" Entik ketawa, "Makan dulu dong, biar kuat nggenjot." Gigih paham, "O iya-ya." Habis makan taoto alias soto pekalongan di Kusumawardani (dekat Gubernuran), kami jalan lagi, tapi... "Sholat dulu ya," kataku. Gigih lagi-lagi protes, "Kok sholat? Beli sepeda to ya!" Aku menyahut, "Biar seger, raup dulu." Alhamdulillah, Gigih paham lagi, "Iyalah..."
Dari Masjid Baiturrahman, kami meluncur ke toko sepeda langganan di Depok, tapi kusempatkan menggoda, "Kita pulang sekarang." Gigih sontak protes, "Heh! Beli sepedaaaa!!!" Aku, Entik, dan Tia tertawa. "Sekarang udah hampir sore, kasihan Mas Biru kalau pulang sekolah, rumah tutupan." Kali ini, Gigih menggigih: "Pokoknya, beli sepeda."
Begitu belok kiri ke Depok dan berhenti di depan toko sepeda, Gigih tersenyum malu. Kami turun dan memilih. Yang terbawa pulang: sepeda berdambar Superman! Begitu sampai di rumah, Gigih langsung nggenjot dan manggil teman-teman. Fiuuhhh....
Sebenarnya, Gigih minta roti dan tiup lilin. "Kayak tahun lalu," katanya. Tapi aku dan Entik sepakat "lewati aja". Entik malah usul, "Makan malam nasi kucing di Simpanglima aja." Malam, lengkap kami berlima jalan ke Simpanglima. Ternyata eh ternyata entah kenapa tak ada lagi warung kaki lima (adakah Semarang sedang pengin dapat Adipura yang sungguh kedaluwarsa itu?).
Kami putuskan makan di warung nasi liwet depan Makro. Eh, tak ada juga (Semarang jadi terasa tambah aneh). Terus jalan lurus. Tak ada kata balik kanan, apalagi balik kucing. "Bebek goreng, mau?" tanya Entik. Semua mau, kecuali Gigih. "Aku lele aja!" katanya. Wuoeke.
Syukurlah, warung di Pedurungan itu tak tutup juga. Kami pun makan teramat lahap. Saat tinggal Gigih yang belum selesai makan, aku menyanyi, "Selamat ulang tahun...." Entik dan Tia turut. Gigih ketawa-tawa jengah. "Nggak ada rotinya kok nyanyi," protesnya. "Rotinya dah jadi lele," kataku. Tia menyambung, "Happy birthday, Gigih..." Biru menyela, "Kalau ada yang ulang tahun di kelas, nyanyinya bukan gitu, tapi barokallah."
Kami pun serentak mengganti lirik jadi, "Barokallah, Gigih.... Barokallah, Gigih..."
NB: Mohon doa, kami sekeluarga sehat sentosa.... Amin.
Aku maklum. Meski Gigih tergolong mungil, sepeda roda tiga hadiah ultah ke-2 tetap saja sudah "jadoel". Saat main bersama teman-temannya, dia selalu teriak, "Hei, tunggu aku hei!" karena lingkar rodanya terkecil ya selalu ketinggalan --sekuat dan secepat apa pun dia nggenjot.
"Hadiahe sepeda aja kan?" tanyaku. Gigih mesem dan menjawab lantang, "Ya nggaklah. Yang banyak dong." Aku segera menyahut, "Lho, itu udah banyak lho. Bapak ngasih hadiah roda belakang, Ibuk roda depan, Mbak Tia setange, Mas Biru ngasih hadiah rantai. Bonusnya, sadel, pedal, rem, dan rangka. Banyak kan?" Gigih diam, mikir, mesem lagi, "Banyak tu bukan kayak gitu!!!!"
Biar sekali dayung, siang kami (kecuali Biru yang sekolah) keluar untuk banyak keperluan. Entik dan Tia kulakan ke Makro, aku dan Gigih ke bank untuk ini dan itu. Saat antre mengular di bank, Gigih kelihatan capek dan gelisah. "Pak, beli sepedanya kapan? Di sini kok lama to?"
Aku hibur dia. "Bentar lagi. Habis ini, kita jemput Ibuk dan Mbak Tia, terus beli sepeda. Oke?" Dia mengangguk. Saat jalan, dia tanya lagi, "Ini mau beli sepeda kan?" Ganti aku yang mengangguk. "Iya, tapi kalau nggak ngajak Ibuk dan Mbak Tia, kasihan kan?" Kembali dia mengangguk. "Iyalah, aku sabar kok!" Gubrak hwakakak! Dari mana dia dapat kata "sabar" itu?
Sampai Makro dan jalan lagi, Entik bilang, "Kita makan dulu yuk, laper." Gigih segera protes. "Kok makan? Beli sepedaaaa!!!" Entik ketawa, "Makan dulu dong, biar kuat nggenjot." Gigih paham, "O iya-ya." Habis makan taoto alias soto pekalongan di Kusumawardani (dekat Gubernuran), kami jalan lagi, tapi... "Sholat dulu ya," kataku. Gigih lagi-lagi protes, "Kok sholat? Beli sepeda to ya!" Aku menyahut, "Biar seger, raup dulu." Alhamdulillah, Gigih paham lagi, "Iyalah..."
Dari Masjid Baiturrahman, kami meluncur ke toko sepeda langganan di Depok, tapi kusempatkan menggoda, "Kita pulang sekarang." Gigih sontak protes, "Heh! Beli sepedaaaa!!!" Aku, Entik, dan Tia tertawa. "Sekarang udah hampir sore, kasihan Mas Biru kalau pulang sekolah, rumah tutupan." Kali ini, Gigih menggigih: "Pokoknya, beli sepeda."
Begitu belok kiri ke Depok dan berhenti di depan toko sepeda, Gigih tersenyum malu. Kami turun dan memilih. Yang terbawa pulang: sepeda berdambar Superman! Begitu sampai di rumah, Gigih langsung nggenjot dan manggil teman-teman. Fiuuhhh....
Sebenarnya, Gigih minta roti dan tiup lilin. "Kayak tahun lalu," katanya. Tapi aku dan Entik sepakat "lewati aja". Entik malah usul, "Makan malam nasi kucing di Simpanglima aja." Malam, lengkap kami berlima jalan ke Simpanglima. Ternyata eh ternyata entah kenapa tak ada lagi warung kaki lima (adakah Semarang sedang pengin dapat Adipura yang sungguh kedaluwarsa itu?).
Kami putuskan makan di warung nasi liwet depan Makro. Eh, tak ada juga (Semarang jadi terasa tambah aneh). Terus jalan lurus. Tak ada kata balik kanan, apalagi balik kucing. "Bebek goreng, mau?" tanya Entik. Semua mau, kecuali Gigih. "Aku lele aja!" katanya. Wuoeke.
Syukurlah, warung di Pedurungan itu tak tutup juga. Kami pun makan teramat lahap. Saat tinggal Gigih yang belum selesai makan, aku menyanyi, "Selamat ulang tahun...." Entik dan Tia turut. Gigih ketawa-tawa jengah. "Nggak ada rotinya kok nyanyi," protesnya. "Rotinya dah jadi lele," kataku. Tia menyambung, "Happy birthday, Gigih..." Biru menyela, "Kalau ada yang ulang tahun di kelas, nyanyinya bukan gitu, tapi barokallah."
Kami pun serentak mengganti lirik jadi, "Barokallah, Gigih.... Barokallah, Gigih..."
NB: Mohon doa, kami sekeluarga sehat sentosa.... Amin.
Friday, March 20, 2009
Terlalu Biru, Terlalu Biru...
RABU (18/3) siang, usai "ndosen" matakuliah Penulisan Kreatif (Tingkat) Lanjut di FBS Universitas Negeri Semarang (Unnes), aku tengok hape yang sepanjang kuliah main-main tadi kubisukan. Ada empat SMS masuk. Satu di antaranya dari Tia, sulung kami. Isinya: Aku kirimkan kasih sayangku lewat rengkuhan....
Aku terenyak. SMS itu judul salah satu postinganku di blog ini (arsip 2005). Dulu, saat kutulis postingan itu, dia baru saja lulus SD, belum akrab dengan internet, apalagi baca blog ini. Sekarang dia "kelas I SMA" dan tentu saja sudah ke mana-mana. Sesekali dia meninggalkan komentar, karena itu sudah lama kuanggap dia telah membaca semuanya. Ternyata, belum. Ternyata, baru Rabu siang itu dia membaca salah satu momen terpenting dalam hidup kami.
Aku tak bisa langsung membalas karena keharuan yang terlalu biru. Sepulang dari Unnes, karena kelaparan (belum makan siang demi datang tepat waktu pukul satu), mampir aku di warung dan pesan tongseng ati. Sambil menunggu, kubuka dan baca lagi SMS itu. Keharuan masih juga terlalu biru. Kubalas SMS itu: Kau baca juga akhirnya... Tia membalas: I'm proud of u.. my father. . Wis, menahan air mata tak punya kuasa lagi aku.
Pesanan datang, aku segera makan, tapi air mata itu mengundang ingus. Sudah, tak kuat, air mata dan ingus pun jatuh bercampur kuah. Aku berhenti. Kubalas SMS itu: Oalah, Nduk, Bapak makan tongseng ati sambil mbrebes mili ki. Dan jawaban Tia membuat seluruh dunia membiru: Q dah mbrebes dari tadi...
Senang rasanya, anak sedemikian bangga atas diri ini meski harus melalui "adegan" mbrebes mili segala. Tapi bersamaan dengan itu, kesadaran bahwa masih begitu banyak yang belum kulakukan dengan baik untuknya, muncul tiba-tiba. Maka buru-buru aku mohon ampun, waktu, dan petunjuk dari Yang Punya Segala.
NB: Saat kencan berdua nanti, aku akan bilang pada Tia, "Ibuk lebih layak menerima rasa bangga itu...."
Aku terenyak. SMS itu judul salah satu postinganku di blog ini (arsip 2005). Dulu, saat kutulis postingan itu, dia baru saja lulus SD, belum akrab dengan internet, apalagi baca blog ini. Sekarang dia "kelas I SMA" dan tentu saja sudah ke mana-mana. Sesekali dia meninggalkan komentar, karena itu sudah lama kuanggap dia telah membaca semuanya. Ternyata, belum. Ternyata, baru Rabu siang itu dia membaca salah satu momen terpenting dalam hidup kami.
Aku tak bisa langsung membalas karena keharuan yang terlalu biru. Sepulang dari Unnes, karena kelaparan (belum makan siang demi datang tepat waktu pukul satu), mampir aku di warung dan pesan tongseng ati. Sambil menunggu, kubuka dan baca lagi SMS itu. Keharuan masih juga terlalu biru. Kubalas SMS itu: Kau baca juga akhirnya... Tia membalas: I'm proud of u.. my father. . Wis, menahan air mata tak punya kuasa lagi aku.
Pesanan datang, aku segera makan, tapi air mata itu mengundang ingus. Sudah, tak kuat, air mata dan ingus pun jatuh bercampur kuah. Aku berhenti. Kubalas SMS itu: Oalah, Nduk, Bapak makan tongseng ati sambil mbrebes mili ki. Dan jawaban Tia membuat seluruh dunia membiru: Q dah mbrebes dari tadi...
Senang rasanya, anak sedemikian bangga atas diri ini meski harus melalui "adegan" mbrebes mili segala. Tapi bersamaan dengan itu, kesadaran bahwa masih begitu banyak yang belum kulakukan dengan baik untuknya, muncul tiba-tiba. Maka buru-buru aku mohon ampun, waktu, dan petunjuk dari Yang Punya Segala.
NB: Saat kencan berdua nanti, aku akan bilang pada Tia, "Ibuk lebih layak menerima rasa bangga itu...."
Tuesday, March 17, 2009
Hanya!
Kuhitung berapa kali aku di sini tanpa kau dan pulang dengan senyum terjauh. Sesekali kubawa sesuatu untukmu, tapi bukan sedap malam. Maka terlalu sering aku menemani televisi hingga pagi dalam gelisah tak mati-mati. Dan akhirnya... begitu banyak cerita yang hanya tersimpan di folder sunyi. Hanya!
Saturday, March 07, 2009
Sebelum Pentas
SEPEKAN lalu, Sekolah Alam Ar-Ridho menyelenggarakan Book Week. Selain bazar buku, banyak kegiatan lain yang "enak dipandang", terutama market day (para murid berjualan) dan talent show (para murid unjuk kebolehan).
Nah, selain ikut lomba membuat pembatas buku dan pulang sekolah teriak, "Buuukkk... aku kalaaaaahhh!!!", Biru turut talent show bersama teman sekelas. Mereka main "drama" dan Biru jadi pemain basket. Cilaka 12-nya, dia baru memberi tahu malam sebelum pentas. "Pak, aku nggak punya kaos basket lho. Masak pemain basket pakai kaos sepak bola?"
Ya sudah, malam itu juga, aku dan Biru menembus gerimis ke Swalayan Ada. Langsung menuju pojok kaos olah raga. "Ini, Mas?" Biru mengangguk. "Tapi yang besar lho," katanya. Biru umur 9 tahun, kaos itu nomor 8. AKu segera tanya pada pelayan, "Yang nomor 9 ada, Mbak?" Pelayan itu mencari di tumpukan dengan sikap ogah-ogahan. Ketemu. "Coba dulu," kataku pada Biru dan kami masuk ke kamar pas.
"Wah, kurang gede ini, Pak."
"Ini pas, Mas. Nomor 9. Nggak kekecilen, nggak kebesaren."
"Tapi celananya nggak nutup lutut, nggak nutup aurat."
"Lhah, mau olah raga kok mikir aurat?"
"Kalau nggak nutup aurat, nggak boleh sama Bu Kasmi."
"Ya diplorotke dikit to."
Biru memelorotkan sedikit celana itu, lalu jongkok. "Tapi kalau jongkok gini, celanya naik dan lututku kelihatan..."
"Keteknya juga kelihatan," godaku.
"Wah, iya ya..."
"Ketek bukan aurat laki-laki, Mas. Aurat laki-laki itu pusar sampai bawah lutut."
"Ya wis, aman, yang penting lutut tertutup."
Aku menyerah. "Ya wis, kita cari nomor 10." Kami keluar dari kamar pas dan aku bertanya pada pelayan. "Yang nomor 10 ada, Mbak?" Cepat dia menjawab cepat dan cuek, "Nggak ada." Jengkel, tapi aku pendam. Aku cari sendiri di tumpukan dan menemukan kaos nomor 11. "Yang gede sekalian ya, Mas, biar pasti aurat bernama lutut itu tertutup?" Biru mengangguk. Beres.
Di kasir, dia mengeluarkan uang Rp 15.000 dari saku. "Nih, aku ikut bayar dari uang tabunganku," katanya. Surprise! Tapi saat aku bayar pakai kartu, dia langsung protes, "Lho, nggak pakai uang to? Sini, kembaliin!" Aku ketawa. "Ya nggak bisa, Mas, wis kadung."
Esoknya, sambil menunggu naik panggung, Biru tampak menikmati kaos barunya: kaos engklek itu. Beberapa menit dia menghilang dari sekitar panggung, balik lagi sudah berkaos tumpuk. Oblong di dalam, kaos basket di luar. Keteknya tak kelihatan.
"Lho, kok rangkepan, Mas?"
"Banyak yang usil."
"Lhah, kamu itu, main jadi atlet kok ribet sama aurat."
Biru tak menjawab. Menghilang lagi. Kemudian... "Pak!!!" panggilnya saat aku asyik motret anak-anak yang sedang jualan es. Aku menoleh. Dia mendekat. "Kata Bu Kasmi, aku ini pemain basket islami."
"Iya, sip!!!" sahutku, lalu aku potret dia. Gayanya, bener-bener seperti pemain basket (islami). Hehehe...
Monday, March 02, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)