Saturday, June 20, 2009

Mesem. Itu Saja.

SUDAH lama atau bahkan terlalu lama aku memendam keinginan yang bagi orang lain amatlah mudah diwujudkan ini: mengajak istri (sendiri) makan malam di salah satu resto di Semarang atas lalu memandang kerlap-kerlip Semarang bawah. Berkali-kali aku makan malam di sana, tapi dengan "pasangan yang salah".

Salah satu momen terpenting dalam kehidupan kami, ultah pernikahan, mendesakku habis-habisan untuk mewujudkan keinginan sederhana itu. Maka aku kerahkan seluruh daya-upaya hingga hari Kamis 18 Juni tiba: sore-sore aku, Entik, Biru, dan Gigih meluncur ke kota. "Mestinya berdua aja ya, makan malam romantis..." kata Entik. Aku tertawa. "Anak-anak kita nggak punyah embah, mau kita titipkan ke siapa?"

"Kita nanti ke Jamol, Gramed, trus ke Ada main tulit-tulit, terus makan di Mekdi," celoteh Gigih. Aku protes: "Yang ulang tahun Bapak dan Ibuk, kok Gigih yang bikin acara?" Eh, tangkas dia menjawab, "Bapak nyante aja, aku yang pilihkan acaranya." Hahaha....

Tujuan pertama memang Jamol: beli celana krem untuk Biru yang bakal jadi MC perpisahan kelas VI di SD Alam Ar-Ridho hari Sabtu (20/6). Tapi dalam perjalanan, terasa ada yang kurang, ada yang kosong, ada yang tak lengkap. Ya, pada hari istimewa, mau makan malam bersama, kok tanpa Tia?

Maka meluncurlah kami ke Salatiga untuk menjemput sulung kami. Saat kukontak, Tia bilang siaaapppp. Begitu kami sampai di rumah Pak Ridwan-Bu Rifqah di Kalibening, Tia kaget karena dia sangka makan malam di Salatiga, bukan "turun" ke Semarang. Lalu nolak? Tak mungkin wong dalam urusan makan dia yang paling jago (buanyaaaakkk!!!).

Usai magriban, kami meluncur ke Semarang, langsung ke Jamol. "Kita makan di Mekdi ya, Buk?" rajuk Gigih. "Malam ini, makan di mana, ikut Bapak ya?" kataku. Gigih tetep: "Mekdi aja!" Aku pun menggoda "logika"-nya: "Ikut Bapak, Bapak yang bayar." Biru menyela untuk Gigih: "Kalau ikut kamu, kamu yang bayar." Gigih menyahut, "Oke!" Tapi tak lama, dia meralat, "Eh, ya nggak gitu...." Tawa kami pun meledak bersama.

Begitu urusan beli celana si MC kelar, biar tak ada yang rewel, kami turuti kemauan Gigih. Setelah itu, kami kembali naik ke Gombel. Di sanalah, di salah satu resto, aku wujudkan keinginan sederhana yang terpendam lama. Sambil mencari tempat duduk, Entik yang menangkap kerlap-kerlip Semarang bawah langsung komen, "Ih, wow!" Anak-anak begitu juga.

Kami pilih meja yang tak terlalu jauh dari penyanyi dan pemain organ tunggal. "Boleh ngopi, Pak?" tanya Biru. "Ini hari istimewa. Boleh." Tia sibuk motret. Saat ganti motret, aku kaget karena nomor meja yang kami pilih itu 17! Persis umur pernikahan kami. Ya, 17!


Usai makan, saat Tia dan dua adiknya tak habis-habis bercanda, aku berbisik pada Entik, "Malam ini aku seneng sekaligus sedih." Seperti 17 tahun lalu saat kami mulai mengayuh biduk, dia tersenyum dan bertanya lembut, "Kenapa?" Kubuang nafas ke Semarang bawah sana dan menjawab lirih, "Seneng lihat anak-anak begitu ceria, sehat, cerdas. Sedih karena makin terasa, masih begitu banyak utangku pada mereka, padamu juga..."

Entik mengelus rambutku yang semrawut dan kian beruban. Mesem. Itu saja.

NB: Mohon doa kekuatan seiring sejalan dalam keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan...

Tuesday, June 09, 2009

"Awas!!!"

"MAKASIH ya, kau telah peluk aku sebegitu rupa tadi malam. Hidup terasa sangat tenteram dan membahagiakan..."

Aku tersenyum.

"Benar kan? Yang kau peluk memang aku kan? Bukan yang lain kan?"

Aku tersenyum.

"Jangan-jangan...."

Aku tersenyum.

"Ooooo.... gitu ya!"

Aku lariiiiiiii.....!!!!!!

"Awas!!!"