Saturday, August 29, 2009
Tak Jelas Lagi
Beginilah pada mulanya: kau biarkan aku berenang dan menyelam sampai ceruk terdalam. Ketika waktu mengunciku di situ, kau karangkan wajahmu. Bahkan tubuhmu. Sebelum aku mulai membangun candi, kau buru-buru menjonggrang tanpa pagi. Maka siapa yang terkutuk tak jelas lagi.
Thursday, August 27, 2009
Bincang Malam sebelum 17-8-2009 (2)
Di teras, kami duduk bersisihan. Aku bercerita tentang banyak hal, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan, cita-cita, dan masa depan kami sekeluarga. Juga tentang penghapusan Kantin Banget, halaman remaja Suara Mereka yang bertahun kukelola, berikut sebab pembubaran Geng Kantin Banget sehari sebelumnya yang aku lakukan dengan rasa berat dan kesedihan tak tertakar. "Bapak memang lagi sok ngidir..."
Tia tak banyak berkomentar. Sulung kami itu lebih memilih mendengar, menyerap, semua yang aku katakan. Malam itu, aku benar-benar bapak yang sedang curhat, sekaligus meminta pertimbangan "jalan terbaik" pada anak. "Kebiasaan" yang (seolah) terbalik memang, tapi itu aku lakukan karena Tia --meski berusia enam belas tahun-- "sudah besar", mbarep pula, dan anak yang bakal langsung menerima dampak keputusan "terjun bebas" ini.
Aku ceritakan juga pada Tia, betapa ibuknya sudah sangat mantap melangkah ke arah yang berbeda, karena yakin arah tempuh selama ini tak memberikan peluang perubahan apa-apa. "Gimana, Nduk?" tanyaku saat malam telah berubah menjadi dinihari.
"Sempurnakan saja," jawab Tia. "Kantin Banget tak ada, gengnya sudah bubar, ya redakturnya keluar sekalian..."
"Ini bukan soal Kantin Banget lho Nduk..."
"Aku tahu... Sejak setahun lalu aku sudah merdeka belajar, kini saatnya Bapak merdeka bekerja."
"Jadi kau setuju Bapak ambil langkah terjun bebas? Tanpa payung, tanpa tali pengaman, tanpa kasur yang menunggu di tanah? Bahkan kau pun harus siap turut berkarya, berjuang?"
"Yupz, ayo terjun bebas!"
Azan subuh terdengar. Aku menangis --meski tanpa air mata.
Tia tak banyak berkomentar. Sulung kami itu lebih memilih mendengar, menyerap, semua yang aku katakan. Malam itu, aku benar-benar bapak yang sedang curhat, sekaligus meminta pertimbangan "jalan terbaik" pada anak. "Kebiasaan" yang (seolah) terbalik memang, tapi itu aku lakukan karena Tia --meski berusia enam belas tahun-- "sudah besar", mbarep pula, dan anak yang bakal langsung menerima dampak keputusan "terjun bebas" ini.
Aku ceritakan juga pada Tia, betapa ibuknya sudah sangat mantap melangkah ke arah yang berbeda, karena yakin arah tempuh selama ini tak memberikan peluang perubahan apa-apa. "Gimana, Nduk?" tanyaku saat malam telah berubah menjadi dinihari.
"Sempurnakan saja," jawab Tia. "Kantin Banget tak ada, gengnya sudah bubar, ya redakturnya keluar sekalian..."
"Ini bukan soal Kantin Banget lho Nduk..."
"Aku tahu... Sejak setahun lalu aku sudah merdeka belajar, kini saatnya Bapak merdeka bekerja."
"Jadi kau setuju Bapak ambil langkah terjun bebas? Tanpa payung, tanpa tali pengaman, tanpa kasur yang menunggu di tanah? Bahkan kau pun harus siap turut berkarya, berjuang?"
"Yupz, ayo terjun bebas!"
Azan subuh terdengar. Aku menangis --meski tanpa air mata.
Saturday, August 22, 2009
Bincang Malam sebelum 17-8-2009 (1)
Di meja makan, kami duduk berhadapan.
"Gimana? Berhenti sekarang?" tanyaku soal keinginan (lama) keluar dari Harian Umum Suara Merdeka.
"Ya, sekarang. Jangan lagi-lagi ditunda," jawab Entik, mantap sekali.
"Anak-anak? Selama ini mereka jadi salah satu pertimbangan yang membuatku selalu ragu... "
"Justru karena mereka, Bapak harus berhenti dari Suara Merdeka. Rugi besar kalau sisa umur, energi, kreativitas dan produktivitas yang Bapak punya Bapak habiskan di sana, Bapak akan kerdil dan habis... Demi anak-anak, kita harus lakukan yang memang semestinya kita lakukan..."
"Aku kadang-kadang takut jadi orang yang tak pandai bersyukur. Banyak orang tak punya pekerjaan tetap, apalagi di perusahaan dengan nama besar berkibar-kibar, bingung ketika sakit karena tak punya asuransi kesehatan, tak punya uang tunjangan, tak punya uang perjalanan.... Aku yang sudah punya semua itu, kok malah berhenti, keluar... Kok rasanya tidak bersyukur..."
Entik diam.
"Tapi kalau dibalik, bisa juga tetap bekerja di Suara Merdeka itu salah, kufur nikmat malah. Tuhan telah memberiku begitu banyak anugerah, jalan kreatif, umur, kesehatan, dan tak terhitung din...Kalau semua itu terabaikan, terbengkalai, karena aku tak pandai berbagi perhatian, tak bisa fokus, terus bekerja di perusahaan yang tak menghargai kreativitas dan profesionalitas, terus menggerutu dan bekerja tak ikhlas.... apakah itu tak berarti aku malah kufur nikmat. Kalau bersyukur, mestinya aku fokus, mengambil jalan kreatif yang telah berkali ulang dibukakan oleh Tuhan...."
"Berapa kali Bapak bertanya pada Tuhan? Sudah terjawab sebenarnya kan? Kenapa masih ragu juga?"
"Maklumlah, aku laki-laki, kepala keluarga... Aku berani sengsara sendiri, tapi membawa kau dan anak-anak..."
"Dulu saat berangkat berdua, tanpa pekerjaan tanpa rumah, berani... sekarang ditemani Tia, Biru, dan Gigih... jadi berlima, mestinya tambah berani melangkah dong..."
Aku tertawa kecut. Entik mulai berpikir tak linier, mulai ambil jalan alternatif.
"Kita tak punya persiapan apa-apa. Kita hanya bisa terjun bebas. Tanpa payung, tanpa pengaman apa pun, bahkan tanpa kasur empuk yang akan menerima kita saat terempas ke tanah. Benar-benar terjun bebas!" kataku menunjukkan segala kemungkinan terburuk yang bakal terjadi.
Entik mesem. "Tuhan tahu dan sudah lama menunggu..."
Aku mengangguk. "Ya, menunggu kita, terutama aku, tak hanya bersaksi dengan kata, tapi juga dengan perbuatan nyata bahwa Dia dan hanya Dia tempat bergantung satu-satunya... bukan yang lain, apalagi cuma Suara Merdeka..."
"Lalu?"
"Aku akan bertanya sekali lagi pada-Nya..."
"Gimana? Berhenti sekarang?" tanyaku soal keinginan (lama) keluar dari Harian Umum Suara Merdeka.
"Ya, sekarang. Jangan lagi-lagi ditunda," jawab Entik, mantap sekali.
"Anak-anak? Selama ini mereka jadi salah satu pertimbangan yang membuatku selalu ragu... "
"Justru karena mereka, Bapak harus berhenti dari Suara Merdeka. Rugi besar kalau sisa umur, energi, kreativitas dan produktivitas yang Bapak punya Bapak habiskan di sana, Bapak akan kerdil dan habis... Demi anak-anak, kita harus lakukan yang memang semestinya kita lakukan..."
"Aku kadang-kadang takut jadi orang yang tak pandai bersyukur. Banyak orang tak punya pekerjaan tetap, apalagi di perusahaan dengan nama besar berkibar-kibar, bingung ketika sakit karena tak punya asuransi kesehatan, tak punya uang tunjangan, tak punya uang perjalanan.... Aku yang sudah punya semua itu, kok malah berhenti, keluar... Kok rasanya tidak bersyukur..."
Entik diam.
"Tapi kalau dibalik, bisa juga tetap bekerja di Suara Merdeka itu salah, kufur nikmat malah. Tuhan telah memberiku begitu banyak anugerah, jalan kreatif, umur, kesehatan, dan tak terhitung din...Kalau semua itu terabaikan, terbengkalai, karena aku tak pandai berbagi perhatian, tak bisa fokus, terus bekerja di perusahaan yang tak menghargai kreativitas dan profesionalitas, terus menggerutu dan bekerja tak ikhlas.... apakah itu tak berarti aku malah kufur nikmat. Kalau bersyukur, mestinya aku fokus, mengambil jalan kreatif yang telah berkali ulang dibukakan oleh Tuhan...."
"Berapa kali Bapak bertanya pada Tuhan? Sudah terjawab sebenarnya kan? Kenapa masih ragu juga?"
"Maklumlah, aku laki-laki, kepala keluarga... Aku berani sengsara sendiri, tapi membawa kau dan anak-anak..."
"Dulu saat berangkat berdua, tanpa pekerjaan tanpa rumah, berani... sekarang ditemani Tia, Biru, dan Gigih... jadi berlima, mestinya tambah berani melangkah dong..."
Aku tertawa kecut. Entik mulai berpikir tak linier, mulai ambil jalan alternatif.
"Kita tak punya persiapan apa-apa. Kita hanya bisa terjun bebas. Tanpa payung, tanpa pengaman apa pun, bahkan tanpa kasur empuk yang akan menerima kita saat terempas ke tanah. Benar-benar terjun bebas!" kataku menunjukkan segala kemungkinan terburuk yang bakal terjadi.
Entik mesem. "Tuhan tahu dan sudah lama menunggu..."
Aku mengangguk. "Ya, menunggu kita, terutama aku, tak hanya bersaksi dengan kata, tapi juga dengan perbuatan nyata bahwa Dia dan hanya Dia tempat bergantung satu-satunya... bukan yang lain, apalagi cuma Suara Merdeka..."
"Lalu?"
"Aku akan bertanya sekali lagi pada-Nya..."
Thursday, August 13, 2009
DHUENGG!!!

SEMINGGU yang lalu, Gigih yang baru saja menikmati hari-hari baru di TK Sekolah Alam Ar-Ridho harus "bolos" karena sakit. Repotnya, seperti Tia dan Biru dulu, dia punya masalah juga dengan puyer dari dokter: menolak. Saat aku bilang, "Kalau gak mau minum obat, gak sembuh-sembuh lho. Kalau gak sembuh-sembuh, gak bisa sekolah...." Eeee... dia malah tanya, "Sekolah itu untuk apa to, Pak?"
"Ya biar kamu punya lebih banyak teman..." jawabku.
"Terus?"
"Ya biar kamu bisa lebih sering main di luar..."
"Terus?"
"Hmmm... biar kamu lebih pintar..."
"Apalagi?"
"Udah."
"Oooo.... gitu..."
Sudah. Dia tak bertanya lagi. Dia lakukan hal lain seolah tak pernah bertanya dan tak mendengar jawaban apa pun. Terus terang, jawaban itu jawaban asal. Aslinya, aku kesulitan menjawab. Bukan karena pertanyaannya, melainkan karena yang bertanya: bungsu kami yang berumur empat tahun itu.
Lewat pertanyaan serupa. Gigih pernah membuatku cep-klakep dan tak bisa tidak aku pilih jalan ngeles karena memang benar-benar tak siap memberikan jawaban. Dalam perjalanan pulang sekolah, naik motor di jalan tembus (jalan setapak menurun) dekat rumah, tiba-tiba dia bertanya, "Kita kok harus sholat itu kenapa to, Pak?"
Apa jawabku? "Aduh, Bapak gak bisa dengar dengan jelas. Tanya lagi nanti di rumah ya..." Gigih mengangguk tapi setelah itu langsung bertanya dengan suara lebih kenceng, "Kita kok harus sholat kenapa?"
Jawaban asal pun keluar, "Kenapa ya? Ya biar kita dekat sama Tuhan dan tenteram."
"Tenteram itu apa?"
DHUENG!!!!!
PS: Untung segera sampai rumah dan begitu ketemu sang Ibu, Gigih lupa pada pertanyaan yang "merepotkan"-ku itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
