Monday, September 28, 2009

Kalaupun Bukan Doaku

SEPERTI tahun lalu, Idul Fitri tahun ini kami tak ke mana-mana --selain ke TimeZone! Seminggu menjelang Lebaran, Tia dan Biru beberapa kali bertanya soal “ke Tegal atau Gresik”. Gigih pun ikut-ikutan bertanya. Aku tak memberikan jawaban. Entik hanya bilang, “Kita lihat nanti.” Pada H-1, jelas, tak ada “fasilitas”. Bagiku itu berarti tak ada “amanah”. Tak perlu memaksakan apa pun, termasuk silaturahim yang sangat kami sukai itu.

Usai shalat id, ini tak seperti Lebaran-lebaran sebelumnya, aku memilih untuk meminta maaf lebih dulu setelah menyampaikan soal khilaf dan salah, juga kekuranganku sebagai bapak dan suami. “Sangat ingin Bapak memberikan yang terbaik untuk Ibuk, Mbak Tia, Mas Biru, dan Gigih… Tapi, ya, beginilah… Maafkan Bapak ya… Alhamdulillah, kita tetap terlimpahi rezeki kesehatan hingga bisa melakukan apa pun dengan lebih baik besok atau lusa.”

Diwarnai cekikik geli si Gigih yang memang belum “dhong”, Entik melanjutkan “ritual” itu. Dia memaafkan dan meminta maaf, terus berlanjut ke Tia, Biru, dan Gigih (ini yang paling merepotkan, karena salim sambil lari, tak mau cium pipi, apalagi saat mesti salim sama dua kakaknya). Setelah itu, kami nikmati sarapan lontong opor ayam dan apalagi kalau bukan televisi.

Syukurlah syukur, silat fisik kami tak terputus sama sekali. Hari kedua, sore sepulang dari TimeZone sebagai pengobat “sepi sendiri di perumahan” bagi anak-anak, kami ketamon Pak Doni sekeluarga (thanks Bro, kau orang pertama yang meminum sirup kami). Hari ketiga pagi, Benu (salah satu sohib yang dulu juga teman sekantor di Suara Merdeka) berkunjung. Sorenya, Cak Aris yang dari Gresik datang. “Wah, gondrong!” katanya. Fiuuhhh… Adik ketamon kakak, saat Lebaran pula, sangat menggetarkan. Dua kakakku yang lain, Cak No dan Mbak Win, tak mudik ke Kendal karena benar-benar sedang repot di Jakarta.

Hari keempat, Tia tak kuat (pisss Nduk!) dan “pulang” ke komunitas belajarnya di Salatiga. Berkurang satu anggota saja, ternyata sangat terasa, apalagi pada saat-saat begini. Saat itulah aku dapat jatah “silaturahim selingan”: Rabu (23/9) makan siang bersama Handry TM yang ulang tahun (tur nuwun untuk Ny TM yang memesan ikan Cianjur untuk orang rumah), Kamis (24/9) reuni angkatan pertama (1981) SMA PGRI Kendal setelah 25 tahun berpisah, Jumat (25/9) malam kopi-darat dengan Emi-Kenny-Malaysia (thanks lipstiknya).

Sabtu (26/9), bersama istri dan anak, Tavip yang rekan-dulur senasib sepenanggungan sejak kuliah hingga termehek-mehek di Suara Merdeka nyambangi kami dengan humor-humor pahitnya. Minggu (27/9) pagi Aulia yang sudah kopdar bersama Kenny datang beserta anak-istri plus nasi pecel yang uenak tenan untuk sarapan. Siang, Kang Putu beserta anak-istri yang baru saja balik dari Purwodadi mampir pula. Sore, Nining “si adik tiri” datang bersama suami dan memberi tahu akan mantu anak pertama Oktober nanti (ridhoi rencana mereka, Tuhan!). Bakda isak, rezeki teman rezeki persaudaraan hari itu disempurnakan oleh keluarga Syamsul, salah satu soulmate yang kerja di majalah Gatra.

Minggu malam, Entik bergumam, “Tahun depan, kita mesti satukan silaturahim yang gencal-gencil ini.” Aku berkerut dahi. “Mampukah kita?” tanyaku. Entik mengangguk. “Insya Allah, mampu…”

Tuhan yang Maha Berdaya, kalaupun bukan doaku, dengar dan kabulkanlah doa istriku…Please, Gusti!

Thursday, September 17, 2009

Ulang Tahun “Termewah”

SUNGGUH, rasanya baruuuu saja aku nulis puisi di blog sebagai hadiah ulang tahun untuk Entik dan Tia, eh, kemarin (16 September) keduanya kembali ulang tahun. Entik ke-45, Tia ke-16. Setahun berlalu, tak hanya begitu cepat, tapi juga singkat. Dan aku? Lagi-lagi “kelabakan”. Apalagi sekarang, baru saja “terjun bebas”, tak bisa memberikan hadiah kecuali ciuman….

Tapi sungguh juga, Allah Mahasayang Maha Pemurah. Dalam keserbaterbatasan kami, ulang tahun “duo virgo” tahun ini malah jadi ulang tahun “termewah”.

Kemewahan pertama: hujan yang cukup lama lenyap, turun begitu deras saat kami berbuka puasa. Sejuk luar dalam rasanya. Lalu… listrik mati! Mau tak mau, kami mesti menyalakan beberapa lilin sekaligus. “Ulang tahun dan buka puasa jadi romantis nih,” kata Entik. Saat lampu menyala, yang tak ulang tahun turut berebut tiup lilin. “Kita ulang tahun sekarang juga ya, Mas?” kata Gigih pada Biru.

Kemewahan kedua: karena hujan begitu deras, kami memutuskan untuk tak ke masjid dan tarawih berjamaah di rumah. “Tapi Bapak harus ceramah lho, aku catet,” kata Biiru yang tahun ini punya buku kegiatan Ramadhan hanya demi rebutan tanda tangan pengisi kultum. Kuangguki karena aku tak mau melewatkan kemewahan ini: “merayakan” ulang tahun istri dan anak dengan tarawih (hahaha).

Kemewahan ketiga yang subhanallah banget: saat hendak “ceramah” itu, baru aku tersadar, ulang tahun Entik dan Tia kali ini bertepatan dengan malam ke-27 Ramadhan, salah satu “malam favorit” pada sepuluh hari terakhir puasa. Wow! “Mari kita kejar lailatul-qadar dengan zikir terafdol, yaitu mengaitkan segala gerak dan apa pun yang kita alami dengan Allah. Selalu ingat Dia dalam berdiri, duduk, rebah… bahkan berjalan ke mana pun,” kataku. Biru bertanya, “Jadi, judul ceramahnya apa, Pak?” Hhhh…

Kemewahan keempat: kemarin malam itu, Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng hadir dalam acara konser rebana di halaman Gedung DPRD Jawa Tengah. Begitu hujan reda, sekitar pukul 9 malam, kami sepakat untuk “iktikaf” bersama sebanyak mungkin orang di sana. Tia semangat karena tanggal 25 Agustus lalu dia tak bisa ikut hadir dalam rutinitas Gambang Syafaat. “Ulang tahun Ibuk dan Mbak Tia top banget ah, bisa nanggap Kiai Kanjeng…” kataku saat dalam perjalanan. Ulang tahun yang kuyup dengan shalawat Nabi. Indah sekali!

Kemewahan kelima: usai konser rebana, kami jalan kaki ke Simpanglima untuk sahur di warung nasi liwet lesehan bawah Matahari. Penutup “acara ultah” yang amat melahapkan. Sembari makan, sesekali aku curi-curi pandang, menatap wajah Entik dan Tia berganti-ganti. “Limpahi keduanya kebahagiaan dan umur yang manfaat, Gusti…..” doaku dalam hati. Dalam sekali.

PS: Thanks untuk Didin Suwungnana yang bersilaturahim di tengah “iktikaf”, mengantar Biru ke toilet, dan kembali dengan minuman plus kacang godok. Panjang umur luas rezeki ya!

Sunday, September 13, 2009

Seperti Yang Terjanjikan

SETIAP Ramadhan, “menu utama” buka puasa kami tak pernah berubah: teh hangat (aku dan entik) atau es teh (anak-anak) dan mendoan. Makan boleh apa saja, bahkan mi instan sekalipun, tapi si pembuka tetap sama. Jika sehari saja menu utama itu tak terhidang, karena Buk Min si penjual sayur lupa atau kehabisan tempe misalnya, pasti terasa ada yang kurang.

Beli mendoan di luar? Dua atau tiga tahun lalu pernah begitu dan Biru protes keras: “Kok beli sih? Ibuk bikin sendiri dong… Rasanya beda, lebih enak mendoan bikinan Ibuk.”

Jika diukur dengan lidah obyektif, sangat bisa jadi mendoan kami kalah rasa dibandingkan dengan mendoan yang dijual di pinggir-pinggir jalan itu. Namun bukankah “rasa enak” tak hanya urusan indera pencecap? Buktinya, satu saja di antara kami tak hadir saat berbuka, “rasa enak” itu berkurang.

Jadi begitulah. Setiap hari, saat buka, kami berlima (Gigih belum puasa tapi selalu turut heboh saat magrib tiba) duduk melingkari meja dan “khusuk” menikmati menu utama. Kami beranjak untuk shalat magrib berjamaah, biasanya, setelah teh dan mendoan tandas-das!

Ramadhan tahun ini, alhamdulillah, “kekhusukan” itu bertambah karena Tia yang tahun lalu menjalani Puasa bersama komunitas belajarnya di Kalibening, Salatiga, kini memilih berpuasa di rumah. Aku yang tahun lalu masih bekerja di Harian Umum Suara Merdeka dan karenanya kadang-kadang harus berbuka di kantor, kini full pula di rumah. Walhasil, seperti yang terjanjikan, saat berbuka adalah “pahala pertama” yang ternyata sudah tiada tara.

Karena itulah, terutama tahun ini, “berat” bagiku untuk menerima ajakan atau menghadiri acara buka bersama di luar. Buka bersama Sabtu sore di masjid dekat rumah pun tak bisa menggantikan kekhusukan dan “rasa enak” itu, apalagi buka puasa di mal atau hotel…. Ajakan bertemu untuk ngobrol atau “menggagas proyek bersama” pun aku angguki asal setelah tarawih.

Sungguh, sadar benar aku, ini anugerah yang tak main-main. Sungguh, rahman-rahim Allah begitu melimpah-ruah, khususon bagiku yang belum juga bisa berjauh-jauh dari khilaf dan dosa. Matur sembah nuwun, Gusti…. Matur sembah nuwun…

Catatan:
Sampai hari ini, lima kali aku buka puasa di luar. Hanya satu yang memberiku kesan berbeda, tak terasa sebagai basa-basi pergaulan belaka: Sabtu kemarin, berdua saja dengan…. Ah, tak usahlah kusebutkan siapa. Cukuplah aku, dia, Entik, dan yang gaib-gaib yang tahu.