BULAN ini Biru dan teman-temannya di SD Alam Ar-Ridho sedang riang gembira mengeksplorasi tema “hewan”. Dan karena itu, nyaris setiap hari dia minta, “Buk, beliin kelinci, Buk.” Sibuk pula dia membuat kandang kelinci dari kardus. Belum sempat kami belikan, suatu hari dia bilang, “Ndak usah wis. Aku dan teman-teman mau beli sendiri di Bandungan pas outing nanti.”Pada hari outing itu, selain ke Bandungan juga ke kebun binatang Mangkang, sore Biru pulang “bersama” seekor kelinci putih imut dan lucu. “Wah, kok kecil sekali. Kenapa gak beli yang gede?” Tanya Entik. Biru menjawab cepat, “Yang besar mahal, Buk!” Dia taruh kelinci itu di kandang kardus, dia beri kangkung dan wortel. Dia amati dengan mata “jatuh cinta”.
Saat ikut Tia keluar rumah, dia titipkan kelinci itu pada Gigih. Tak lama, Gigih teriak, “Pak, kelincinya mau dimakan Pusi!!!” Aku yang sedang asyik nulis di kamar segera keluar. Wahaaa!!! Pusi, kucing piaraan kami, sedang berusaha meraih kelinci itu dari lubang kardus. Saat Biru pulang, Gigih cerita soal itu. Biru pun marah pada Pusi. “Kalau nakal, kamu kubuang lho, Pus!” katanya.
“Ya nggak boleh gitu, Mas. Ada piraan baru kok terus mau buang piaraan yang lama…” kata Entik. Biru menyahut, “Lha Pusi nakal!” Aku menimpali, “Itu kodrat binatang, Mas. Yang kuat akan memangsa yang lemah… Ati-ati aja. Taruh kelinci itu di tempat yang tak terjangkau Pusi.”
Malam itu, aku dan Entik menghadiri ijab-kabul pernikahan keponakan. Baru saja beramah-tamah dan duduk, Biru menelepon dari rumah. Dengan suara bergetaran tangis, dia mengadu, “Pak…. kelincinya mau dimakan Pusi… udah kutaruh di atas, tapi tetep aja Pusi bisa ngambil. Kelincinya berdarah, Pak…. kakinya digigit Pusi. Bapak cepet pulang!!!”
“Wah, nggak bisa Mas, Bapak baru aja sampai. Kok nangis sih? Waduh, belum lama jadi piaraan udah gitu. Kalau lebih lama kayak Pusi, gimana itu?”
“Kalau kelinci ini mati gimana, Pak? Ini kan dibeli dengan uang teman-teman. Kalau mereka marah, gimana?”
“Bapak udah bilang, itu kodrat binatang. Yang kuat memangsa yang lemah. Pusi nggak tahu kelinci itu dibeli dengan uang teman satu kelas, Pusi juga nggak tahu kelinci itu bagian dari pelajaran sekolah…. Udah, kamu obati dulu aja lukanya, minta bantuan Mbak Tia…”
Satu jam kemudian, Biru telepon lagi. “Bapak pulang jam berapa?”
“Nanti, setengah sepuluh. Kamu tidur aja dulu…”
“Nggak! Aku nggak mau tidur. Aku mau jaga kelinci ini biar nggak diterkam Pusi lagi!”
Ketika aku dan Entik pulang, Biru benar-benar sedang menjaga kelinci itu –di kamar kami dengan mata sembab pula. “Tadi Biru marah dan nendang Pusi,” kata Tia. Aku menatap Biru. “Kamu nggak sayang lagi sama Pusi?” tanyaku. Biru tersendat menjawab, “Ya sayang, tapi aku juga sayang kelinci ini. “
“Ya udah, bawa ke kamar kamu…” kata Entik sambil membuka kandang kardus itu. “Mana lukanya? Sudah dikasih obat merah kan?” Tapi…. “Wah, Mas, kayaknya… udah mati ini… udah kaku begini…” Dia ambil kelinci itu dan memang sudah kaku, sudah mati. Tak ada yang bisa mencegah, Biru nangis lagi.
“Bulunya halus sekali ya…” kata Entik.
“Bulunya halus tapi matinya kasar!” sahut Biru, sangat geram (pada Pusi pasti).
“Sudahlah…. Pusi nggak salah, dia nggak tahu…” selaku.
“Kalau besok teman-teman marah sama aku gimana?”
“Ceritakan saja semuanya dengan jujur, terbuka. Pasti teman-temanmu paham. Sekarang, kita kubur saja kelinci ini. Oke?”
Malam itu juga bersama Tia, Biru, dan Gigih aku menggali tanah dan “menanam” kelinci yang imut yang lucu di bawah pohon belimbing…. sambil deg-degan juga membayangkan apa yang akan terjadi saat Biru menghadapi teman-teman sekelas.
* * * * *
BESOKNYA, saat mengantar bekal makan siang, aku temui Biru di kelas IV-A. Bu Yayuk, guru mereka, sedang duduk lesehan dalam kerumunan beberapa murid. Murid-murid yang lain ribut “menggembala” kelinci yang lari ke sana kemari. Kandang-kandang kardus penuh sayuran ada di pojokan. Kelas yang hidup, bukan kelas yang sunyi, apalagi mati.
“Gimana, Mas, udah kamu ceritakan dengan jujur dan terbuka? Teman-temanmu gak marah kan?”
“Udah. Nggak, nggak marah. Cuma banyak tanya. Kami masih punya tujuh kelinci lagi kok,” jawabnya sambil tersenyum.
Aku tersenyum juga. Senang karena tema “hewan” tak hanya memberinya pelajaran tentang jenis-jenis hewan, jaring-jaring makanan, rantai makanan, atau simbiosis mutualisme/parasitisme, tapi juga pelajaran bagaimana menghadapi kenyataan tak terduga, bahkan pahit, serta mengelola kesedihan dan mengatasi rasa takut yang sering tak beralasan. Untuk itu, memang hanya Alam yang bisa mengajarkan….
