Friday, November 27, 2009

Tanpa Ragu


SALAH satu yang aku sukai saat menjemput Gigih pulang sekolah, sekaligus mengantar bekal makan siang untuk Biru, adalah mendapat laporan langsung. Baik dari Gigih atau Biru maupun dari guru mereka. Pada awal-awal masuk Juli-Agustus, misalnya, Bu Ira bilang, “Tadi Gigih nangis lho, Pak…” Begitupun Bu Silvi, “Gigih habis jatuh, Pak. Sedikit luka, sudah dikasih betadin tadi.”

Aku pun bertanya pada Gigih. “Kok nangis napa?” atau “Tadi jatuh di mana? Kok bisa jatuh, gimana ceritanya?” Lalu dia pun bercerita, “Aku takut naik ke atas prosotan pakai tali…” atau “Pas lari-lari, didorong teman, ya jatuh.” Dan aku selalu menggoda dengan pertanyaan, “Pas jatuh tadi, nangis juga nggak?” Mantap dia menjawab, “Ya nangis to ya, sakit-ok!”

Pada hari otbon yang lain, sebelum Bu Ira, Gigih lapor lebih dulu. “Pak, aku dah bisa naik prosotan pakai tali. Sekarang nggak takut lagi!” Oho, itu laporan langsung yang menyenangkan. Maka aku bersemangat menyambut, “Ciiiiiaaaa, Gigih hebat!!! Sekarang, ayo balapan lari sama Bapak…” Dan kami pun lari, naik turun sesuai dengan kontur tanah, menuju tempat parkir kendaraan.

Teman atau guru sakit dan tidak masuk sekolah juga menjadi menu laporan langsung si Gigih. “Dinda tadi nggak masuk, Pak. Ihdin juga. Sakit, kata Bu Guru.” Kali lain, ini laporannya, “Pak, Bu Silvi nggak masuk, sakit…” Apalagi kegiatan-kegiatan saat “belajar”, selalu dia laporkan begitu aku datang menjemput, bahkan rencana esok hari. “Besok bawa baju ganti Pak, aku mau main air.”

“Di mana?” tanyaku. Gigih semangat menyahut, “Water boom to ya!” Di rumah, dia ceritakan juga rencana itu pada ibunya. “Ke water boom? Water boom yang di mana? Yang bener? Kok nggak ada surat dari Bu Guru?” usut Entik. Gigih cuek menjawab, “Ya nggak tahu.” Besoknya, saat aku jemput pulang, Gigih yang sudah ganti pakaian langsung laporan, “Ternyata nggak ke water boom kok Pak? Tapi tetep main air. Tadi nyuci motor sambil ciprat-cipratan!” Aku terbahak. “Nyuci motor siapa? Bu Ira atau Bu Silvi?” Hehehe…

* * * * *

SAAT mengantar bekal makan siang ke kelas Biru, IV-A Semangat, yang kutemui tak hanya anak kedua kami itu, tapi juga teman-temannya. “Bilaaaaalllll (ini panggilan Biru di sekolah), dicari bapakmu!” teriak mereka selalu. Dari mereka pulalah aku mendapat laporan langsung. Saat Biru tak ada di kelas, aku tanya pada mereka, “Biru mana?” Ada yang bilang tak tahu, ada pula yang menjawab, “Main internet di warnet sana, Pak.”

Kadang-kadang aku tak perlu ke kelas karena Biru sedang belajar di luar. Dan kalau tahu aku datang, dia pasti teriak dari kejauhan. “Bapppppaaaaaakkkkk, Ibuk masak apa?” Oho, aku jamin, siapa pun yang sekarang sudah menjadi bapak, tak akan pernah melupakan momen teriak-panggilan seperti itu. Senang, bangga, bahkan bahagia! Sambil menyerahkan bekal, biasanya aku bilang, “Apa pun makanannya, Ibuk memasak dengan cinta. Jadi, bersyukurlah dengan makan bekal ini sampai habis.”

Beberapa hari yang lalu, aku cari Biru ke kelas, tak ada. Ke lapangan depan, belakang, saung, juga tak ada. Kutitipkan bekal itu pada Baril, salah satu temannya yang bilang, “Bilal belum pulang…” Ketika aku ke tempat parkir, kulihat Biru dengan membawa tali beserta guru otbon dan beberapa temannya keluar dari “hutan kecil” di seputar sekolah. Kutunggu dia. Dan inilah laporan langsungnya dengan kaos dan celana kotor. “Capek aku, Pak. Tadi naik bukit, nggak pakai alat bantu apa-apa. Aku berusaha dan bisa!”

Laporan langsung Biru kemarin membuatku kian “menyukai sekolah alam”. Begitu menerima bekal di kelas, dia berbicara gagap menirukan peran Azis Gagap di Opera van Java: “Akkkk…kkku hhhhaaaa… bis tiddd…dur… tadi.” Beberapa temannya tertawa. Bicara gagap itu jelas bercanda, tapi tidurnya, tidak. Biru pernah bercerita, murid boleh tidur di kelas kalau memang benar-benar ngantuk. Waktu aku sedikit protes, “Kok gitu sih?” Jawaban Biru amat telak, “Ngantuk disuruh belajar, mana bisa masuk? Tidur dulu bentar, bangun, terus belajar lagi…”

Mendengar laporan langsung tanpa ragu seperti itu, sungguh, amat menyenangkan…

Monday, November 23, 2009

Moonlight Dinner

episode yang belum selesai

I : aku
Mengambang aku di segelas sexyblue ketika debur ombak tak menemu pantai dan rindu bulan pada purnama kembali tertelikung waktu. Gemuruh dalam jauh beribu daun berebut luruh. Angin kehilangan mata namun tak ada luka selain lagu yang belum kita tulis dan nyanyikan bersama. Catat baik-baik terserah di buku apa: mungkin kita masih juga!

II : sexyblue
Kubiarkan kau mengambang hingga waktu tak punya makna di luar rasa –apalagi malam merampas senja begitu tiba-tiba karena nawangwulan yang kau sandera dengan soneta bisa terbang tanpa selendang. Tapi tidakkah kau iba pada kekasihku, sexyblue juga, yang menggigil di seberang meja? Rusuh tak tersentuh bersahut pantun dengan keluh…

III : bulan
Siapa melukis ini: seorang lelaki, dua gelas sexyblue, dan sepi termati. Warna terperangkap resah mendung yang tak hendak menghujan. Tanda tangan dan tanggal di sudut kanvas kabur ke alas kabut setelah mencuri cahaya yang kupendarkan semenjak senja. Siapa melukis ini: aku meliuk-liuk di atas alun dalam tiupan saksofon paling ngungun!

IV : kamu
Bukan aku tak suka pada malam dan bulan yang menjemba rindu dari sudut terjauh. Aku hanya belum mampu membaca siapa kita yang tak punya tanda selain tanya dan koma….

Wednesday, November 18, 2009

So, Jangan Pernah Biarkan...

TIA jenuh. “Gitu-gitu melulu…” katanya soal Komunitas Belajar Alternatif Qaryah Thayyibah, Kalibening, Salatiga, tempat dia belajar memandirikan diri. Dan itulah memang “penyakit” utama setelah malas dalam sebuah komunitas belajar yang semua berpulang pada diri sendiri. Tak ada yang menyuruh, apalagi memaksa untuk begini-begitu selain diri sendiri.

Ketika sebagian (besar) sedang terlanda “kemalasan”, tak bisa tidak, sepilah “sekolahan”. Setiap murid sibuk dengan diri sendiri. Kemarin, hari ini, dan esok seolah tak berbeda. Yang muncul kemudian, menurut pengalaman Fina dan kawan-kawan (angkatan pertama komunitas itu) adalah kevakuman. Dan dalam kevakuman, setiap pribadi, termasuk Tia, sangat mungkin jenuh, bosan!

“Apa yang aku baca dan dengar dulu, gairah belajar yang begitu menyenangkan di Q-Tha, gak tampak sekarang,” tulis Tia dalam report-nya pada si bapak ini beberapa waktu lalu. “Padahal, aku pengin banget merasakan itu….”

Tapi dalam report itu juga, ini yang aku kagumi (sekaligus khawatiri), dia menyatakan tak akan mundur, bahkan akan berusaha mengajak teman-temannya untuk mengembalikan gairah belajar yang pernah ada.

Saat pulang tempo hari dan dia bilang “jenuh” itu, aku bertanya, “Mau kembali ke sekolah formal aja?” Cepat dia menjawab, “Gak!” Aku tawarkan solusi lain: homeschooling tanpa “meninggalkan” komunitas. Jadi, belajar apa saja di rumah tapi tetap keep contact dengan teman-temannya di Salatiga lewat “gelar karya” sesekali waktu. Tia menggeleng. “Bulan ini ada proyek yang harus kami kerjakan, bikin majalah dan film,” katanya. Lalu soal jenuh itu? Dia akan coba atasi sendiri.

Sebagai orang tua, bapak, mau tak mau aku harus berdiri pada posisi wait and see. “Setelah selesai suatu urusan, segeralah pindah atau selesaikan urusan yang lain. Itu Tuhan yang bilang, Nduk. So, jangan pernah biarkan waktu terbuang percuma… “ kataku saat dia pamit balik ke Kalibening.

Thursday, November 12, 2009

Weh!

AGAK-AGAK aneh, tapi beginilah nyatanya: begitu back to home, ada saja teman yang mengajak bersibuk-sibuk atau memberi “pekerjaan”. Dari yang memang sudah biasa seperti jadi moderator, narasumber, trainer plus motivator (haiyah, gaya!), bikin buku, desain tabloid/bulletin sampai yang di luar kebiasaan: bikin rancangan iklan dan acara televisi.

Akibatnya, agak-agak aneh, back to home tapi malah sering juga keluar: ketemu siapa di mana pukul berapa. Dari kafe di mal sampai warung wedang kacang ijo atau segakucing. Waktu yang tak bisa diganggu-gugat memang waktu antar-jemput anak sekolah itu. Selebihnya, fleksibel, tergantung permintaan dan kemungkinan manfaat. Baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun bagi banyak orang (ini jelas sok-sokan).

Entik bilang, “Bapak ini nganggur kok malah jadi kelihatan sibuk!” Iyah, kelihatan karena memang belum jelas hasilnya. Hehehe… Tak apa. Toh proses (belajar) bisa jauh lebih penting ketimbang hasil. Lagipula, Tuhan tak pernah tidur kan?

Kesibukan yang terdekat di luar panggung blablabla adalah merancang tampilan buletin/majalah kampus, bikin talkshow “Sem(b)arangan” dan serial “Kafe Bandungan” untuk TVRI Jawa Tengah (bersama banyak kawan tentu saja), serta peluncuran buku kumpulan cerpen Suicide karya Latree Manohara.

Lucunya, saat ngobrol dengan Latree, baru aku ingat bahwa buku kumpulan cerpenku Di Kereta, Kita Selingkuh itu belum pernah diluncurkan secara resmi. Weh!

Tuesday, November 10, 2009

Libur Teruuussss…

KEGIATAN rutinku setiap pagi seperti mengulang kegiatan sepuluh tahun lalu: antar-jemput anak sekolah. Dulu si sulung Tia, sekarang si bungsu Gigih dan kakaknya, Biru. Pukul 07.00 aku antar keduanya ke Sekolah Alam Ar-Ridho, sekitar 6 km dari rumah, melewati dua “perumahan atas”, Bukit Sendangmulyo dan Puri Dinar Mas. Sekolah mereka berada persis di mulut Perumahan Bukit Kencana Jaya.

Sebelum Gigih masuk TK tahun ini, Biru turut mobil antar-jemput. Makan siangnya pun, karena sejak kelas III sekolah hingga asar, dia ikut kateringan. Sekarang, kelas IV, beda. Apalagi setelah aku fokus hanya nulis di rumah. Dia pulang (sore) bersama banyak teman dengan mobil jemputan, sedangkan bekal makan siangnya aku antar saat aku menjemput Gigih pukul 11.00.


“Lucu juga ya kerjaanku sekeluar dari Suara Merdeka, antar-jemput anak…” kataku suatu pagi saat ngobrol dengan Pak Doni di lab multimedia. Salah satu guru Sekolah Alam Ar-Ridho itu menyahut dengan suara pelan-sopan, “Disyukuri saja, Pak. Banyak lho orang tua yang pengin nganter anak sekolah tapi tak bisa karena terbentur jam kerja. Pak Budi enak, bisa menunjukkan perhatian dan rasa sayang pada anak dengan cara seperti ini juga…. Tak cuma membelikan buku atau bayar SPP.”

Sejak awal rutin mengantar-jemput Gigih, seperti ketika dulu mengantar-jemput Tia, aku memang jadi “pemandangan” yang berbeda di antara kaum ibu yang mengantar-jemput anak mereka. Kalaupun ada kaum bapak, hanya satu dua, plus dua tiga kakek yang mengantar-jemput cucu. Aku yakin, para ibu itu mbatin, “Hari gini kok ya ada suami yang punya waktu longgar begitu. “ Apalagi, kadang-kadang, aku “menunggui” Gigih hingga pulang sambil nulis di saung atau memanfaatkan hotspot free di Ar-Ridho.

Yang aku batin itu terbukti saat seorang ibu ertanya pada Gigih, “Kok diantar-jemput papa terus? Mama kerja ya?” Sebagaimana adatnya, Gigih spontan menjawab, “Nggak. Ibuk di rumah, jaga warung!” Terbukti lagi ketika Entik bayar SPP atau pas acara halalbihalal bulan lalu. Dia bertegur-sapa dengan ibu-ibu yang lain dan dapat pertanyaan ini: “Kok yang nganter Gigih bapaknya terus?” Santai Entik menjawab, “Lha bapaknya nganggur… Nganter anak kan jadi manfaat.”

Yang paling repot ketika ada guru yang tak begitu dekat atau bapak-bapak yang sesekali punya kesempatan menjemput anaknya menyapa dengan pertanyaan, “Libur, Pak?” Aku jawab libur, kok ya terlalu sering. Aku jawab tidak, pasti harus menjelaskan lebih panjang bagaimana pola kerjaku sekarang. Akhirnya, ya tertawa dan menjawab singkat, “Saya libur terus kok….” Yang bertanya turut tertawa karena menganggap aku guyon belaka. Lumayanlah, meski “nganggur”, bisa membuat orang tertawa.

Saturday, November 07, 2009

“Tenan Lho Ya!”

ROSI Simamora, salah satu editor buku Gramedia Pustaka Utama, melalui facebook berhasil ”memprovokasi”-ku untuk menulis buku edutivity: cerita bergambar plus aktivitas, tentu untuk anak-anak. Awalnya, aku tulis satu cerita contoh yang berangkat dari komentar dia di wall-ku tentang cicak. “Siiip Mas, bagus…. Tapi ya jangan cuma satu, bikin lima sekalian!” katanya via email.

Aku gembira sekaligus pusing sebab meski bukan cerita panjang, nulis satu judul saja harus mengerahkan aneka jurus kepenulisan, apalagi tambah empat lagi. Menolak tantangan jelas pantangan. Namun ribet “urusan” kantor (saat itu aku masih kerja di Suara Merdeka) membuat proses menulis itu tersendat-sendat. Cerita kedua jadi, tak bisa lanjut ke cerita berikutnya.

Syukurlah, Tuhan yang Mahabaik memberiku jalan. Begitu aku berketetapan hati untuk fokus menulis dan pamit berhenti dari Suara Merdeka (3 Agustus 2009), tiga cerita berikutnya mengalir begitu rupa. Setelah kuedit sana-sini, aku minta Tia dan Biru untuk membaca. Deg-degan kutunggu komentar keduanya. “Bagus!” Yesss!!! Tapi kurang lengkap juga kalau tanpa komentar Gigih, si TK-kecil itu.

Suatu malam menjelang tidur, seperti biasa dia minta dibacain buku. Segera kumanfaatkan kesempatan itu untuk “promo” cerita sendiri. “Bapak bacain karya Bapak ya?” tanyaku sambil membawa naskah ke tempat tidur. “Bukunya mana?” tanya Gigih. Aku menjawab, “Ini masih naskah, belum jadi buku. Tapi ceritanya bagus lho.” Ternyata… tegas dia menolak, “Nggak mau. Nggak ada gambarnya. Jelek!” Setelah beberapa kali mencoba tetap gagal juga, ya wis, aku kirim empat cerita berikutnya itu via email ke Rosi Simamora.


Tak lama, Rosi mengirimiku contoh ilustrasi, via email juga. Wow! Bagus sekali. Kutunjukkan “halaman 1” salah satu judul cerita itu pada Entik, Tia, Biru, dan Gigih. Semua suka. “Kok jadi bagus ya?” komentar Gigih. “Nanti malem bacaain ya, Pak!” Haiyah, baru satu halaman contoh, gimana caranya? Di komputer pula. Tapi karena pengin ngerjain Gigih yang kemarin-kemarin menolak tegas dan bilang jelek, aku bacakan juga malamnya. Ya cuma awalan cerita itu. “Lho, kok gitu thok?” tanyanya. Hahaha… kena dia. “Baru satu yang digambar. Entar kalau udah jadi buku, baru bisa baca semua…” kataku.

Tak lama pula setelah itu, Rosi mengirimiku contoh ilustrasi lima karakter cerita. Lagi-lagi kutunjukkan pada orang serumah. Sangat kelihatan, Gigih yang paling kemecer sampai dia sentuh layar komputer. Ingin benar dia mengambil “buku” itu. “Ini ceritanya juga belum selesai, Pak?” tanyanya. “Ceritanya udah, gambarnya yang belum. Nanti kalau udah semua, dicetak, dan jadi buku, pasti Bapak bacaiin.” Gigih tersenyum senang tapi tetap minta tanda kesungguhan, “Tenan lho ya!”

Aku mengangguk mantap.

“Ibuk DP-nya aja, nggak usah dibacain…” sela Entik.

Aku menggeleng, jauh lebih mantap. Dia pun mencubit –seperti dulu, dulu sekali…. “Aow!”

“Heh, heh! Udah tua-tua kok guyon!” sergah Biru. Renyahlah seisi rumah.

Friday, November 06, 2009

daripada daripada


SAMPAI hari ini, masih juga ada yang bertanya, kenapa atau apa alasan paling mendasar aku keluar dari Suara Merdeka, koran terbesar dan tersebar di Jawa Tengah itu. Sampai hari ini, masih juga ada yang “menganggap” aku emosional, grusa-grusu, dan memberikan reaksi yang tak proporsional atas “penghapusan” Kantin Banget , halaman remaja yang selama empat tahun menjadi salah satu tanggung jawabku sebagai redaktur di sana. Sampai hari ini, masih juga ada yang “menyesali” langkahku membubarkan Geng Kantin Banget, komunitas yang lahir dari persinggunganku dengan pembaca (remaja). “Eman-eman,” kata mereka. Bahkan masih juga ada “teman” yang mengulang-ulang pernyataan, “Kalau soal sakit, bukankah semua kita sakit? Kalau soal terzalimi, kamu tidak sendiri, semua terzalimi. Kenapa mesti keluar?” Fiuuuhhhh….

Pada sebagian anggota (mantan) Geng Kantin Banget yang silaturahim ke rumah sambil membawa tumpeng halalbihalal beberapa waktu lalu, aku ceritakan bahwa sudah sangat lama aku amat berhasrat keluar dari Suara Merdeka, bahkan ketika mereka yang sekarang sudah SMA dan mahasiswa itu masih riang gembira nyanyi-nyanyi di bangku TK atau SD! Penghapusan Kantin Banget itu bukan sebab, melainkan hanya semacam “pintu keluar yang terbuka dengan tiba-tiba”. Dan aku membubarkan Geng Kantin Banget, selain karena secara formal mereka memang tak lagi punya cantolan, juga karena rasa sayang. Aku tak ingin mereka menemukan “tulang tanpa isi di ujung gang”. Aku ingin mereka segera “menyebar ke pekan-pekan seperti jamaah usai jumatan”. Bubar demi masa depan!

Dengan nada sangat bercanda, dalam kasus penghapusan Kantin Banget itu, Entik bilang, “Tuhan tak sabar lagi menunggu Bapak kuat iman untuk keluar…”

Sekitar dua atau tiga tahun lalu, Entik malah pernah menyatakan, “Kalau Bapak tak bosan jadi karyawan Suara Merdeka, Ibuk yang sudah bosan jadi istri karyawan Suara Merdeka.” Pernyataan itu dia ulang akhir Juli 2009 saat kami kembali memperbincangkan langkah terbaik bagi kami sekeluarga.

Naaaa… daripada dia akhirnya minta cerai karena “bosan” itu dan kemudian mencari suami lain, ya sudah, aku pilih cerai dari Suara Merdeka. Hahaha…!