Wednesday, March 24, 2010

Semoga Tambah Gigi…


USAI acara ulang tahun Biru, 21 Desember tahun lalu, Gigih mencanangkan: ulang tahunnya yang ke-5, 23 Maret 2010, “Harus seperti ini, ngundang banyak teman biar dapat banyak kado!” Aku dan Entik setuju. “Dan kalau buku Bapak udah jadi, jangan lupa, beliin aku seluncuran hotwil.” Aku mengangguk karena itulah janjiku saat dia minta arena untuk mobil-mobil Hot Wheels-nya.

Pertengahan Februari, lima buku edutivity itu terbit dan beredar. Gigih yang tahu ketika aku membuka situs gramedia.com, tentu saja senang. Senang karena bakal “dibacain buku karya bapak” dan “dibeliin seluncuran hotwil”.

Serta-merta dia mengajak ke toko buku, “Beli yuk!” Biru yang sedikit tahu, menukas, “Karya sendiri kok beli.” Gigih yang pernah kuberitahu bahwa menulis buku itu bekerja, tak mau kalah, “Ya nggak papa to, buku jadi kan Bapak dah punya uang.” Maka pelan-pelan kujelaskan pada Gigih soal nomor bukti bagi penulis. “Bapak akan dikasih sepuluh buku? Nanti Bu Ira dan Bu Silvi dikasih ya, Pak?” Ah, ingat guru dia.

Ternyata kami harus melalui ujian kesabaran… Biasanya, setengah bulan setelah tanda tangan surat perjanjian penerbitan, uang muka royalti datang. Dan sebelum atau maksimal setelah buku beredar, nomor bukti sampai pula di tangan. Kali ini, tidak. Menunggu, menunggu, menunggu… Akhirnya aku tanya juga via email ke Gramedia Pustaka Utama --demi anak serta beberapan teman yang antre buku gratisan dan traktiran (hahaha….).

Urus punya urus, uang muka royalti terurus, masuk rekening tanggal 10 Maret. Karena nomor bukti belum juga tiba, aku ajak Gigih ke toko buku. “Akhirnya beli karya sendiri jugak,” komentar Gigih dengan “senyum kemenangan”. Lalu setiap malam, dia tak hanya minta dibacain, tapi tidur bersama buku-buku itu. Sebagai pengarang, aku tersanjung dan bangga (gubrak bangetlah).


MINGGU 21 Maret, Gigih dapat undangan ulang tahun anak tetangga. Ingatlah dia pada rencana ulang tahunnya. Biru memprovokasi sambil bisik-bisik, “Gih, minta seluncuran hotwil, kan buku Bapak udah jadi…” Gigih menatapku dengan mata bekerjapan lucu. Aku menganggguk. Dia senang dan diam.

Masalahnya, sssstttttt, uang muka royalti itu nyaris habis. Dengan semangat dialog hati ke hati, kupangku Gigih. “Begini. Bapak beliin seluncuran, tapi ulang tahunnya nggak usah rame-rame ya, cukup sekeluarga aja.” Entik nimbrung, “Gak usah pakai kue tart gak papa juga ya?” Gigih diam, menimbang. Lalu, “Okeh… kuenya ganti kue bandung sama pukis. Terus, jalan-jalan ke mana gitu, renang atau apa gitu…” Aku ketawa. Wah, ya sami mawon!

Karena tanggal 23 itu Selasa, aku punya peluang mengulur waktu pemenuhan janji, “Oke, tapi jalan-jalannya Minggu aja ya biar bisa lama, kalau Selasa malam kan cuma sebentar. “ Gigih diam lagi, menimbang lagi, lalu.. “Nggak. Jalan-jalannya pas ulang tahun, ke mana-mana, naik taksi.” Hwaaaaa…!!!!

Hari-H, pagi, aku dan Entik mencari jalan keluar teraman. “Kita adakan yang bisa aja,” kata Entik. “Kue bandung dan pukis, harus. Ibuk, Bapak, Mas Biru, dan Mbak Tia ngasih kado satu-satu biar kelihatan agak ulang tahun. Hehe…” Sore, saat Gigih ngaji di masjid, kami cari kado. Tas sekolah (karena yang dipakai Gigih sudah jebol), kaleng tabungan, tempat minum, dan mobil Hot Wheels. Kami bungkus dengan ucapan khusus, satu-satu.

Malam, saat Entik dan Tia beli kue bandung, hujan turun. “Wah, Gih, deres banget ik. Nggak jadi jalan-jalan dong. Ulang tahunnya gimana neh?” tanyaku. Di luar dugaan, dia menjawab, “Ya nggak usah jalan-jalan. Ulang tahun di rumah aja. Tadi Ibuk masak apa gitu, dibungkus daun, makan itu aja.” Subhanallah! Matur nuwun, Gusti. Kau titipi kami amanah anak secerdas ini… Gampang sekali dia memahami dan menerima kondisi.

Entik dan Tia datang, basah kuyup. Pet! Mati lampu! “Sempurna,” kataku. “Tak perlu lagi mematikan lampu untuk acara tiup lilin.” Kami nyalakan empat lilin. Rumah yang sebenarnya berantakan jadi berasa romantis. Entik menyusun 10 pukis di atas “terang bulan” (sebutan orang Jawa Timur untuk kue bandung) dan menancapkan lilin angka 5. “Kita makan dulu ya,” putusnya.

Usai makan malam, sebelum bernyanyi dan tiup lilin, aku memanjatkan doa, antara lain, “Semoga Gigih cepet gede, makin cerdas, sholeh, rajin sholat rajin ngaji, tambah sehat, dan…..” Biru spontan memotong, “Tambah gigi!” Aku menyahut, “Iya, tambah gigih.” Biru menukas, “Bukan! Gigih kan ompong, jadi tambah gigi juga!” Gigih tertawa dengan bibir mengatup. Hahaha!!!

Kami serahkan kado satu per satu, Gigih membukanya satu per satu. Setelah semua terbuka, dia bertanya, “Lho, seluncuran hotwilnya mana, Pak?” Yaaah… ingat ik. “Besok Sabtu atau Minggu saat jalan-jalan, Bapak pengin Gigih milih sendiri,” jawabku sambil berdoa dalam hati, “Tuhan, kirimkan rezeki sebelum hari Minggu ya. Pliiissss….”

Saturday, March 20, 2010

“Kayake Bapak Kudu Diruwat…”

MUMPUNG belum lepas wudu, begitu terdengar azan isyak, aku letakkan novel Rara Mendut karya YB Mangunwijaya yang kubaca ulang demi membangkitkan kembali “ghirah sastra dalam jiwa”. Namun sebelum menggelar sajadah, terdengar teriakan “mbak-mbak” dari luar rumah. “Bu Budiii…!!! Biru nangis, kakinya sakit, nggak bisa jalan!”

Lhap! Malam itu malam Jumat (tepatnya Kamis 18 Maret). Yang terbayang, Biru jatuh dari sepeda. Dia main sejak sore. Habis magrib, Entik sudah ngrasani, “Biru ini kalau main mesti bablas, nggak pulang-pulang… Padahal seharian di sekolah kan wis kesel wong juga main melulu…”

Segera aku ke gang sebelah. Biru ndeprok dan nangis dalam kerumunan teman-temannya. “Mbak-mbak” yang tadi laporan lagi, “Jenthike kayaknya ketheklik, Pak… Nggak bisa mbalik.” Walah! Kulihat kelingking kaki kiri Biru. Yapz, benar, “noleh” ke kiri.


“Kenapa, Mas?” tanyaku. Dengan wajah takut dan sesenggukan, Biru menjawab, “Tadi main bola, jenthikku kenak kaki-e Akmal. “Ayo pulang!” kataku. “Sakittt Pak, nggak bisa jalan…” sahut Biru, makin nangis. “Berdiri dan jalan,” kataku sambil menuntun sepedanya. “Udah berapa kali Ibuk dan Bapak bilang? Magrib, pulang. Kalau magriban di masjid, ya pulang setelah sholat… Sekarang berdiri, jalan sendiri, pulang!”

Tertatih Biru berjalan dengan gaya nangis Nobita. Aku sedih, iba, tapi tetap dingin –karena berkali-kali Biru begini: tak menepati janji untuk pulang main sebelum atau pas magrib. Sampai di rumah, ketemu Entik, makin lebar saja tangisnya. Entik coba merawat dengan pijatan, tapi Biru melolong, “Ibuuuukkkk, sakit Buuukkk, haduh, haduh, sakit Buuukkkk…”

Aku menenggelamkan diri dalam Rara Mendut. Tak pernah aku tega melihat anak sakit, apalagi kesakitan. Entik pun menyerah. “Udah Pak, panggilin atau bawa ke tukang pijet aja.” Yah, bagaimana bisa tega ngrumat kalau anak melolong-lolong begitu. Biru menolak, “Nggak mau! Nanti jariku diuklek-uklek, sakiiiittttt!!!” Entik gemes, “Mau jarimu nggak bisa mbalik seperti ini? Mau sakit terus? Udah Pak, bawa aja ke Pak Juwari.”

Rumah Pak Juwari dekat saja, beda gang, depan masjid. “Ibuk ikut juga yuk,” pintaku. Biasanya, Entik mau. Kali ini, entah kenapa, tidak. “Bapak aja. Lagian, Pak Juwari kan laki-laki, gak elok kalau Ibuk yang nemenin Biru.” Kalah aku. Tapi mungkin karena lihat wajahku melas, Entik menyuruh Tia ikut. “Sana Mbak, temenin Bapak…”

Di masjid ada persiapan pengajian. Suara ngaji melengking-lengking lewat spiker. Aku bersyukur, karena lolong kesakitan Biru saat dipijat “teredam”. Biru juga bawa bantal Spider-Man (kado ultah dari Bu Pratmi, gurunya) , bantal yang dia gigiti untuk menahan sakit, tapi toh tak berhasil, tetap saja dia melolong saat Pak Juwari nguklek-uklek kelingkingnya. Suara tangis, jerit kesakitan, dan suara ngaji… Ufff…. Aku dan Tia sering saling pandang, sama-sama tak tega.

Seperempat jam kemudian, Biru tak teriak-teriak lagi. “Sudah berkurang kan sakitnya?” tanya Pak Juwari. “Iya, tapi masih sakit…” jawab Biru. Tambah sepuluh menit, pijat selesai dan kami pulang. Di rumah, Biru sudah bisa berjalan dengan lebih baik dan ngecipris soal pijat yang sakitnya minta ampun itu pada Entik.

Malam ketika anak-anak sudah masuk kamar untuk tidur, Entik rerasan, ”Kok beruntun ya, Pak?” Aku yang sedang pilih-pilih dvd koleksi, berkerut dahi, “Beruntun? ” Entik menyambung, “Lha iya… Februari lalu Tia jatuh dari motor, begitu sembuh, punggung Ibuk kecethit. Ibuk sembuh, Gigih jatuh. Sekarang, Biru… Kayake Bapak kudu diruwat. Potong aja rambut Bapak itu…”

Aku ketawa. “Kalau mikir ruwat model gitu, ngapain beragama Islam?” Entik menyahut cepat, “Kalau nggak mau, ya wis, nonton film aja…” Hahahaha… Walhasil, aku tetap gondrong dan kami nonton There Will Be Blood, menikmati akting ciamik si aktor kelas Oscar, Daniel Day-Lewis.

PS: Meski begitu, aku jadi ingat kata Sayyidina Ali: sedekah itu bisa menolak balak. Dus, bisa jadi, sekarang ini sedekahku (dalam bentuk apa pun) sedang di titik terendah. Bisa jadi. Wallahu a’lam…

Friday, March 12, 2010

4-U

akankah
kita bertemu
di segaris Waktu?

Wednesday, March 10, 2010

Saling Tatap hingga Lelap

SENIN 8 Maret, pukul 11.15, aku naik motor dengan sedikit gedandapan ke Sekolah Alam Ar-Ridho karena telat menjemput Gigih, sekaligus mengantar makan siang untuk Biru, kakaknya. Hampir sampai sekolah, baru saja keluar dan belok kiri dari Perumahan Dinar Mas, aku berpapasan dengan Bu Ira, guru kelas yang mengendarai motor sambil melambaikan tangan dan teriak, “Pak! Gigih di sini! Gigih di sini!”

Gigih di boncengan, dipangku Bu Silvi, guru kelas juga. Apakah Gigih nangis dan minta diantar pulang karena aku tak juga datang? Rasanya tak mungkin. Sebab, biasanya, dia malah berusaha memperpanjang waktu main meski jam belajar usai.

Aku balik kanan. Kukira Bu Ira berhenti di mulut perumahan dan menyerahkan Gigih, ternyata tidak. Terus bablas dengan kecepatan lebih malah. Pasti ada apa-apa. Kulihat dari jauh, Bu Ira belok ke gang tempat tinggalnya. Kok ke situ? Ke tukang pijat karena Gigih terkilir? Pertanyaan itu muncul karena Biru pernah jatuh dan keseleo di sekolah. Tapi alih-alih mengejar, aku pilih balik kanan lagi menuju sekolah.

Saat memarkir motor, aku segera jadi pusat kerumunan anak-anak SD yang sedang istirahat untuk sholat duhur. Mereka berebut melapor, “Bapake Gigih, Gigih tadi jatuh dari ayunan, kepalanya bocor…. Darahnya banyak sekali…. Sekarang dibawa ke rumah sakit…..” Wuah! Terbayang kepala Gigih berbenturan dengan ayunan besi. Fiuuuhhh… Ini sebabnya Bu Ira tadi tak mau berhenti. Pasti ke dokter.

Aku buru-buru berjalan ke kelas Biru. Anak-anak yang mengerumuniku segera pula mengekor. “Ayo kita ikuti bapake Gigih!” kata seorang di antara mereka. Sebelum aku naik ke kelas IV-A, ada yang memberitahu, “Bilal nangis Pak, di depan kelas A2!” Aku bersicepat ke kelas Gigih itu. Dan benar. Biru menunduk tersedu-sedu. Begitu melihat aku, dia makin mewek, “Kasihan Adik, Pak, masih kecil jatuh, kepalanya bocor… darahnya sampai ke baju.” Bahkan di antara kawan sebaya, Gigih memang kalah besar.

Aku tenangkan Biru. “Udah, nggak papa, Gigih udah dibawa Bu Ira ke dokter. Mau ikut ke sana?” Dia mengangguk sambil tetap menangis dan mengungkapkan kesedihannya. “Aku juga pernah jatuh di sekolah, pernah kejeduk sampai kepalaku berdarah, tapi nggak separah Gigih. Terus, aku kan sudah SD, sudah gede… Gigih masih TK, masih kecil… kasihan, Pak….”

Setelah menaruh bekal di kelas, Biru ikut aku. Kutelusuri gang arah Bu Ira belok tadi dan mencari rumah berplang dokter. Ketemu. Dalam pelukan Bu Silvi, Gigih menangis keras saat dokter berusaha menyetop darah dan membersihkan luka di belakang kepalanya itu. Aku dan Biru menunggu di teras. Sengaja aku tidak sms atau telepon Entik biar tak panik. Nanti saja sekalian pulang.

Dokter keluar dan…. “Lukanya dua senti, Pak, harus dijahit biar darahnya nggak terus mengalir…” Aku mengangguk, “Jahit aja, Dok!” Biru nangis lagi, iba benar dia pada adiknya. Apalagi saat Gigih kembali nangis keras saat di seputar lukanya disuntik bius. “Nggak papa, Mas, emang harus gitu daripada berdarah terus…” Kembali dia bilang, “Tapi Adik kan masih kecil…”

Saat menunggu bius bekerja, Gigih melirik keluar dan melihat kami. Kuputuskan pamit pada Bu Ira dan Bu Silvi. “Saya belum kasih tahu ibuknya. Saya pulang dulu, sekalian ngajak kemari.” Bu Ira dan Bu Silvi berniat mengantar Gigih pulang, tapi aku rasa, lebih baik Gigih pulang bersama kami dan dalam dekapan ibuknya yang sejak jatuh dan berobat itu alhamdulillah terwakili oleh Bu Silvi. Pada Gigih yang tak lagi nangis aku bilang, “Bapak nganter Mas Biru dulu ke sekolah ya?” Dia mengangguk paham.

Entik tentu saja kaget tak alang kepalang. Dia usai wudlu dan hendak sholat saat aku datang. “Sholat nanti aja!” kataku. Sampai di rumah dokter, semua telah menunggu. Gigih tetap di pangkuan Bu Silvi. Entik menggendong dan mendekapnya dengan ekspresi yang… ah, sulit, tak bisa aku tuliskan di sini. “Maaf ya Pak, Buk…” kata Bu Ira dan Bu Silvi saat kami pamit. Dan kami tentu berterimakasih karena keduanya telah bertindak cepat.

Dalam perjalanan, seperti hari-hari biasanya sepulang sekolah, Gigih langsung cerita soal jatuh dari ayunan itu. “Ceritanya nanti di rumah aja ya…” kata Entik. “Okeh,” jawab Gigih lalu membisu hingga kami sampai. Tia yang jaga rumah segera bertanya ini dan itu, Gigih pun menjawab seolah tak ada luka di kepala. Ceriwis seperti biasanya.

Siang itu, setelah makan dan minum obat, Gigih manut untuk bobok. “Tidur sama Bapak atau Ibuk?” tanyaku dengan penuh harap bakal terpilih. Dan ternyata, Gigih memang memilihku. Kami sama-sama miring. Dia miring kanan, aku miring kiri. Saling tatap dalam diam, banyak kata tak terucap, hingga terlelap…

PS: Terimakasih untuk Bu Aini yang menyampaikan pesanku untuk Biru, juga Pak Doni yang “mengamankan” ayunan (bersama Biru) dan esoknya bertanya via sms perihal kondisi Gigih. Selasa sore, Gigih sudah kembali main sepeda ke mana-mana dan ringan bercerita perihal luka di kepala itu pada teman-temannya. “Ya Allah, limpahi kami rezeki keselamatan dan kesehatan. Amiiinnn….”

Monday, March 01, 2010

Cobalah Tulis Puisi

sekali lagi
sangat berhasrat aku
melipat Waktu....

begitukah
kamu?

-- cobalah kau tulis puisi
untuk ku baca dengan hati (-hati)