Friday, August 05, 2011

“Ya Nggak Usah Bilang-bilanglah.”

RAMADHAN tahun lalu, meski masih TK, Gigih sudah puasa penuh. Kini dia kelas 1 SD dan paling heboh “menyambut”, bahkan sejak satu bulan sebelumnya. Nyaris setiap hari dia bertanya, kapan puasa. Selalu dia ajak ibunya untuk menghitung. Ketika kurang empat hari lagi, saat kami berdua berangkat jumatan, dia mengatakan, “Aku tu rasanya nggak tahan, pengin cepet-cepet puasa.” Weh!

Pada hari pertama, Senin 1 Agustus, pagi hingga sore semua berjalan sesuai dengan harapan. “Lomba lemes” serumah tapi tetap istikomah –minimal dalam puasa paling elementer: menahan haus dan lapar. Sekitar pukul 16.30 aku keluar dan balik menjelang buka. Begitu “assalamualaikum” dan masuk rumah, sudah dapat laporan dari si Biru. “Pak, tadi Gigih udah buka duluan…. Maem permen!”

Aku kaget. “O ya? Bener?”
Gigih tersenyum malu. “Dikit-ok! Aku cuma ngicipi.”
Biru menyela, “Dikit atau banyak sama aja, batal!”

Azan magrib menggema. Kami melingkari meja makan dan menikmati menu tetap berbuka: (es) teh dan mendoan. Kulirik Gigih yang minum dengan gerakan setengah hati. “Kalau tadi nggak maem permen, es teh itu pasti terasa lebih seger…” kataku. Dia, lagi-lagi, tersenyum malu.

“Kok bisa sih? Kan tahun lalu udah kuat puasa penuh?” tanya Entik.
“Tadi pipinya bau marimas jeruk…” timpal Tia.
“Lho, bukan permen to?” sambungku.
Gigih menggeleng, “Lha pas main itu Diah mingin-mingini-ok…”
“Pengin boleh, tapi karena puasa, tahan diri dong…”

TIBA-TIBA Biru cerita, “Aku dulu kelas I atau II, juga pernah mukah diam-diam. Habis main di sekolah, pulang ke rumah teman, lalu minum bareng-bareng. Waktu itu, ada ayam goreng. Semu pengin tapi nggak berani makan, takut ketahuan dari bau mulut.”

Seperti sebuah grup pengakuan, Tia menyambung, “Aku juga pernah. Haus buanget, nggak kuat, terus minum aqua. Sama siapa ya? O ya, sama Titis…”

Sambil ketawa, Entik menyela, “Sayangnya sekarang nggak ada genthong ya, Pak?”

Tia yang pernah mendengar cerita masa kecilku itu langsung komentar, “Bapak itu to yang minum air genthong siang-siang pas puasa.”

“O iya to? Wah! Ibu pernah gitu juga nggak?” tanya Biru.

Masih sambil ketawa, Entik menjawab, “Ibuk dulu minum langsung dari keran air PAM!”

“Hiyaaa… jadi semua pernah gitu ya!” simpul Biru.

Gigih tersenyum senang dan menghabiskan es tehnya dengan lebih semangat.

HARI kedua, sore-sore, Gigih yang sudah mandi siap keluar rumah untuk main. “Ini saat paling bahaya, banyak godaan untuk dia. Sebagian besar teman sebayanya nggak puasa penuh,” kata Entik.

Segera kupeluk bungsu kami itu dari belakang. “Ingat ya, Gigih sedang puasa. Kalau ada teman makan atau minum, tahan. Kalau ada yang nawarin, bilang, maaf, aku sedang puasa. Oke?”

Gigih diam sejenak lalu… “Ya nggak usah bilang-bilanglah.”
“Terus, kalau ada yang nawarin permen, jajan, atau minuman lagi?”
“Ya diam. Cuek aja!”

Aku dan Entik saling lirik dan senyum. Entah dari mana anak itu tahu, puasa adalah ibadah paling rahasia. Hanya atau cukup diri sendiri dan Yang Mahagaib-lah yang tahu. Mungkin dari “rasa bersalah” ketika mencicipi serbuk minuman instan itu.

Saat berbuka, Gigih tampak benar-benar menikmati es tehnya. Dari seruputan pertama hingga tetes terakhir. “Sama-sama es teh tapi jauh lebih seger dan nikmat ketimbang yang kemarin kan?” kataku. Dia mengangguk. Penuh percaya diri. Mantap.

Thanks atas taufik dan hidayah-Mu, Gusti. Thanks berat!

3 comments:

An Maharani Bluepen said...

pengalaman mengesankan, Pak..^^

budi maryono said...

an= oh, lebih dari itu....

Zilian said...

om2, aq belum pernah mukah wkt kecil. Udah gede malahan pernah. Gara2 dipaksa harus mbatalin.. Tp gpp kan om2? :D