Friday, September 30, 2011

Kunyit van Langit

MOMO, kucing kesayangan kami, lenyap lagi. Tak juga tertemukan meski telah kami cari ke sana kemari. Maka kami putuskan untuk menunggu –seperti dulu. Ternyata, ia benar-benar tak kembali. Butuh sekian waktu bagi kami untuk mengatasi rasa kehilangan itu, butuh sekian waktu pula untuk tak saling bertanya, “Momo mana sih?” atau “Wah, kalau ada Momo, tikus-tikus kecil itu nggak bakalan berani masuk rumah!” atau lagi “Ada kepala ikan nggak ada Momo, rasanya kok gimana gitu ya…”

Setelah rasa kehilangan berkurang, kami mulai berbincang tentang mencari kucing pengganti. “Yang masih kecil aja. Selain lucu, karena pasti suka bermain, bisa kita latih juga untuk ini dan itu. Paling nggak ya seperti Brandal, kucing saat Mbak Tia masih bayi dulu, mau jalan-jalan dan datang hanya dengan satu siulan,” kata Entik.

Belum lagi kami mencari, suatu malam terdengar suara krusak-krusek di atas eternit. Malam berikutnya, makin krusak-krusek. Malam berikutnya lagi, terdengar suara “tangis” kucing-kucing kecil. Tak hanya ramai tapi ribut sekali. Sedikit mengganggu tapi kami biarkan saja. Kejam benar mengusir (ibu) kucing dan anak-anaknya yang masih bayi kan? Toh, sebagaimana adat kucing, suatu ketika pasti pindah tempat untuk mengamankan diri.

Lebih seminggu kemudian, “tangisan” kucing di atas eternit itu makin sering (tak siang tak malam), kian kencang, dan terdengar menyayat seperti tangis anak kehilangan ibu. Kami menduga begitu karena rasa-rasanya kok hanya ada satu tangisan, tak lagi ribut bersahutan. “Pasti ini anak kucing yang ketinggalan. Entah lupa entah gimana, induknya yang boyongan nggak balik lagi… Ambil aja, Pak, kasihan…” kata Entik saat kami tak bisa tidur hingga larut malam karena suara anak kucing itu. “Ya, besok pagi sepulang nganter anak-anak sekolah,” jawabku.


BESOKNYA, begitu aku balik dari sekolah alam bersama Entik, Tia menyambut, “Nggak perlu naik ke eternit, Pak, kucingnya udah jatuh tuh!”

Terdengar jeritan anak kucing dari dalam rumah. Kudekati, o-o, matanya tertutup kotoran yang mengerak. Pantas saja ia terus-terusan nangis dan jerit-jerit, tak tahu arah, dan jatuh. Kubersihkan matanya sampai bisa melek, kuberi ia susu.

Siang ketika pulang sekolah, Gigih sangat senang karena ada pengganti Momo, kecil dan lucu pula. Begitupun Biru yang pulang sore. “Kita kasih nama apa nih?” tanya Entik. Kami berebut usul tapi nama dari si ibuk juga yang tersepakati. “Karena jatuh dari atas, kita namai aja Langit. Van Langit!”

Begitulah. Rumah bertambah ramai karena ada kucing, ada Van Langit. Masih kecil dan suka bermain, bahkan suka menggigit-gigit apa saja, termasuk tangan dan kaki kami. Sekarang, begitulah pula cara Langit membangunkan Gigih dan Biru.

Oh ya, karena kesulitan memanggil “Ngiiit, Langiiiit!” alias belibet di lidah, Entik sering terpeleset jadi “Nyiiiiit!”. Lama-lama, karena Langit suka menggigit, bahkan ketika Entik sedang sibuk memasak, agak-agak jengkel dia menyebutnya si Kunyit. Anak-anak protes, “Ngasih nama sendiri, manggilnya malah beda sendiri!”

Sambil ketawa, aku menimpali, “Ya udah, namanya jadi Kunyit van Langit!”

5 comments:

An Maharani Bluepen said...

meong..meong...

budi maryono said...

maharani = entar aku bilangin sama Langit, ada teman baru yg meong-meong nih... hehe

latree said...

itu fotonya si kunyit?

FaiQ said...

Lama menjadi secret admirer blog ini, skrg jadi tertarik utk ikut2an nulis ttg cerita sehari2 spt di blog pak budi.

sering baca postingan pak budi ttg kucing, mungkin gak ya aku jadi ikut2an pengen pelihara kucing????

hehehe...

salam.

budi maryono said...

latree = iyalah, mosok potoku? tega bener dirimu

faiq = hahaha... hayoh, pelihara, tapi satu aja... kalo banyak, jualan nantinya.