Kutularkan inspirasi “sekolah menyenangkan” itu pada Tia lewat pembacaan halaman demi halaman tiap malam menjelang dia tidur. Sayang disayang, ketika dia masuk sekolah dasar, aku belum bertemu dengan si “suatu saat”. Lebih sayang lagi, minimal di Semarang, belum ada pula sekolah yang berani menjadikan gerbong kereta sebagai kelas dan pohon sebagai pintu gerbang atau pagar.
Pada Biru, ketika TK, kubacakan juga novel itu sebagai cerita pengantar tidur. Syukurlah, saat dia hendak masuk SD, kutemukan Sekolah Alam Ar-Ridho yang mirip Tomoe, sekolah dasar pada zaman Perang Dunia II di Jepang itu. Bahkan dari Pak Nurul, Bu Mia, dan Pak Sigit yang menerima kami waktu itu, aku tahu, novel Totto-Chan jadi bacaan wajib bagi (calon) guru Ar-Ridho. Klop dan Biru pun sekolah di situ hingga kelas VI sekarang.
BEGITU terpengaruh aku oleh apa yang kemudian kusebut spirit Kobayashi, kumasukkan “kabar baik” tentang novel itu ke dalam novel (teenlit) pertamaku, Uki: Ini Labirin Cinta (Gramedia, 2002) yang kemudian terbit lagi dalam edisi lebih lengkap menjadi Dekat di Mata Jauh di Hati (Gramedia, 2005). Kuciptakan tokoh Pak Cip, guru Bahasa Indonesia yang mengajarkan kemerdekaan berpikir dan bertindak pada murid-murid SMA-nya karena terinspirasi oleh kisah Totto-Chan.
Ketika Gramedia Pustaka Utama menerbitkan kembali buku yang memang tak lagi ada di pasaran itu dengan judul sedikit berbeda, Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela (April 2008), aku senang karena bakal kian banyak orang yang membaca dan terinspirasi oleh kisah menggemaskan anak perempuan cerdas yang harus pindah sekolah karena wali murid menganggapnya nakal itu.
Sepuluh hari yang lalu, aku membeli edisi hard-cover Totto-Chan (cetakan kesembilan, Mei 2011). Pertama, karena novel pinjaman teman dulu kala terselip entah di mana. Kedua, seperti pada Tia dan Biru, aku ingin membacakannya untuk Gigih yang kini kelas I SD. Setiap menjelang tidur tentu. “Mau, Gih?” tanyaku dan mendapat jawaban sesuai dengan harapan, “Mau! Mau!”
Tetapi malam itu, baru kubaca dua alinea awal, Gigih terlelap. Besok malamnya, terpaksa aku mengulang namun dia tertidur sebelum sampai alinea keempat. Saat hendak membacakan lagi, aku tanya, “Kemarin sampai mana, Gih?” Dia hanya angkat bahu sambil tersenyum malu. “Wah, kalau mengulang terus dari awal, kapan selesainya?”
Eh, Biru yang menjawab, “Sampai Gigih kelas empat!”
Mungkin karena “sindiran” itu dan membayangkan betapa susah bapaknya membacakan novel tiap malam sampai tiga atau empat tahun kemudian, malam-malam berikutnya Gigih berusaha keras bertahan mendengarkan aku membaca minimal satu bab yang hanya 2-5 halaman. Jika benar-benar tak kuat, dia langsung menyela, “Sudah, sudah! Besok lagi aja!”
Lalu.... sebelum kuletakkan buku, dia pulas lebih dulu.
5 comments:
Hiks...jadi ingaaattt...aku pertama kali baca buku itu pas kelas 4 SD kalo ga salah. Covernya masih pink lusuh..cetakan ke empat kalo ga salah. Mulanya ada seorg guru yg membacakannya satu hari satu judul utk kami..sampai akhirnya aku tak sabar utk membaca sendiri kisahnya hingga usai. Dan buku itu lah yg membuatku mulai mencintai jendela, buku, kereta, juga seafood...hahaha
Salam kenal yah Pak...salam buat putra putrinya..saya pingin juga suatu saat ada tulisan yg bisa terbit...hahaa..#mengkhayal..
main ke blog aku kalo sempat ya Pak..^_^
NICK = yaha! ternyata ada juga yg terkenang-kenang jendela dan kereta... thanks udah mampir, tentu akan ada kunjungan balasan. Kayak relasi antarnegara aja ya. Hahaha...
aq baca buku ini di tahun pertamaku jd guru (th 2002) dan langsung jd pondasi paradigma pembelajaran... shg maklum kalao ada yg menganggapq sbg guru yg aneh dan nganeh anehi.
thanks mas Budi mengingatkanq masa itu.
btw ... smp kpn kita bersembunyi di kata2.."suatu saat nanti"... knp ndak skrg sj kita mulai...
mas Bud...aku siappp mendukungmu (hehe kayak pemilu sj!!)
yuk bikin sekolah kaya Tomoe Gakuennn :))
SD = itulah... mungkin aku harus menyekarangkan "suatu saat" itu... tapi.. hahahaha
prima = kau sudah pasti jadi salah satu gurunya...
Post a Comment