Friday, October 28, 2011

Sepeda dan Hujan Besar

SUDAH lama Biru ingin dan minta ganti sepeda. “Kan Bapak sendiri yang bilang, rodanya udah terlalu kecil untuk kupakai ke sekolah atau jalan ke kota bareng teman-teman yang sepedanya gede semua,” kata Biru yang kemudian semangat ngajari Gigih untuk naik sepeda itu hingga… “Lagian, Adik udah bisa makai. Sepeda itu punya Adik sekarang.” Sebagai penegasan, kadang-kadang terdengar kencang dia bilang, “Mas Biru pinjem sepedanya ya, Gih!”

Ketika majalah Bobo menurunkan tulisan tentang fixie, wah, bukan main. Biru tak hanya menyatakan ingin memiliki tapi juga menggambar “sepeda genit” itu lalu menempelkannya di dinding, persis di atas meja kerjaku. Saat kuajak menikmati car free day di Jln Pemuda Semarang, dia makin tergila-gila. Dia motret sana-sini. Hasilnya: nyaris fixie semua!

Suatu siang, di meja makan, dia lapor pada Tia. “Mbak, dulu, sebelum aku tempel gambar sepeda di dinding, Bapak tu kalau nulis sering lihat ke atas, ke depan, natap dinding. Sekarang, kerjanya nunduuuuukkkk terus!” Aku dengar belaka laporan itu karena sedang ambil air minum dari dispenser. Sangat sengaja dia.

Hari yang lain, sepulang sekolah, Biru mengatakan, “Pak, setelah kupikir-pikir, gak jadilah beli fixie…” Aku lega tapi ternyata cuma sejenak karena…. “Jalan ke sekolahku kan naik turun, bahaya kalau naik fixie yang cara ngeremnya beda. Beliin sepeda gunung aja ya, Pak, lebih cocok!”

Adatku, jika belum siap, tak menjawab. Hanya tersenyum, tertawa, atau geleng kepala tak jelas. Biru tak jera, terus-menerus mendesak hingga protes, “Kenapa sih Bapak nggak mau mbeliin aku sepeda?” Maka akhirnya kujanjikan juga, “Tanggal 26!” Dan apa yang terjadi, Saudara-saudari? Di antara catatan kegiatan pada kalender mejaku, tanggal 26 terlingkari dengan tulisan: SPD Biru. Teroris bener ni anak!


RABU 26 Oktober sore, sambil jalan berboncengan sepeda motor dinaungi mendung menggantung, aku terangkan soal sumber dana dan berapa bujet yang tersedia. “Terus, nanti mbawaknya gimana?” tanyaku. Dia menjawab cepat, “Kunaiki to ya! Aku dah pernah kok naik sepeda sampai Java Mall, sampai Kotalama aja pernah.”

Sesampai di tujuan, sesampai di deretan sepeda aneka model aneka warna, Biru tergaga membaca harga-harga. “Kok mahal-mahal ya, Pak?” katanya sembari menoleh, menatapku dengan pandangan campur-aduk: antara ingin dan maklum (sekaligus kecewa) pada keadaan. Meski begitu, dia terus menatapi sepeda-sepeda itu, sesekali menyentuh, berdecak-decak. “Yang ini remnya bagus, tapi bodinya kaku, nggak enak… Ini warnanya bagus, bodinya juga, aku suka,” komentar Biru.

Saat itulah SMS dari Entik masuk: Klipang hujan deras, angin kencang. Gimana, udah dapet sepedanya? Kujawab: Pas sampai sini, hujan juga. Belum. Harga di atas bujet semua.

Tiba-tiba Biru ndodhok dan memekik lirih, “Aku pengin… tapi gimana, Pak? Uang Bapak nggak cukup kan?” Kuberdirikan dia sambil berbisik, “Ya artinya Bapak harus berusaha lagi, Mas Biru mesti bersabar lagi… Oke?” Dia diam, memandangi sepeda kuning yang dia suka. Lalu pelan-pelan kami bergeser dan terus bergeser hingga menjauh dari deretan sepeda itu. “Mampir Gramed nggak?” tanyaku. Dia mengangguk.

Ketika naik eskalator, kuberitahu Biru, “Tadi Ibuk SMS, di rumah hujan deras….” Biru menyahut pelan, nyaris tak terdengar, “Di hatiku juga sedang ada hujan besar.”

Aku terperangah. Benar-benar terperangah. Segera kupeluk pundaknya, kucium pipinya. Kusembunyikan galau dalam tawa. Berderai-derai. “Bapak kenapa sih?” tanya Biru.

Aku tertawa. Terus saja tertawa.

2 comments:

endro said...

biru udah jadi sastrawan...hehehe

budi maryono said...

endro = itulah yang bikin aku tertawa -- tapi nggrantes. hehe