Monday, November 28, 2011

Kegembiraan Tak Boleh Menunggu

HUJAN turun. Lumayan deras. Di meja makan, sembari batuk-batuk kecil, Gigih minta izin, “Buk, habis makan aku hujan-hujanan ya?”

Entik serta-merta tak mengizinkan. “Kan Gigih lagi batuk….” katanya. Bungsu kami itu tak patah, tetap gigih meminta, “Mumpung deras, Buk… Kata Bapak, kalau hujannya deras, boleh hujan-hujanan. Batukku kan cuma dikiittt. Ya Buk, aku hujan-hujanan sekarang ya? Pliiiisssss…”

Hujan terdengar kian deras. Aku dan Entik saling pandang. Lalu… “Oke, kita hujan-hujanan!” kataku. Gigih sontak sumringah. “Kita? Bapak juga? Ibuk juga?” Aku mengangguk. Dia menyambung pertanyaan, “Lha Mbak Tia?” Entik yang menjawab, “Nggak usah, lagi sakit… Mbak Tia di rumah aja, jaga warung.” Biru? Tak ikut juga karena belum pulang dari sekolah.

Gigih lari keluar sambil teriak, “Assalamualaikuuummmm….” Tapi begitu sampai di luar pagar, kilat clap-clap, halilintar menggemuruh. Anak itu balik masuk. “Paaakkk… Ayoooo!!!” Hahaha…. Aku segera menyusul keluar. “Kita cari talang yang besar Gih, biar seger!” Kami bergegas ke gang samping yang sepi, menyusur rumah-rumah , mencari talang besar.

Tak lama kemudian, Entik keluar. Gigih makin senang. Lari ke sana kemari, teriak-teriak makin kencang. Salah satu tetangga, lengkap anak dan orangtua, tertawa-tawa memandangi kami bertiga. Aku yakin, mereka –terutama si anak-- ingin juga hujan-hujanan tapi… entah kenapa tak berani. Tak pelak, gang-gang kami “kuasai”.

Tia yang tiga hari sakit, tidak kuasa lagi menahan keinginan motret. Dia keluar dengan kamera di tangan dan berpayung. Mengikuti ke mana pun kami jalan. Karena payung yang dia bawa lebih berfungsi untuk melindungi kamera, akibatnya ya sama saja, badan basah kuyup.

Saat hujan mereda, kami pulang dalam kegembiraan yang nyaris tak habis-habis, pun dalam doa yang berulang-ulang Gigih ucapkan, “Ya Allah, semoga hujan yang Kau turunkan ini lebat dan membawa manfaat…”

Sejak menikah, aku dan Entik memang sepakat, kelak jika terkaruniai anak, kami tak akan melarang mereka untuk menikmati anugerah hujan. Jika perlu, kami pun turut hujan-hujanan. Syarat utama: deras.

Kegembiraan, kebahagiaan, tak boleh (mubazir) menunggu di luar…

4 comments:

Soeryani Atmadja said...

Kemaren saya pun begitu, saya izinin si kembar hujan-hujanan, biar mereka bisa merasa kenangan manis waktu saya kecil hujan dulu...mandi hujan..

budi maryono said...

yani = hahaha... dulu saat kanak-kanan, aku mandi hujan sampai jauh.... sekarang anak-anak cukup di sekitar rumah.. hehe

endro said...

luar biasa... ak mbayangin, aku, adikku, kakakkku dengan didampingi bapak ibukku hujan2an...hahaha

budi maryono said...

endro = sekarang itu, yg luar biasa malah yang meringkuk di rumah saat hujan turun amat deras.... Sungguh eman! Tx udah membaca dan membayangkan: Asyik kan? Hehehe...