INI cerita carangan: silang pertemanan di dunia maya mengantarku bertemu Jetty Maika, salah satu balerina terkemuka Indonesia, Kamis 8 Desember 2011, di Bandara Soekarno-Hatta. Itu kencan kedua setelah kencan pertama, Senin 5 Desember 2011, gagal karena aku bangun kesiangan. Garuda terpagi tak lagi siaga di Bandara Ahmad Yani. Saat aku SMS, akan terbang pada jam berikutnya, dia menjawab: saya sudah nunggu di bandara, Mas. Duh! Isin aku…
“Pukul tujuh Garuda nggak terbang. Pukul setengah sepuluh, penuh. Setengah dua bisa tapi ya nggak akan efektif karena pukul empat saya harus check-in untuk balik ke Semarang. Kalau besok aja gimana?” teleponku Senin pagi itu dengan perasaan khawatir Jetty akan kian kecewa atau malah marah.
Yang kudengar ternyata suara renyah perempuan yang membayang amat ramah. “Iya Mas, bener. Tapi besok saya nggak bisa. Saya kontak Mbak Nana dulu ya, gimana enaknya…. Kapan bisa ketemu kita selain hari ini dan besok.”
Tujuan kami bertemu, selain agar lebih kenal, juga hendak membahas penyuntingan dan penerbitan buku dengan Nana Lystiani, editor life-style Gramedia Pustaka Utama. Aku menunggu beberapa waktu sampai kemudian Jetty menelepon, “Mbak Nana bisa hari Kamis, Mas… Longgar banget katanya. Saya juga bisa. Mas Budi bisa kan?” Tanpa pikir panjang, sebagai sebuah tebusan, aku menjawab, “Bisa!”
“Tapi jangan terlambat lagi ya, Mas?” pintanya.
Aku tertawa jengah. “Nggaklah. Rabu malam saya akan tidur lebih awal, lalu bangun lebih pagi. Soal hari ini, ya, untuk bertemu perempuan hebat memang harus ada drama…” Kudengar suara tawa Jetty yang (lagi-lagi) renyah.

“INI Mas, saya di sini! Saya sudah lihat Mas Budi!” kata Jetty saat aku menelepon sekeluar dari pintu kedatangan. Kucari sosoknya dan kutemukan di gerai makanan cepat saji: perempuan ramping, berkulit putih, berambut panjang terjepit sebagian, berdiri melambai-lambai dengan senyum yang sangat menyambut.
Kami berjabat-erat seperti sahabat yang lama terpisah waktu dan jarak. “Jetty, Mas. Ini kakak saya… Dia yang nganter saya ke mana-mana selama di Jakarta. Duduk, Mas. Oh ya, belum sarapan kan? Silakan pesan dulu…” katanya dalam satu tarikan nafas. Seketika aku ingin memotret wajah riangnya tapi kutahan. Kupendam.
“Baru pukul tujuh, terlalu pagi untuk sarapan. Saya biasa sarapan pukul sepuluh,” sahutku sambil duduk setelah bersalaman dengan Mas Yapi, kakak Jetty.
Lalu, ajaib benar, kami ngobrol begitu saja, mengalir ke mana suka. Dari soal penerbangan, kemacetan, pekerjaan, buku, sampai keluarga. Di sesela itu aku mengatakan, “Apa pun penyebabnya, hari inilah waktu kita bertemu, bukan Senin lalu. Saya yang terlambat, penerbangan yang penuh, penundaan, hanya alur yang memilih waktu pertemuan, hari ini, bukan hari yang lain.”
“Wah, enak sekali kalau bisa begitu ya, Mas. Nggak mudah panik, nggak mudah kecewa, nggak mudah nyesel, nggak mudah stres. Suami saya juga suka begitu…. santai orangnya. Kapan ya saya bisa begitu?”
“Pulang ke Jakarta sekeluarga?” tanyaku.
“Nggak. Cuma sama Vaya. Kakaknya, Rava, nggak ikut karena sibuk sekolah, begitupun suami yang memang kerja di Kuala Lumpur,” tutur Jetty yang kemudian berbelok cerita tentang kebiasaan “menghilang” suaminya ke sudut-sudut kota. “Dia suka banget travelling, Mas. Saat anak-anak masih kecil, kami sering melakukan perjalanan bersama. Kadang-kadang ke luar negeri, tak jarang cukup ke pelosok Kuala Lumpur. Sekarang, susah Mas… Anak-anak sudah gede, punya kesibukan sendiri-sendiri. “
“Lho, malah enak kan, bisa pergi berdua dengan suami?”
Jetty membelalak lucu, lalu tertawa, geleng-geleng kepala. “Nggak bisa, Mas… Pergi tanpa mereka, selalu… apa ya? Ada feeling guilty. Jalan-jalan sendiri, senang-senang sendiri, rasanya gimanaaaa gitu. Dan saya memang nggak bisa ninggalin mereka tanpa saya sendiri stres. Untuk anak-anak, saya ingin semua terencana dan terjadwal. Saya selalu memastikan mereka tidur dan bangun pada waktunya, nggak terlambat berangkat sekolah, mengerjakan PR, merapikan kamar…. Sampai-sampai suami bilang, kalau begitu caranya, kamu nggak akan bisa tenang. Hahaha! Saya setuju tapi mau gimana lagi? Untuk anak-anak, saya bener-bener ingin yang terbaik.”
OBROLAN berlanjut di sepanjang perjalanan menuju kantor Kompas-Gramedia, saat makan siang di Mal Taman Anggrek, pun dalam perjalanan balik ke Bandara Soekarno-Hatta. Meski porsi terbesar soal balet, karena dia balerina dan aku sungguh ingin tahu soal tari itu, topik tetap bebas ke mana-mana namun ke satu muara: (masa depan) anak-anak dan keluarga. Ini misalnya: “Vaya umur sebelas tahun sekarang. Dia sangat berbakat dan bertekad jadi penari balet klasik seperti saya. Biar fokus, sekolahnya ya homeschooling aja. Sedangkan Rava lebih menonjol di bidang akademik, ya biarlah dia meraih cita-cita melalui jalur sekolah.”
Nyaris seharian, termasuk lewat spion-dalam mobil, tak lepas-lepas aku menatap Jetty yang amat ekspresif ketika bercerita. Wajahnya berubah-ubah sesuai dengan emosi yang sedang menjadi latar kisah, namun ada satu yang tak hilang: mata yang bersinar-sinar dan senyum di ujung tuturan.
Sembari mendengar dan menatap itu, kucatat dalam benak: sebagai orangtua, meski berbeda keadaan dan gaya, kami ini sama: senantiasa menginginkan yang terbaik untuk anak-anak. Dulu hidup untuk diri sendiri, sekarang hidup untuk mereka….
PS: Terimakasih tak tertara untuk Gaganawati Stegmann yang menjadi penyebab pertemuan ini.
4 comments:
Ha ha ha, mas...... terimakasih banyak cerita nya..... semoga bisa menjadi berkat buat banyak orang yang membaca!
anonymous (Jetty Maika ya?) = sama-sama dan amiiinnn....
Senang kalian jadi ketemu,sayangnya jerman terlalu jauh mencapai jakarta dalam sehari sekalipun...God bless us,semoga bertiga satu tujuan tercapai...amien.Terima kasih jika kesempatan untuk bergabung itu tetap ada,menyambung tali yang terputus karna yang dulu kupakai dari awal sudah rantas....
Gana = ada yang rantas, ada yang kembali disambung dan digelas....selalu ada kesempatan, bahkan tempat, untukmu.
Post a Comment