Tuesday, December 27, 2011

Kembali “Melebah”

SALAH satu cerpen karya sendiri yang sangat kusuka adalah “Lebah”. Baik dari segi proses, isi cerita yang masih juga relevan hingga sekarang, maupun kelenturannya saat “dipanggungkan”. Ide cerpen itu lahir 20-an tahun lalu ketika suatu hari aku naik bis ekonomi (banget) yang penuh penumpang dan tiba-tiba seekor lebah masuk lewat jendela paling belakang. Terjadi keributan sebentar sebelum seorang penumpang berhasil mengusir lebah itu keluar.

Tetapi dengan “mata pengarang” plus jurus andai yang sering ampuh untuk memanjangkan imajinasi, tak aku biarkan lebah itu pergi. Hasilnya, di dalam cerita, penumpang tidak hanya tak berhasil mengusir si Lebah namun juga panik-malinik karena binatang bersengat itu “terbang ke sana kemari seperti sengaja menyerang dan menakut-nakuti”.

Lebah menjadi titik puncak kepanikan dalam bis yang sejak awal penuh keributan karena kondektur dan kernet terus saja menaikkan penumpang, sopirnya pun ugal-ugalan. Itulah sebab seorang kawan pernah mengatakan, “Cerpen ini sangat politis!”

SETIAP kali membacakan cerpen itu di “panggung”, aku selalu menemukan gairah baru karena bisa memasukkan aneka improvisasi: dari mengubah (selingan) lagu sampai mengganti dialog dan bahkan umpatan –sesuai dengan situasi saat pembacaan. Sebuah proses kreatif pemanggungan yang tak habis-habis dan menyenangkan.

Maka ketika Gambang Syafaat, forum silaturahim bulanan yang ber-tagline “Untuk Kesejahteran & Kebersamaan Indonesia”, berulang tahun ke-12 pada 25 Desember 2011 di Aula Masjid Baiturrahman Semarang, aku kembali “melebah”. Ya, aku jadikan pembacaan cerpen “Lebah” sebagai hadiah: sebungkus kado pengingat untuk semua, termasuk diri sendiri, jangan sampai salah memilih pemimpin atau jangan takut mengkritik, bahkan kalau perlu mengganti pemimpin yang tak becus menyejahterakan dan menenteramkan rakyat…”

Usai pembacaan, seluruh nadi terasa berdenyar, darah mengalir bebas ke mana-mana tanpa hambatan. Badan dan jiwa terasa segar karena sontak aku merasa pulang. Ya, pulang ke rumah sastra, rumah yang telah lama kutinggalkan….

Ah ya, malam itu Tia, Biru, dan Gigih hadir, turut menyaksikan si Bapak kembali “yak-yak-o” di hadapan banyak orang. Semoga saja mereka paham bahwa berbagi itu niscaya, sunatullah, meski sekadar berbagi cerita…


PS: Terimakasih untuk teman-teman (penggerak) Gambang Syafaat, wabilkhusus Wahid yang percaya galau itu indah, Ronny yang selalu siap ngangkat beras dan sound, Arfen yang berani di titik tantang, Adib yang hobi minta maaf padahal telah melayani dengan baik, Amin yang tekun tapi hendak balik ke kalangan Bangbang Wetan, dan Kang Dur yang ngabimanyu dengan lampu merek “Asu”. U’r the best!

0 comments: