PAS hari ulang tahun yang ke-12, Rabu 21 Desember 2011, Biru mendapat ajakan menarik dari Bryan, teman sekolahnya: renang di Water Blaster! “Boleh nggak?” tanyanya pada sang ibu. Entik menjawab cepat, “Bolehlah. Beneran malah. Ibuk sama Bapak nggak usah ngulangtahuni… hehehe.”
Sebelum Bryan beserta ayah-ibunya menjemput dan berangkat, ajakan lewat SMS bertambah: nonton film di Paragon usai renang dan pulang pukul 9 malam. “Boleh nggak?” tanya Biru lagi. Kali ini Entik tegas, “Nggak. Sebelum atau pas magrib udah harus di rumah.”
Namanya juga anak-anak. Sore-sore, gantian Bryan minta persetujuan lewat SMS: Bilal boleh ikut nonton nggak? Dan aku yang menjawab, “Bilal ulang tahun hari ini. Kami perlu merayakannya di rumah.” Sebelum magriban di masjid usai, Biru telah kembali.
“Gimana, Pak?” bisik Entik.
“Apanya?”
“Ya ulang tahunnya? Ibuk nggak masak lho… Rotinya juga belum ada.”
Aku nyengir. Lha iya, minta Biru pulang sebelum magrib untuk “merayakan” tapi kok nggak siap babar-blas. Akhirnya, diam-diam Entik kirim SMS ke Tia yang sedang cetak foto di kota untuk sekalian beli kue tart. Begitu Tia datang, kue itu aku sembunyikan di dalam kamar, di atas lemari pakaian.
Setelah “berdebat” sejenak, kami sepakat makan malam di luar, di warung mi jowo mas jenggot.Saat kami beriringan ke jalan raya, si Langit klayu. Semula kami ragu tapi karena kucing itu tampak “bersemangat” turut, ya sudah, kami biarkan ia berlarian di kiri-kanan kami. Sesampai di warung, Tia yang bertugas menggendong Langit saat menyeberang jalan, melepaskannya karena kucing itu terus meronta. Yang terjadi kemudian: Entik, Tia, dan Biru “mengejar” Langit yang berlarian panik di dideretan ruko. Syukurlah akhirnya tertangkap. “Antar pulang dulu aja sana,” kata Entik.
Tia dan Biru terpaksa balik ke rumah. Lamaaaaa tak nongol-nongol juga. Ketika kembali ke warung, keduanya berebut cerita tentang Langit yang tak mau ditinggal. Keputusan terakhir: masukkan rumah dan kunci. Tak terhindar, sambil makan mi jowo, kami terus-menerus memperbincangkan Langit sampai lupa bahwa yang ulang tahun Biru, bukan kucing itu.

SEPULANG dari warung mi, Entik menyalakan lilin di atas kue tart dalam kamar, lalu keluar sambil menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”, sama dengan yang anak-anak lakukan tempo hari padaku. Meski tak sekaget aku, tetap saja Biru terperanjat. “Oh, ada roti to? Kapan belinya? Perasaan tadi Mbak Tia pulang nggak bawa roti…” Gigih yang menyahut, “Bawa, Mas… Kamu aja yang nggak tahu.”
Di tengah haha-hihi ketika Biru menyampaikan keinginan untuk tahun depan, antara lain lebih rajin belajar, rajin ngaji, rajin sholat, dan sunat (!), Gigih bertanya, “Mas, tadi siang itu, Mas Bryan tahu nggak kamu lagi ulang tahun?”
“Ya tahu to ya.”
“Trus, Mas Bryan ngasih hadiah nggak?”
“Lha renang di Water Blaster itu apa? Hadiah kan nggak harus barang, Gih.”
“Ooo… gitu.”
“Peluang emas” yang muncul tak terduga itu kutangkap dan manfaatkan sebaik-baiknya. Kurengkuh pundak Biru dan kukatakan dengan suara berat kebapakan, “Mas Biru betul, Gih. Hadiah memang nggak harus berbentuk barang. Karena itu, malam ini, Bapak kasih hadiah doa aja ya, Mas…”
Biru mengangguk dan tertawa dengan ekspresi antara “asem ik” dan menerima.
2 comments:
selamat ulang tahun, Biru :)
Latree = iya Tante, makasih... hadiahnya mana? Tapi jangan kayak Bapak... Hahahaha....
Post a Comment