Saturday, June 08, 2013

Ngaji Puisi


SEJAK awal pekan lalu, Gigih “ujian” praktik akhir Semester II. Satu di antaranya, praktik Bahasa Indonesia, Jumat  7 Juni 2013. Menurut SMS guru kelas, baca sajak atau puisi tanpa teks minimal 10 baris.  Aku “protes”, juga lewat SMS, baca puisi ya harus pakai teks. Kalau tanpa teks, deklamasi namanya. Bu Guru Rina menjawab, “Hehehe… Iya, Pak, siap…Gigih kemarin langsung bilang horeee, aku akan cari puisi di buku Bapak, banyak.”

Aku dan Entik sepakat, ini kesempatan untuk mengajarkan deklamasi pada Gigih. Sekaligus, kalau mungkin, mengajari bungsu kami itu untuk menulis puisi sendiri. Tapi dasar bocah, apalagi punya teman bermain dari gang sana-sini, setiap kali kami minta untuk latihan, jawabnya standar, “Bentar, nanti sore, eh, malam aja... aku mau main dulu.”

Selepas magrib dan ngaji, barulah dia mau bersiap diri. “Puisinya mana, Pak?”
“Nulis sendiri to…”
“Lho, gimana caranya?”
“Ya nulis aja.”
“Tentang apa?”

“Apa aja. Bisa tentang guru, orang tua, bulan, matahari, kucing… apa aja. Coba kamu buka majalah Bobo, pasti ada, bisa kamu jadikan contoh untuk nulis puisi sendiri.”

Gigih manut. Tak lama kemudian, dia teriak, “Aha! Aku mau nulis puisi kayak gini.” Segera dia ambil kertas dan pensil. Selang beberapa waktu, “Udah jadi!” 

“Nggak nyontek kan, Gih?” tanyaku, waspada.
“Nyontek to ya!”
“Ya nggak boleh, harus bikin sendiri.”
“Susah. Tapi ini aku ubah-ubah dikit, terus aku tambahi juga.”

Karena salah satu proses kreatif awal dalam menulis memang meniru (bukan menjiplak!), aku coba untuk toleran. Kuminta dia membaca yang dia tulis, aku menyimak dengan membaca puisi berjudul “Anjingku” yang dia sontek itu. Pada baris-baris awal hingga tengah, dia hanya mengganti kata “anjing” menjadi “kucing”. Berikutnya, barulah dia tambahkan kalimat sendiri sesuai dengan “nasib” Snowy, kucing kami yang hilang, pulang, dan hilang lagi (ssssttt…. sebenarnya, tak hilang tapi dibuang oleh tetangga yang “bermasalah” dengan kucing).

“Wah, masih njiplak itu namanya. Nggak boleh, Gih. “
“Ah, Bu Guru dan teman-teman paling juga nggak tahu.”

“Mungkin. Tapi kita harus menghargai karya orang lain, harus jujur, kalau bukan karya kita, ya nggak boleh kita akui sebagai karya kita,” timpal Entik.

“Nanti malam aku kurangi atau ganti lagilah sambil ngapalin,” kata Gigih.

KETIKA Gigih latihan deklamasi dengan puisi itu, aku tiba-tiba merasa tidak sreg sama sekali. Pertama, masih ada kalimat jiplakan, maka besok lagi saja aku ajari dia menulis. Kedua, ini kesempatan mengenalkan dia pada puisi yang benar-benar memperhitung diksi dan bunyi, bahkan irama kata. Lewat tengah malam, aku buka-buka buku kumpulan puisi penyair Indonesia, mencari puisi yang cocok. Amir Hamzah, Chairil Anwar, WS Rendra, Darmanto Jatman, Abdul Hadi WM, D Zawawi Imron, Sapardi Djoko Damono, hingga Joko Pinurbo.

Pilihan jatuh (tetap) pada karya penyair yang mewarnai proses kreatif kepenulisanku semasa remaja dulu: Chairil Anwar. Kubuka-buka buku Aku Ini Binatang Jalang terbitan Gramedia Pustaka Utama (cetakan pertama versi hard cover, Juli 2011). Bersamaan dengan itu, terkenang-kenang lagak dan gayaku saat remaja ketika pentas atau lomba baca puisi “Aku”, “Krawang-Bekasi”, “Kepada Kawan”, “Cerita buat Dien Tamaela”, “Senja di Pelabuhan Kecil”, “Derai-derai Cemara”, dan “Doa”. Setelah milang-miling, kuputuskan, puisi ini saja:

DOA
               kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingatmu Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

                                      13 November 1943

KAMIS sore, aku minta Gigih membaca puisi itu, lalu kutanya, “Gimana, bagus kan?”
“Bagus sih… tapi aku nggak mudheng.”
“Nggak harus mudheng. Bisa kamu rasakan keindahan kata-katanya? Bunyinya?”
“Iya, bagus.”

“Itu cukup. Sampaikan keindahan kata dan bunyi itu pas deklamasi, pasti guru dan teman-teman akan merasakan apa yang kamu rasakan, walaupun sama-sama nggak paham.”

Sepakat, sore itu Gigih menghafal dan berlatih mendeklamasikan “Doa”. Semula aku hanya mengajarkan lagu baca: di mana mesti rendah, di mana mesti tinggi, di mana cepat, di mana lambat atau ambil nafas dan jeda. Tapi karena dia bertanya kenapa bacanya harus gitu atau gini, aku jelaskan juga makna kata yang dia belum paham, pun tafsiran atas puisi itu. Jadilah malam Jumat yang biasanya kami yasinan, malam itu aku ganti dengan ngaji puisi.

Termangu itu diam, nggak tahu mesti gimana, atau malah galau lalu nggak bisa berbuat apa-apa. Dalam keadaan seperti itu ‘aku masih menyebut namaMu’, menyebut nama Tuhan. Yang dalam bahasa agama kita , bismillah…”

Gigih menatapku, takjub (halah!).

“Bait kedua, kalau ditulis biasa ya ‘biar atau meskipun sungguh susah, sulit’. Tapi karena puisi, agar timbul efek bunyi ‘uh’ di belakang, sama dengan baris berikutnya, Chairil membalik kata jadi ‘biar susah sungguh’, lalu ‘mengingat Kau penuh seluruh’, total. Jadi meskipun susah, sulit, tetap ingat Tuhan, tetap zikir… Gimana zikir kita?“

“Subhanallah, Alhamdulillah, Laailahaillallah, Allahu Akbar…”

“Yaps! Nah, berikutnya, caya atau cahaya Tuhan yang panas suci itu, tinggal kerdip lilin tapi di kelam sunyi… Kelam itu gelaaaapppp banget. Sudah gelap, sunyi… tapi ada cahaya, walau sekerdip lilin. Sekecil apa pun, dalam gelap, pasti sangat berarti. Ya kan? Bisa merasakan?”

“Bisa!”

“Good. Lanjut ke ‘aku hilang bentuk, remuk’, wah ini udah ancur-ancuran… kalau menderita, yang menderita banget… Terus… mmm, tahu apa itu negeri asing?”

“Tahu. Amerika!”
“Yah. Gimana rasanya ‘mengembara di negeri asing’?”
“Bingung!”

“Yah. Sendirian, mau ke mana-mana nggak tahu… takut, gelisah, bingung... maka ‘di pintuMu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling’. Kembali ke Tuhan, innalillahi wa innailaihi rojiun…

“Kok kayak orang mati?”

Innalillahi itu ucapan atau ungkapan kalau ada musibah. Kesandung atau jatuh, uang hasil market day hilang, juga innalillahi. Bagaimanapun, pada Allah-lah manusia kembali.... Di pintuMu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling.”

“Wah,  teman-temanku nggak ada yang paham ini. Cuma aku!” sela Gigih, senang.
Sangar to? Sampaikan yang kamu paham itu lewat deklamasi besok pagi. Oke?”
“Tapi, kalau malu gimana?”

“Haiyah, kan gayanya sama dengan orang berdoa biasa, nggak macem-macem. Tengadahkan telapak tangan, cari satu titik untuk kamu pandang terus, lalu ngomong langsung sama Tuhan dengan doa tulisan Chairil Anwar…”

HINGGA menjelang tidur, Gigih terus menghafal dan berlatih. Bagaimanapun dia berdeklamasi esok harinya, lantang atau malah lirih malu-malu, bahkan kalaupun “tiba-tiba dia kembali ke puisi kucing” seperti candaan Entik, sudah tak menjadi soal. Sebab, sebuah proses yang sebenarnya berat untuk murid kelas II SD telah dia lewati: tak cuma membaca dan merasakan keindahan kata-kata tetapi juga ngaji (lewat) puisi. Jika suatu saat nanti dia punya tafsiran berbeda atas puisi “Doa”, alhamdulillah saja.

No comments: