<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' version='2.0'><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-13335421</atom:id><lastBuildDate>Thu, 24 Dec 2009 21:15:03 +0000</lastBuildDate><title>MATAHARIPAGI</title><description>berbagi cerita, berbagi hati</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/</link><managingEditor>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>284</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-7556644559882149352</guid><pubDate>Wed, 23 Dec 2009 23:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-24T06:55:43.311+07:00</atom:updated><title>Hasil Konferensi Meja Makan</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SzKqqND3iyI/AAAAAAAAArc/nR67YZzX7P0/s1600-h/ULTAHBIRUKI-6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SzKqqND3iyI/AAAAAAAAArc/nR67YZzX7P0/s200/ULTAHBIRUKI-6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418580943717239586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ULANG&lt;/span&gt; tahunku, 12 Desember, boleh lewat begitu saja. Tapi ulang tahun Biru, 21 Desember, tidak. Ulang tahunku boleh “terpestakan” oleh walimatul khitan (anak) tetangga. Namun ulang tahun Biru, tidak. Kali ini aku ingin dia mengalami yang dia damba tiap tahun tapi tak juga terlaksana karena  “kemalasan” bapaknya: mengundang teman sebaya ke rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah niat itu kusampaikan di meja makan, kami berbagi tugas. Biru membuat daftar tamu undangan, Entik merancang anggaran, aku yang wajib memenuhi kebutuhan dana itu, Tia yang menyusun acara, dan Gigih…. “Aku ikut makan-makan!” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu terbuka Konferensi Meja Makan itu hingga Entik yang tahu benar kondisi “dapur” keprucut bilang, “Wah, dananya kok besar juga ya?” Biru buru-buru mendekat dan bertanya dengan nada khawatir, “Berapa, Buk?” Entik menyebut angka. Reaksi beragam. Intinya, termasuk Gigih, membandingkan dana itu dengan kebutuhan pemenuhan keinginan mereka yang selama ini selalu tertunda (lagi-lagi karena “kemalasan” si bapak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana, Pak?” tanya Entik. Aku hanya tersenyum. Biru tiba-tiba merasa acara bakal batal, masuk kamar, dan bruk! Nyungsep ke bantal. Kudekati dan kutanya, dia menjawab, “Bapak punya uang segitu nggak? Kalau nggak punya….” Aku segera  memotong, “Sssttt… Tugas sudah kita bagi, kan? Ibu selesai merancang anggaran, Bapak yang harus menyediakan. Sekarang belum ada, tapi besok, siapa tahu? Mari berdoa…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biru tetap murung. “Biar nggak besar, teman sekampung sini aja yang kita undang, teman sekolah nggak usah,” usulnya. Entik menyahut, “Gitu juga bagus.” Tapi aku tahu, aku merasa, itu usul yang sangat menekan keinginan. Pada Entik aku berbisik, “Perayaan ulang tahun Biru kali ini harus. Sejak umur setahun hingga sepuluh tahun sekarang, dia belum pernah merayakan bersama teman seperumahan dan sekelas… Belum pernah berbinar membuka kado dari teman sebaya.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah Konferensi Meja Makan usai, hapeku bernyanyi: aku ini adalah dirimu, cinta ini adalah cintamu…. Nomor belum tercatat, kuterima saja: “Mas Budi, ini honor………  Mas Budi udah cair. Boleh ambil hari ini juga, Mas…” Sontak kupanggil anak kedua kami itu, “Mas…. Doa kita terkabul. Bapak dapat honor…… hari ini.” Biru sumringah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SzKrxCG1QbI/AAAAAAAAArs/l7BbdEmW9bc/s1600-h/ULTAHPESERTA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SzKrxCG1QbI/AAAAAAAAArs/l7BbdEmW9bc/s200/ULTAHPESERTA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418582160547594674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERSIAPAN&lt;/span&gt; jalan, terutama setelah Entik mengusulkan penghematan. “Tak usah pesan makanan full untuk dibawa pulang seperti ulang tahun anak tetangga. Pesan ayam goreng kremes aja, nasi bikin sendiri, dan makan siang bersama biar silaturahim anak-anak itu lebih kuat….” Undangan yang semula hendak kami bikin sendiri pun tak jadi. Beli, jauh lebih murah. Suvenir ganti jajanan. Kue ulang tahun tak harus tart, apalagi bersusun. Yang penting, ada angka dan “sesuatu” yang sedang Biru sukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, keribetan tetap saja muncul dan berawal dari undangan. Kubeli undangan bergambar Ben 10. Jane ya tinggal nulisi, tapi tanpa sentuhan pribadi kok rasane piye. Walhasil, aku print foto wajah Biru: satu untuk ditempel di luar, satu di dalam.  Karena ide muncul malam hari saat semua sudah tidur, akulah yang wayangan: menggunting-menempel foto itu untuk 60 undangan. Ribet yang paling ribet ya hari-H dan Entik-lah lakone. Dia tanak nasi sambil bikin mi untuk pelengkap makan siang nanti sambil ngomando Tia dan Biru yang bikin hiasan sekadarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan yang menegangkan: pagi itu aku mesti ke BRI untuk transfer dana. Karena Senin, antrean teramat panjang. Hujan deras. Bres tenan! Waduh. Sekitar pukul 09.45, saat giliranku nyaris tiba, si mbak teller berkerut kening dan mengeluh, “Hhhh… kok heng?” Waduh! Aku telepon Entik dan dia bilang, “Sudah ada yang datang, tapi tampesan banyak dan lantai teras basah….” Aku berdoa sekhusuk para wali para nabi (mungkin) agar Tuhan menghentikan hujan: saat itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Maha Mendengar. Hujan mereda, komputer BRI beres lagi, transfer jalan, aku pulang. Di jalan depan rumah, tampak Biru riang-gembira menyambut teman-temannya di bawah langit bersih tanpa matahari, teduh sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh Pak, tadi Ibuk bingung. Mi belum mateng, Biru cemas dan sedih sampai mbrebes mili. Dia takut teman-temannya tak datang, ulang tahun batal karena hujan deras sekali…” Aku bisa membayangkan betapa krodit di rumah saat aku deg-degan di depan teller BRI tadi. Maka sungguh semoga hujan yang turun dan “mencemaskan” itu tanda anugerah bagi kesentosaan Biru dan kami sekeluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SzKq_nHrOrI/AAAAAAAAArk/W469G3dzmik/s1600-h/ULTAHPRATMI.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SzKq_nHrOrI/AAAAAAAAArk/W469G3dzmik/s200/ULTAHPRATMI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418581311489784498" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SIAPA&lt;/span&gt; MC acara? Tak ada. Harus aku –yaaah, seperti saat Tia ulang tahun seperti ini pada usia 5 dan 10 tahun dulu. Untunglah, Bu Pratmi hadir. Salah satu guru Sekolah Alam Ar-Ridho itu pernah tandem jadi MC bersama Biru di sekolah. Tanpa basa-basi, langsung kudaulat. “Jadi MC sekaligus mimpin doa ya, Buk?” Tanpa persiapan ngemsi tapi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;show must go on&lt;/span&gt;! Dari doa, tiup lilin, potong roti, game, makan siang, dan bagi-bagi jajanan untuk buah tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara usai, hujan turun. Kami bersyukur lagi meski hujan itu “menahan” Bu Pratmi dan sebagian teman sekolah Biru yang mesti pulang naik taksi bersama. Acara buka kado pun meriah karena ada saksi mata teman sebaya, sesekolahan pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah seluruh tamu pulang, kami ribet lagi: mengembalikan etalase ke teras agar kios sederhana kami kembali buka. Hasilnya: cuapek berat… tapi alhamdulillah juga karena Biru telah mengalami apa yang selama ini dia ingin alami: mata berbinar saat teman datang, mata berbinar saat membuka kado…. Dan (semoga) tahu meski tak ternyatakan: begitu ada niat ada tekad kuat, alam pun tergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SzKtVFAOpXI/AAAAAAAAAr8/0vCe1MxEAJo/s1600-h/ULTAHBIRU-7.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 211px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SzKtVFAOpXI/AAAAAAAAAr8/0vCe1MxEAJo/s320/ULTAHBIRU-7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418583879312123250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PS: &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Thanks untuk Bu Pratmi yang tak menolak didadak jadi MC. Makasih untuk fotografer Bambang RSD yang selalu “siap ndan” di belakang layar. Thanks juga untuk Gigih yang sangat menikmati jadi tamu kakaknya di sepanjang acara (baru kusadari saat lihat foto-foto jepretan Tia).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-7556644559882149352?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/12/hasil-konferensi-meja-makan.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SzKqqND3iyI/AAAAAAAAArc/nR67YZzX7P0/s72-c/ULTAHBIRUKI-6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-1812672647337182370</guid><pubDate>Fri, 04 Dec 2009 06:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-04T13:50:33.801+07:00</atom:updated><title>Pulang Jumatan, Balapan, Maklegender…</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SxiwpR8zRsI/AAAAAAAAArM/xVk1RTdAyJk/s1600-h/IBUKGIGIH.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 132px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SxiwpR8zRsI/AAAAAAAAArM/xVk1RTdAyJk/s200/IBUKGIGIH.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5411269175525197506" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SETELAH &lt;/span&gt;tak lagi kerja di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt; alias lepas dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;deadline&lt;/span&gt; tiap hari Jumat, aku selalu jumatan di Al-Mu’minun, masjid dekat rumah. “Ganjaran langsung” yang kuperoleh: 1) Nikmat silaturahim dengan “saudara” minimal satu RW; 2) Bisa ngajak Gigih atau bareng Biru –kalau libur sekolah; 3) Usai jumatan dapat sambutan senyum istri plus es teh, soda gembira, jus belimbing, atau minuman dingin yang lain; 4) Melakukan sesuatu yang sepele tapi menyenangkan bersama Gigih atau Biru seperti balapan menemukan sendal di antara puluhan sandal, balapan sampai rumah, atau main tebak “Ibuk bikin minuman apa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang jumatan tadi, Gigih ngajak balapan lari tapi aku tolak. “Kenapa nggak mau?” tanya dia. “Nggak lari aja udah keringeten gini…” jawabku. Gigih berjalan dalam diam. Dekat portal di samping rumah, dia mempercepat langkah. Aku tergerak untuk melalukan hal yang sama. Bedanya, dia lewat kanan, sedangkan aku kiri portal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan rumah, Gigih mengajak lagi, “Balapan….. Ibuk yo, Pak!” Aku kaget. Titik-titik itu artinya aku tak mendengar dengan jelas. “Balapan apa?” tanyaku. Gigih menjawab, “Balapan cium Ibuk. Berani nggak?” Oho! Aku sontak tertantang. “Oke, 1-2-3!” Kami pun lari masuk rumah. Biasanya, saat balapan sampai rumah, aku ngalah dengan melambatkan diri, pura-pura tersangkut pagar, atau terpeleset di ambang pintu. Kali ini, tidak. Bahkan, aku halangi Gigih yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyrunthul&lt;/span&gt; ambil jalan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang menang? Ya aku-lah! Hahaha… Pas kami masuk rumah, Entik sedang berdiri dekat dispenser. Aku cium pipinya lalu teriak, “Horeee… Bapak menang!” Gigih protes sambil melemparkan kopyah: “Bapak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;urik&lt;/span&gt;, ngadangi aku!” Terus masuk kamar. Entik segera memanggil, “Gih! Kok nggak cium Ibuk? Juara 2 kan nggak papa, tetep cium to ya!” Manjur. Gigih buru-buru keluar kamar dan meraih pipi Entik yang merunduk. “Muuuuaaaahhh!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Gigih minum es nutrisari-jambu merah dan aku minum susu-cokelat yang telah terdinginkan di kulkas. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maklegender…&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-1812672647337182370?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/12/pulang-jumatan-balapan-maklegender.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SxiwpR8zRsI/AAAAAAAAArM/xVk1RTdAyJk/s72-c/IBUKGIGIH.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>7</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-4147095012585980223</guid><pubDate>Fri, 27 Nov 2009 07:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-02T17:31:52.631+07:00</atom:updated><title>Tanpa Ragu</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SxBtJH7wUPI/AAAAAAAAArE/6YQc2a2yMQg/s1600/GIGIH+DKK.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 216px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SxBtJH7wUPI/AAAAAAAAArE/6YQc2a2yMQg/s320/GIGIH+DKK.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408943155987894514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SALAH&lt;/span&gt; satu yang aku sukai saat menjemput Gigih pulang sekolah, sekaligus mengantar bekal makan siang untuk Biru, adalah mendapat laporan langsung. Baik dari Gigih atau Biru maupun dari guru mereka. Pada awal-awal masuk Juli-Agustus, misalnya, Bu Ira bilang, “Tadi Gigih nangis lho, Pak…”  Begitupun Bu Silvi, “Gigih habis jatuh, Pak. Sedikit luka, sudah dikasih betadin tadi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun bertanya pada Gigih. “Kok nangis napa?” atau “Tadi jatuh di mana? Kok bisa jatuh, gimana ceritanya?” Lalu dia pun bercerita, “Aku takut naik ke atas prosotan pakai tali…” atau “Pas lari-lari, didorong teman, ya jatuh.” Dan aku selalu menggoda dengan pertanyaan, “Pas jatuh tadi, nangis juga nggak?” Mantap dia menjawab, “Ya nangis to ya, sakit-ok!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari otbon yang lain, sebelum Bu Ira, Gigih lapor lebih dulu. “Pak, aku dah bisa naik prosotan pakai tali. Sekarang nggak takut lagi!” Oho, itu laporan langsung yang menyenangkan. Maka aku bersemangat menyambut, “Ciiiiiaaaa, Gigih hebat!!! Sekarang, ayo balapan lari sama Bapak…” Dan kami pun lari, naik turun sesuai dengan kontur tanah, menuju tempat parkir kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman atau guru sakit dan tidak masuk sekolah juga menjadi menu laporan langsung si Gigih. “Dinda tadi nggak masuk, Pak. Ihdin juga. Sakit, kata Bu Guru.” Kali lain, ini laporannya, “Pak, Bu Silvi nggak masuk, sakit…” Apalagi kegiatan-kegiatan saat “belajar”, selalu dia laporkan begitu aku datang menjemput, bahkan rencana esok hari. “Besok bawa baju ganti Pak, aku mau main air.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mana?” tanyaku. Gigih semangat menyahut, “Water boom to ya!” Di rumah, dia ceritakan juga rencana itu pada ibunya. “Ke water boom? Water boom yang di mana? Yang bener? Kok nggak ada surat dari Bu Guru?” usut Entik. Gigih cuek menjawab, “Ya nggak tahu.” Besoknya, saat aku jemput pulang, Gigih yang sudah ganti pakaian langsung laporan, “Ternyata nggak ke water boom kok Pak? Tapi tetep main air. Tadi nyuci motor sambil ciprat-cipratan!” Aku terbahak. “Nyuci motor siapa? Bu Ira atau Bu Silvi?” Hehehe… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                      * * * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/Sw-H43wNu7I/AAAAAAAAAq8/St-GDXgqc6k/s1600/BIRUPROSOTAN.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/Sw-H43wNu7I/AAAAAAAAAq8/St-GDXgqc6k/s320/BIRUPROSOTAN.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408691088603855794" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SAAT&lt;/span&gt; mengantar bekal makan siang ke kelas Biru, IV-A Semangat, yang kutemui tak hanya anak kedua kami itu, tapi juga teman-temannya. “Bilaaaaalllll (ini panggilan Biru di sekolah), dicari bapakmu!” teriak mereka selalu. Dari mereka pulalah aku mendapat laporan langsung. Saat Biru tak ada di kelas, aku tanya pada mereka, “Biru mana?” Ada yang bilang tak tahu, ada pula yang menjawab, “Main internet di warnet sana, Pak.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang aku tak perlu ke kelas karena Biru sedang belajar di luar. Dan kalau tahu aku datang, dia pasti teriak dari kejauhan. “Bapppppaaaaaakkkkk, Ibuk masak apa?” Oho, aku jamin, siapa pun yang sekarang sudah menjadi bapak, tak akan pernah melupakan momen teriak-panggilan seperti itu. Senang, bangga, bahkan bahagia! Sambil menyerahkan bekal, biasanya aku bilang, “Apa pun makanannya, Ibuk memasak dengan cinta. Jadi, bersyukurlah dengan makan bekal ini sampai habis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, aku cari Biru ke kelas, tak ada. Ke lapangan depan, belakang, saung, juga tak ada. Kutitipkan bekal itu pada Baril, salah satu temannya yang bilang, “Bilal belum pulang…” Ketika aku ke tempat parkir, kulihat Biru dengan membawa tali beserta guru otbon dan beberapa temannya keluar dari “hutan kecil” di seputar sekolah. Kutunggu dia. Dan inilah laporan langsungnya dengan kaos dan celana kotor. “Capek aku, Pak. Tadi naik bukit, nggak pakai alat bantu apa-apa. Aku berusaha dan bisa!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan langsung Biru kemarin membuatku kian “menyukai sekolah alam”. Begitu menerima bekal di kelas, dia berbicara gagap menirukan peran Azis Gagap di Opera van Java: “Akkkk…kkku hhhhaaaa… bis tiddd…dur… tadi.” Beberapa temannya tertawa. Bicara gagap itu jelas bercanda, tapi tidurnya, tidak. Biru pernah bercerita, murid boleh tidur di kelas kalau memang benar-benar ngantuk. Waktu aku sedikit protes, “Kok gitu sih?” Jawaban Biru amat telak, “Ngantuk disuruh belajar, mana bisa masuk? Tidur dulu bentar, bangun, terus belajar lagi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar laporan langsung tanpa ragu seperti itu, sungguh, amat menyenangkan…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-4147095012585980223?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/11/sungguh-amat-menyenangkan.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SxBtJH7wUPI/AAAAAAAAArE/6YQc2a2yMQg/s72-c/GIGIH+DKK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>14</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-3306685064734752383</guid><pubDate>Mon, 23 Nov 2009 02:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-23T10:00:17.961+07:00</atom:updated><title>Moonlight Dinner</title><description>episode yang belum selesai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I : aku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengambang aku di segelas sexyblue ketika debur ombak tak menemu pantai dan rindu bulan pada purnama kembali tertelikung waktu. Gemuruh dalam jauh beribu daun berebut luruh. Angin kehilangan mata namun tak ada luka selain lagu yang belum kita tulis dan nyanyikan bersama. Catat baik-baik terserah di buku apa: mungkin kita masih juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;II : sexyblue &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kubiarkan kau mengambang hingga waktu tak punya makna di luar rasa –apalagi malam merampas senja begitu tiba-tiba karena nawangwulan yang kau sandera dengan soneta bisa terbang tanpa selendang. Tapi tidakkah kau iba pada kekasihku, sexyblue juga, yang menggigil di seberang meja? Rusuh tak tersentuh bersahut pantun dengan keluh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;III : bulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siapa melukis ini: seorang lelaki, dua gelas sexyblue, dan sepi termati. Warna terperangkap resah mendung yang tak hendak menghujan. Tanda tangan dan tanggal di sudut kanvas kabur ke alas kabut setelah mencuri cahaya yang kupendarkan semenjak senja. Siapa melukis ini: aku meliuk-liuk di atas alun dalam tiupan saksofon paling ngungun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;IV : kamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bukan aku tak suka pada malam dan bulan yang menjemba rindu dari sudut terjauh. Aku hanya belum mampu membaca siapa kita yang tak punya tanda selain tanya dan koma….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-3306685064734752383?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/11/moonlight-dinner.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>5</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-1799803718004282353</guid><pubDate>Tue, 17 Nov 2009 20:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-18T03:32:08.675+07:00</atom:updated><title>So, Jangan Pernah Biarkan...</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SwMID4nTsAI/AAAAAAAAAq0/GI3Pcrncemc/s1600/TIALAH.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 115px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SwMID4nTsAI/AAAAAAAAAq0/GI3Pcrncemc/s200/TIALAH.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405172840604610562" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TIA&lt;/span&gt; jenuh. “Gitu-gitu melulu…” katanya soal Komunitas Belajar Alternatif Qaryah Thayyibah, Kalibening, Salatiga, tempat dia belajar memandirikan diri. Dan itulah memang “penyakit” utama setelah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;malas&lt;/span&gt; dalam sebuah komunitas belajar yang semua berpulang pada diri sendiri. Tak ada yang menyuruh, apalagi memaksa untuk begini-begitu selain diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sebagian (besar) sedang terlanda “kemalasan”, tak bisa tidak, sepilah “sekolahan”.  Setiap murid sibuk dengan diri sendiri. Kemarin, hari ini, dan esok seolah tak berbeda. Yang muncul kemudian, menurut pengalaman Fina dan kawan-kawan (angkatan pertama komunitas itu) adalah kevakuman. Dan dalam kevakuman, setiap pribadi, termasuk Tia, sangat mungkin jenuh, bosan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang aku baca dan dengar dulu, gairah belajar yang begitu menyenangkan di Q-Tha, gak tampak sekarang,” tulis Tia dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;report&lt;/span&gt;-nya pada si bapak ini beberapa waktu lalu. “Padahal, aku pengin banget merasakan itu….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;report&lt;/span&gt; itu juga, ini yang aku kagumi (sekaligus khawatiri), dia menyatakan tak akan mundur, bahkan akan berusaha mengajak teman-temannya untuk mengembalikan gairah belajar yang pernah ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pulang tempo hari dan dia bilang “jenuh” itu, aku bertanya, “Mau kembali ke sekolah formal aja?” Cepat dia menjawab, “Gak!” Aku tawarkan solusi lain: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;homeschooling&lt;/span&gt; tanpa “meninggalkan” komunitas. Jadi, belajar apa saja di rumah tapi tetap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;keep contact&lt;/span&gt; dengan teman-temannya di Salatiga lewat “gelar karya” sesekali waktu. Tia menggeleng. “Bulan ini ada proyek yang harus kami kerjakan, bikin majalah dan film,” katanya. Lalu soal jenuh itu? Dia akan coba atasi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang tua, bapak, mau tak mau aku harus berdiri pada posisi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wait and see&lt;/span&gt;. “Setelah selesai suatu urusan, segeralah pindah atau selesaikan urusan yang lain. Itu Tuhan yang bilang, Nduk. So, jangan pernah biarkan waktu terbuang percuma… “ kataku saat dia pamit balik ke Kalibening.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-1799803718004282353?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/11/so-jangan-pernah-biarkan.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SwMID4nTsAI/AAAAAAAAAq0/GI3Pcrncemc/s72-c/TIALAH.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>10</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-2638338067377112746</guid><pubDate>Thu, 12 Nov 2009 11:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-15T11:45:55.515+07:00</atom:updated><title>Weh!</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/Sv-HQcFqUEI/AAAAAAAAAqs/ybcY6dQQ7P4/s1600-h/LATREEBUKU.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/Sv-HQcFqUEI/AAAAAAAAAqs/ybcY6dQQ7P4/s200/LATREEBUKU.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404186794355478594" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AGAK-AGAK &lt;/span&gt;aneh, tapi beginilah nyatanya: begitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;back to home&lt;/span&gt;, ada saja teman yang mengajak bersibuk-sibuk atau memberi “pekerjaan”. Dari yang memang sudah biasa seperti jadi moderator, narasumber, trainer plus motivator (haiyah, gaya!), bikin buku, desain tabloid/bulletin sampai yang di luar kebiasaan: bikin rancangan iklan dan acara televisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, agak-agak aneh, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;back to home&lt;/span&gt; tapi malah sering juga keluar: ketemu siapa di mana pukul berapa. Dari kafe di mal sampai warung wedang kacang ijo atau segakucing. Waktu yang tak bisa diganggu-gugat memang waktu antar-jemput anak sekolah itu. Selebihnya, fleksibel, tergantung permintaan dan kemungkinan manfaat. Baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun bagi banyak orang (ini jelas sok-sokan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entik bilang, “Bapak ini nganggur kok malah jadi kelihatan sibuk!” Iyah, kelihatan karena memang belum jelas hasilnya. Hehehe… Tak apa. Toh proses (belajar) bisa jauh lebih penting ketimbang hasil. Lagipula, Tuhan tak pernah tidur kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesibukan yang terdekat di luar panggung blablabla adalah merancang tampilan buletin/majalah kampus, bikin talkshow “Sem(b)arangan” dan serial “Kafe Bandungan” untuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;TVRI&lt;/span&gt; Jawa Tengah (bersama banyak kawan tentu saja), serta peluncuran buku kumpulan cerpen &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suicide&lt;/span&gt; karya Latree Manohara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya, saat ngobrol dengan Latree, baru aku ingat bahwa buku kumpulan cerpenku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di Kereta, Kita Selingkuh&lt;/span&gt; itu belum pernah diluncurkan secara resmi. Weh!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-2638338067377112746?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/11/weh.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/Sv-HQcFqUEI/AAAAAAAAAqs/ybcY6dQQ7P4/s72-c/LATREEBUKU.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>8</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-5470032655676507659</guid><pubDate>Mon, 09 Nov 2009 22:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-10T05:34:53.555+07:00</atom:updated><title>Libur Teruuussss…</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KEGIATAN&lt;/span&gt; rutinku setiap pagi seperti mengulang kegiatan sepuluh tahun lalu: antar-jemput anak sekolah. Dulu si sulung Tia, sekarang si bungsu Gigih dan kakaknya, Biru. Pukul 07.00 aku antar keduanya ke Sekolah Alam Ar-Ridho, sekitar 6 km dari rumah, melewati dua “perumahan atas”, Bukit Sendangmulyo dan Puri Dinar Mas. Sekolah mereka berada persis di mulut Perumahan Bukit Kencana Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Gigih masuk TK tahun ini, Biru turut mobil antar-jemput. Makan siangnya pun, karena sejak kelas III sekolah hingga asar, dia ikut kateringan. Sekarang, kelas IV, beda. Apalagi setelah aku fokus hanya nulis di rumah. Dia pulang (sore) bersama banyak teman dengan mobil jemputan, sedangkan bekal makan siangnya aku antar saat aku menjemput Gigih pukul 11.00. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SviYbOtp2LI/AAAAAAAAAqE/zs47ZZ1Td60/s1600-h/treeboys.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SviYbOtp2LI/AAAAAAAAAqE/zs47ZZ1Td60/s320/treeboys.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402235346604382386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Lucu juga ya kerjaanku sekeluar dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, antar-jemput anak…” kataku suatu pagi saat ngobrol dengan Pak Doni di lab multimedia. Salah satu guru Sekolah Alam Ar-Ridho itu menyahut dengan suara pelan-sopan, “Disyukuri saja, Pak. Banyak lho orang tua yang pengin nganter anak sekolah tapi tak bisa karena terbentur jam kerja. Pak Budi enak, bisa menunjukkan perhatian dan rasa sayang pada anak dengan cara seperti ini juga…. Tak cuma membelikan buku atau bayar SPP.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal rutin mengantar-jemput Gigih, seperti ketika dulu mengantar-jemput Tia, aku memang jadi “pemandangan” yang berbeda di antara kaum ibu yang mengantar-jemput anak mereka. Kalaupun ada kaum bapak, hanya satu dua, plus dua tiga kakek yang mengantar-jemput cucu. Aku yakin, para ibu itu mbatin, “Hari gini kok ya ada suami yang punya waktu longgar begitu. “ Apalagi, kadang-kadang, aku “menunggui” Gigih hingga pulang sambil nulis di saung atau memanfaatkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hotspot free&lt;/span&gt; di Ar-Ridho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku batin itu terbukti saat seorang ibu ertanya pada Gigih, “Kok diantar-jemput papa terus? Mama kerja ya?” Sebagaimana adatnya, Gigih spontan menjawab, “Nggak. Ibuk di rumah, jaga warung!” Terbukti lagi ketika Entik bayar SPP atau pas acara halalbihalal bulan lalu. Dia bertegur-sapa dengan ibu-ibu yang lain dan dapat pertanyaan ini: “Kok yang nganter Gigih bapaknya terus?” Santai Entik menjawab, “Lha bapaknya nganggur… Nganter anak kan jadi manfaat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling repot ketika ada guru yang tak begitu dekat atau bapak-bapak yang sesekali punya kesempatan menjemput anaknya menyapa dengan pertanyaan, “Libur, Pak?” Aku jawab libur, kok ya terlalu sering. Aku jawab tidak, pasti harus menjelaskan lebih panjang bagaimana pola kerjaku sekarang. Akhirnya, ya tertawa dan menjawab singkat, “Saya libur terus kok….” Yang bertanya turut tertawa karena menganggap aku guyon belaka. Lumayanlah, meski “nganggur”, bisa membuat orang tertawa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-5470032655676507659?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/11/libur-teruuussss.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SviYbOtp2LI/AAAAAAAAAqE/zs47ZZ1Td60/s72-c/treeboys.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>8</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-7721698649502474477</guid><pubDate>Sat, 07 Nov 2009 09:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-08T22:51:49.469+07:00</atom:updated><title>“Tenan Lho Ya!”</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ROSI&lt;/span&gt; Simamora, salah satu editor buku Gramedia Pustaka Utama, melalui facebook berhasil ”memprovokasi”-ku untuk menulis buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;edutivity&lt;/span&gt;: cerita bergambar plus aktivitas, tentu untuk anak-anak.  Awalnya, aku tulis satu cerita contoh yang berangkat dari komentar dia di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wall&lt;/span&gt;-ku tentang cicak. “Siiip Mas, bagus…. Tapi ya jangan cuma satu, bikin lima sekalian!” katanya via email. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gembira sekaligus pusing sebab meski bukan cerita panjang, nulis satu judul saja harus mengerahkan aneka jurus kepenulisan, apalagi tambah empat lagi. Menolak tantangan jelas pantangan. Namun ribet “urusan” kantor (saat itu aku masih kerja di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;) membuat proses menulis itu tersendat-sendat. Cerita kedua jadi, tak bisa lanjut ke cerita berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, Tuhan yang Mahabaik memberiku jalan. Begitu aku berketetapan hati untuk fokus menulis dan pamit berhenti dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt; (3 Agustus 2009), tiga cerita berikutnya mengalir begitu rupa. Setelah kuedit sana-sini, aku minta Tia dan Biru untuk membaca. Deg-degan kutunggu komentar keduanya. “Bagus!” Yesss!!! Tapi kurang lengkap juga kalau tanpa komentar Gigih, si TK-kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam menjelang tidur, seperti biasa dia minta dibacain buku. Segera kumanfaatkan kesempatan itu untuk “promo” cerita sendiri. “Bapak bacain karya Bapak ya?” tanyaku sambil membawa naskah ke tempat tidur. “Bukunya mana?” tanya Gigih. Aku menjawab, “Ini masih naskah, belum jadi buku. Tapi ceritanya bagus lho.” Ternyata… tegas dia menolak, “Nggak mau. Nggak ada gambarnya. Jelek!” Setelah beberapa kali mencoba tetap gagal juga, ya wis, aku kirim empat cerita berikutnya itu via email ke Rosi Simamora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SvVDAOWQj7I/AAAAAAAAAp0/COpDzo9hcnU/s1600-h/LIMA+KARAKTER+CONTOH.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 80px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SvVDAOWQj7I/AAAAAAAAAp0/COpDzo9hcnU/s400/LIMA+KARAKTER+CONTOH.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401296999231295410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, Rosi mengirimiku contoh ilustrasi, via email juga. Wow! Bagus sekali. Kutunjukkan “halaman 1” salah satu judul cerita itu pada Entik, Tia, Biru, dan Gigih. Semua suka. “Kok jadi bagus ya?” komentar Gigih. “Nanti malem bacaain ya, Pak!” Haiyah, baru satu halaman contoh, gimana caranya? Di komputer pula. Tapi karena pengin &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngerjain&lt;/span&gt; Gigih yang kemarin-kemarin menolak tegas dan bilang jelek, aku bacakan juga malamnya. Ya cuma awalan cerita itu. “Lho, kok gitu thok?” tanyanya. Hahaha… kena dia. “Baru satu yang digambar. Entar kalau udah jadi buku, baru bisa baca semua…” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama pula setelah itu, Rosi mengirimiku contoh ilustrasi lima karakter cerita. Lagi-lagi kutunjukkan pada orang serumah. Sangat kelihatan, Gigih yang paling &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kemecer&lt;/span&gt; sampai dia sentuh layar komputer. Ingin benar dia mengambil “buku” itu. “Ini ceritanya juga belum selesai, Pak?” tanyanya. “Ceritanya udah, gambarnya yang belum. Nanti kalau udah semua, dicetak, dan jadi buku, pasti Bapak bacaiin.” Gigih tersenyum senang tapi tetap minta tanda kesungguhan, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tenan &lt;/span&gt;lho ya!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibuk DP-nya aja, nggak usah dibacain…” sela Entik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng, jauh lebih mantap. Dia pun mencubit –seperti dulu, dulu sekali…. “Aow!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh, heh! Udah tua-tua kok guyon!” sergah Biru. Renyahlah seisi rumah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-7721698649502474477?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/11/tenan-lho-ya.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SvVDAOWQj7I/AAAAAAAAAp0/COpDzo9hcnU/s72-c/LIMA+KARAKTER+CONTOH.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>5</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-8564817077899991898</guid><pubDate>Fri, 06 Nov 2009 02:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-06T09:49:11.251+07:00</atom:updated><title>daripada daripada</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SvOOeY8316I/AAAAAAAAApk/C0CgoRh2yN8/s1600-h/GOKIL+(2).jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 262px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SvOOeY8316I/AAAAAAAAApk/C0CgoRh2yN8/s320/GOKIL+(2).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400817030892345250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SAMPAI&lt;/span&gt; hari ini, masih juga ada yang bertanya, kenapa atau apa alasan paling mendasar aku keluar dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, koran terbesar dan tersebar di Jawa Tengah itu. Sampai hari ini, masih juga ada yang “menganggap” aku emosional, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;grusa-grusu&lt;/span&gt;, dan memberikan reaksi yang tak proporsional atas “penghapusan” Kantin Banget , halaman remaja yang selama empat tahun menjadi salah satu tanggung jawabku sebagai redaktur di sana. Sampai hari ini, masih juga ada yang “menyesali” langkahku membubarkan Geng Kantin Banget, komunitas yang lahir dari persinggunganku dengan pembaca (remaja).  “Eman-eman,” kata mereka. Bahkan masih juga ada “teman” yang mengulang-ulang pernyataan, “Kalau soal sakit, bukankah semua kita sakit? Kalau soal terzalimi, kamu tidak sendiri, semua terzalimi. Kenapa mesti keluar?” Fiuuuhhhh….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebagian anggota (mantan) Geng Kantin Banget yang silaturahim ke rumah sambil membawa tumpeng halalbihalal beberapa waktu lalu, aku ceritakan bahwa sudah sangat lama aku amat berhasrat keluar dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Merdeka,&lt;/span&gt; bahkan ketika mereka yang sekarang sudah SMA dan mahasiswa itu masih riang gembira nyanyi-nyanyi di bangku TK atau SD! Penghapusan Kantin Banget itu bukan sebab, melainkan hanya semacam “pintu keluar yang terbuka dengan tiba-tiba”. Dan aku membubarkan Geng Kantin Banget, selain karena secara formal mereka memang tak lagi punya cantolan, juga karena rasa sayang. Aku tak ingin mereka menemukan “tulang tanpa isi di ujung gang”. Aku ingin mereka segera “menyebar ke pekan-pekan seperti jamaah usai jumatan”. Bubar demi masa depan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nada sangat bercanda, dalam kasus penghapusan Kantin Banget itu, Entik bilang, “Tuhan tak sabar lagi menunggu Bapak kuat iman untuk keluar…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar dua atau tiga tahun lalu, Entik malah pernah menyatakan, “Kalau Bapak tak bosan jadi karyawan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, Ibuk yang sudah bosan jadi istri karyawan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Merdeka.&lt;/span&gt;”  Pernyataan itu dia ulang akhir Juli 2009 saat kami kembali memperbincangkan langkah terbaik bagi kami sekeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naaaa… daripada dia akhirnya minta cerai karena “bosan” itu dan kemudian mencari suami lain, ya sudah, aku pilih cerai dari Suara Merdeka. Hahaha…!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-8564817077899991898?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/11/daripada-daripada.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SvOOeY8316I/AAAAAAAAApk/C0CgoRh2yN8/s72-c/GOKIL+(2).jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>5</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-7161789711860076544</guid><pubDate>Sun, 25 Oct 2009 02:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-25T11:32:18.133+07:00</atom:updated><title>Hanya ALAM yang Bisa Mengajarkan</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SuO2jMsSQhI/AAAAAAAAApc/EAebkHBEx0g/s1600-h/BILAL+SEMANGAT.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 230px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SuO2jMsSQhI/AAAAAAAAApc/EAebkHBEx0g/s320/BILAL+SEMANGAT.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396357494338634258" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BULAN&lt;/span&gt; ini Biru dan teman-temannya di SD Alam Ar-Ridho sedang riang gembira mengeksplorasi tema “hewan”. Dan karena itu, nyaris setiap hari dia minta, “Buk, beliin kelinci, Buk.” Sibuk pula dia membuat kandang kelinci dari kardus. Belum sempat kami belikan, suatu hari dia bilang, “Ndak usah wis. Aku dan teman-teman mau beli sendiri di Bandungan pas outing nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari outing itu, selain ke Bandungan juga ke kebun binatang Mangkang, sore Biru pulang “bersama” seekor kelinci putih imut dan lucu. “Wah, kok kecil sekali. Kenapa gak beli yang gede?” Tanya Entik. Biru menjawab cepat, “Yang besar mahal, Buk!” Dia taruh kelinci itu di kandang kardus, dia beri kangkung dan wortel. Dia amati dengan mata “jatuh cinta”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ikut Tia keluar rumah, dia titipkan kelinci itu pada Gigih. Tak lama, Gigih teriak, “Pak, kelincinya mau dimakan Pusi!!!” Aku yang sedang asyik nulis di kamar segera keluar. Wahaaa!!! Pusi, kucing piaraan kami, sedang berusaha meraih kelinci itu dari lubang kardus. Saat Biru pulang, Gigih cerita soal itu. Biru pun marah pada Pusi. “Kalau nakal, kamu kubuang lho, Pus!” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya nggak boleh gitu, Mas. Ada piraan baru kok terus mau buang piaraan yang lama…” kata Entik. Biru menyahut, “Lha Pusi nakal!” Aku menimpali, “Itu kodrat binatang, Mas. Yang kuat akan memangsa yang lemah… Ati-ati aja. Taruh kelinci itu di tempat yang tak terjangkau Pusi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, aku dan Entik menghadiri ijab-kabul pernikahan keponakan. Baru saja beramah-tamah dan duduk, Biru menelepon dari rumah. Dengan suara bergetaran tangis, dia mengadu, “Pak…. kelincinya mau dimakan Pusi… udah kutaruh di atas, tapi tetep aja Pusi bisa ngambil. Kelincinya berdarah, Pak…. kakinya digigit Pusi. Bapak cepet pulang!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, nggak bisa Mas, Bapak baru aja sampai. Kok nangis sih? Waduh, belum lama jadi piaraan udah gitu. Kalau lebih lama kayak Pusi, gimana itu?”&lt;br /&gt;“Kalau kelinci ini mati gimana, Pak? Ini kan dibeli dengan uang teman-teman. Kalau mereka marah, gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak udah bilang, itu kodrat binatang. Yang kuat memangsa yang lemah. Pusi nggak tahu kelinci itu dibeli dengan uang teman satu kelas, Pusi juga nggak tahu kelinci itu bagian dari pelajaran sekolah…. Udah, kamu obati dulu aja lukanya, minta bantuan Mbak Tia…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam kemudian, Biru telepon lagi. “Bapak pulang jam berapa?”&lt;br /&gt;“Nanti, setengah sepuluh. Kamu tidur aja dulu…”&lt;br /&gt;“Nggak! Aku nggak mau tidur. Aku mau jaga kelinci ini biar nggak diterkam Pusi lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku dan Entik pulang, Biru benar-benar sedang menjaga kelinci itu –di kamar kami dengan mata sembab pula. “Tadi Biru marah dan nendang Pusi,” kata Tia. Aku menatap Biru. “Kamu nggak sayang lagi sama Pusi?” tanyaku. Biru tersendat menjawab, “Ya sayang, tapi aku juga sayang kelinci ini. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udah, bawa ke kamar kamu…” kata Entik sambil membuka kandang kardus itu. “Mana lukanya? Sudah dikasih obat merah kan?” Tapi…. “Wah, Mas, kayaknya… udah mati ini… udah kaku begini…” Dia ambil kelinci itu dan memang sudah kaku, sudah mati. Tak ada yang bisa mencegah, Biru nangis lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bulunya halus sekali ya…” kata Entik.&lt;br /&gt;“Bulunya halus tapi matinya kasar!” sahut Biru, sangat geram (pada Pusi pasti).&lt;br /&gt;“Sudahlah…. Pusi nggak salah, dia nggak tahu…” selaku.&lt;br /&gt;“Kalau besok teman-teman marah sama aku gimana?”&lt;br /&gt;“Ceritakan saja semuanya dengan jujur, terbuka. Pasti teman-temanmu paham. Sekarang, kita kubur saja kelinci ini. Oke?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu juga bersama Tia, Biru, dan Gigih aku menggali tanah dan “menanam” kelinci yang imut yang lucu di bawah pohon belimbing…. sambil deg-degan juga membayangkan apa yang akan terjadi saat Biru menghadapi teman-teman sekelas. &lt;br /&gt;                                   * * * * *&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BESOKNYA,&lt;/span&gt; saat mengantar bekal makan siang, aku temui Biru di kelas IV-A. Bu Yayuk, guru mereka, sedang duduk lesehan dalam kerumunan beberapa murid. Murid-murid yang lain ribut “menggembala” kelinci yang lari ke sana kemari. Kandang-kandang kardus penuh sayuran ada di pojokan. Kelas yang hidup, bukan kelas yang sunyi, apalagi mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana, Mas, udah kamu ceritakan dengan jujur dan terbuka? Teman-temanmu gak marah kan?”&lt;br /&gt;“Udah. Nggak, nggak marah. Cuma banyak tanya. Kami masih punya tujuh kelinci lagi kok,” jawabnya sambil tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum juga. Senang karena tema “hewan” tak hanya memberinya pelajaran tentang jenis-jenis hewan, jaring-jaring makanan, rantai makanan, atau simbiosis mutualisme/parasitisme, tapi juga pelajaran bagaimana menghadapi kenyataan tak terduga, bahkan pahit, serta mengelola kesedihan dan mengatasi rasa takut yang sering tak beralasan. Untuk itu, memang hanya Alam yang bisa mengajarkan….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-7161789711860076544?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/10/hanya-alam-yang-bisa-mengajarkan.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SuO2jMsSQhI/AAAAAAAAApc/EAebkHBEx0g/s72-c/BILAL+SEMANGAT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>9</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-8787472153196188341</guid><pubDate>Mon, 19 Oct 2009 07:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-25T09:20:29.036+07:00</atom:updated><title>Begini Rasanya</title><description>HARI ini, aku minta maaf dua kali. Pertama, saat mengantar Biru ke sekolah. "Maafin Bapak ya, Mas.. tadi malam Bapak marah," kataku sambil &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngosak-asik&lt;/span&gt; rambutnya. Ringan dan cepat, Biru menjawab, "Iyah, gak papa." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, setelah Tia berangkat ke Peterongan untuk ngadang bis ke Salatiga. Mestinya, aku antar dia sekaligus hadir dalam pertemuan wali murid. Kukirim sms: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I am so sorry...&lt;/span&gt; Agak lama, bahkan setelah aku telepon soal yg lain, barulah sms balasannya datang, "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Heiii.. no problem, Dad!"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lega, iya. Tapi tetap ada "sisa". Begini rasanya jadi orang tua yang "tak sempurna".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-8787472153196188341?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/10/begini-rasanya.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-385654223519575947</guid><pubDate>Wed, 07 Oct 2009 12:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-09T17:16:44.377+07:00</atom:updated><title>Saat Kau Cium Pipi Ini, Nduk</title><description>pundak memberat &lt;br /&gt;langkah pun melambat&lt;br /&gt;tak berani menoleh karena jejak bisa memanggil&lt;br /&gt;seperti utang yang belum terbayar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita simpan saja kata&lt;br /&gt;untuk pertemuan berikutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X-Bening Sala3, 4 Oktober 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-385654223519575947?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/10/saat-kau-cium-pipi-ini-nduk.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-1553890633554322600</guid><pubDate>Mon, 28 Sep 2009 16:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-28T23:47:23.071+07:00</atom:updated><title>Kalaupun Bukan Doaku</title><description>SEPERTI tahun lalu, Idul Fitri tahun ini kami tak ke mana-mana --selain ke TimeZone! Seminggu menjelang Lebaran, Tia dan Biru beberapa kali bertanya soal “ke Tegal atau Gresik”.  Gigih pun ikut-ikutan bertanya. Aku tak memberikan jawaban. Entik hanya bilang, “Kita lihat nanti.” Pada H-1, jelas, tak ada “fasilitas”. Bagiku itu berarti tak ada “amanah”. Tak perlu memaksakan apa pun, termasuk silaturahim yang sangat kami sukai itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai shalat id, ini tak seperti Lebaran-lebaran sebelumnya, aku memilih untuk meminta maaf lebih dulu setelah menyampaikan soal khilaf dan salah, juga kekuranganku sebagai bapak dan suami. “Sangat ingin Bapak memberikan yang terbaik untuk Ibuk, Mbak Tia, Mas Biru, dan Gigih…  Tapi, ya, beginilah… Maafkan Bapak ya… Alhamdulillah, kita tetap terlimpahi rezeki kesehatan hingga bisa melakukan apa pun dengan lebih baik besok atau lusa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diwarnai cekikik geli si Gigih yang memang belum “dhong”, Entik melanjutkan “ritual” itu. Dia memaafkan dan meminta maaf, terus berlanjut ke Tia, Biru, dan Gigih (ini yang paling merepotkan, karena salim sambil lari, tak mau cium pipi, apalagi saat mesti salim sama dua kakaknya). Setelah itu, kami nikmati sarapan lontong opor ayam dan apalagi kalau bukan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah syukur, silat fisik kami tak terputus sama sekali. Hari kedua, sore sepulang dari TimeZone sebagai pengobat “sepi sendiri di perumahan” bagi anak-anak, kami ketamon Pak Doni sekeluarga (thanks Bro, kau orang pertama yang meminum sirup kami). Hari ketiga pagi, Benu (salah satu sohib yang dulu juga teman sekantor di Suara Merdeka) berkunjung. Sorenya, Cak Aris yang dari Gresik datang. “Wah, gondrong!” katanya. Fiuuhhh… Adik ketamon kakak, saat Lebaran pula, sangat menggetarkan. Dua kakakku yang lain, Cak No dan Mbak Win, tak mudik ke Kendal karena benar-benar sedang repot di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari keempat, Tia tak kuat (pisss Nduk!) dan “pulang” ke komunitas belajarnya di Salatiga. Berkurang satu anggota saja, ternyata sangat terasa, apalagi pada saat-saat begini. Saat itulah aku dapat jatah “silaturahim selingan”: Rabu (23/9) makan siang bersama Handry TM yang ulang tahun (tur nuwun untuk Ny TM yang memesan ikan Cianjur untuk orang rumah), Kamis (24/9) reuni angkatan pertama (1981) SMA PGRI Kendal setelah 25 tahun berpisah, Jumat (25/9) malam kopi-darat dengan Emi-Kenny-Malaysia (thanks lipstiknya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu (26/9), bersama istri dan anak, Tavip yang rekan-dulur senasib sepenanggungan sejak kuliah hingga termehek-mehek di Suara Merdeka nyambangi kami dengan humor-humor pahitnya. Minggu (27/9) pagi Aulia yang sudah kopdar bersama Kenny datang beserta anak-istri plus nasi pecel yang uenak tenan untuk sarapan. Siang, Kang Putu beserta anak-istri yang baru saja balik dari Purwodadi mampir pula. Sore, Nining “si adik tiri” datang bersama suami dan memberi tahu akan mantu anak pertama Oktober nanti (ridhoi rencana mereka, Tuhan!). Bakda isak, rezeki teman rezeki persaudaraan hari itu disempurnakan oleh keluarga Syamsul, salah satu soulmate yang kerja di majalah Gatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu malam, Entik bergumam, “Tahun depan, kita mesti satukan silaturahim yang gencal-gencil ini.” Aku berkerut dahi. “Mampukah kita?” tanyaku. Entik mengangguk. “Insya Allah, mampu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan yang Maha Berdaya, kalaupun bukan doaku, dengar dan kabulkanlah doa istriku…Please, Gusti!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-1553890633554322600?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/09/kalaupun-bukan-doaku.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>5</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-932276056426052362</guid><pubDate>Thu, 17 Sep 2009 05:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-17T12:49:01.040+07:00</atom:updated><title>Ulang Tahun “Termewah”</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SrHLrNGZtRI/AAAAAAAAAnk/ApMidNXBXQk/s1600-h/ENTIK+KIE.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 114px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SrHLrNGZtRI/AAAAAAAAAnk/ApMidNXBXQk/s200/ENTIK+KIE.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382306972795778322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SUNGGUH,&lt;/span&gt; rasanya baruuuu saja aku nulis puisi di blog sebagai hadiah ulang tahun untuk Entik dan Tia, eh, kemarin (16 September) keduanya kembali ulang tahun. Entik ke-45, Tia ke-16. Setahun berlalu, tak hanya begitu cepat, tapi juga singkat. Dan aku? Lagi-lagi “kelabakan”. Apalagi sekarang, baru saja “terjun bebas”, tak bisa memberikan hadiah kecuali ciuman….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sungguh juga, Allah Mahasayang Maha Pemurah. Dalam keserbaterbatasan kami, ulang tahun “duo virgo” tahun ini malah jadi ulang tahun “termewah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemewahan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;pertama:&lt;/span&gt; hujan yang cukup lama lenyap, turun begitu deras saat kami berbuka puasa. Sejuk luar dalam rasanya. Lalu… listrik mati! Mau tak mau, kami mesti menyalakan beberapa lilin sekaligus. “Ulang tahun dan buka puasa jadi romantis nih,” kata Entik. Saat lampu menyala, yang tak ulang tahun turut berebut tiup lilin. “Kita ulang tahun sekarang juga ya, Mas?” kata Gigih pada Biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemewahan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;kedua:&lt;/span&gt; karena hujan begitu deras, kami memutuskan untuk tak ke masjid dan tarawih berjamaah di rumah. “Tapi Bapak harus ceramah lho, aku catet,” kata Biiru yang tahun ini punya buku kegiatan Ramadhan hanya demi rebutan tanda tangan pengisi kultum. Kuangguki karena aku tak mau melewatkan kemewahan ini: “merayakan” ulang tahun istri dan anak dengan tarawih (hahaha). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemewahan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ketiga&lt;/span&gt; yang subhanallah banget: saat hendak “ceramah” itu, baru aku tersadar, ulang tahun Entik dan Tia kali ini bertepatan dengan malam ke-27 Ramadhan, salah satu “malam favorit” pada sepuluh hari terakhir puasa. Wow! “Mari kita kejar lailatul-qadar dengan zikir terafdol, yaitu mengaitkan segala gerak dan apa pun yang kita alami dengan Allah. Selalu ingat Dia dalam berdiri, duduk, rebah… bahkan berjalan ke mana pun,” kataku. Biru bertanya, “Jadi, judul ceramahnya apa, Pak?” Hhhh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemewahan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;keempat:&lt;/span&gt; kemarin malam itu, Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng hadir dalam acara konser rebana di halaman Gedung DPRD Jawa Tengah. Begitu hujan reda, sekitar pukul 9 malam, kami sepakat untuk “iktikaf” bersama sebanyak mungkin orang di sana. Tia semangat karena tanggal 25 Agustus lalu dia tak bisa ikut hadir dalam rutinitas Gambang Syafaat. “Ulang tahun Ibuk dan Mbak Tia top banget ah, bisa nanggap Kiai Kanjeng…” kataku saat dalam perjalanan. Ulang tahun yang kuyup dengan shalawat Nabi. Indah sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemewahan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;kelima:&lt;/span&gt; usai konser rebana, kami jalan kaki ke Simpanglima untuk sahur di warung nasi liwet lesehan bawah Matahari. Penutup “acara ultah” yang amat melahapkan. Sembari makan, sesekali aku curi-curi pandang, menatap wajah Entik dan Tia berganti-ganti. “Limpahi keduanya kebahagiaan dan umur yang manfaat, Gusti…..” doaku dalam hati. Dalam sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PS:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Thanks untuk Didin Suwungnana yang bersilaturahim di tengah “iktikaf”, mengantar Biru ke toilet, dan kembali dengan minuman plus kacang godok. Panjang umur luas rezeki ya!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SrHMVs-twmI/AAAAAAAAAns/Nyq9IM0AJJI/s1600-h/TIARELUNG.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 151px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SrHMVs-twmI/AAAAAAAAAns/Nyq9IM0AJJI/s200/TIARELUNG.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382307702907978338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-932276056426052362?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/09/ulang-tahun-termewah.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SrHLrNGZtRI/AAAAAAAAAnk/ApMidNXBXQk/s72-c/ENTIK+KIE.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>5</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-5069174040464054729</guid><pubDate>Sat, 12 Sep 2009 23:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-13T07:19:29.264+07:00</atom:updated><title>Seperti Yang Terjanjikan</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SETIAP&lt;/span&gt; Ramadhan, “menu utama” buka puasa kami tak pernah berubah: teh hangat (aku dan entik) atau es teh (anak-anak) dan mendoan. Makan boleh apa saja, bahkan mi instan sekalipun, tapi si pembuka tetap sama. Jika sehari saja menu utama itu tak terhidang, karena Buk Min si penjual sayur lupa atau kehabisan tempe misalnya, pasti terasa ada yang kurang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beli mendoan di luar? Dua atau tiga tahun lalu pernah begitu dan Biru protes keras: “Kok beli sih? Ibuk bikin sendiri dong… Rasanya beda, lebih enak mendoan bikinan Ibuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diukur dengan lidah obyektif, sangat bisa jadi mendoan kami kalah rasa dibandingkan dengan mendoan yang dijual di pinggir-pinggir jalan itu. Namun bukankah “rasa enak” tak hanya urusan indera pencecap? Buktinya, satu saja di antara kami tak hadir saat berbuka, “rasa enak” itu berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begitulah. Setiap hari, saat buka, kami berlima (Gigih belum puasa tapi selalu turut heboh saat magrib tiba) duduk melingkari meja dan “khusuk” menikmati menu utama. Kami beranjak untuk shalat magrib berjamaah, biasanya, setelah teh dan mendoan tandas-das! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan tahun ini, alhamdulillah, “kekhusukan” itu bertambah karena Tia yang tahun lalu menjalani Puasa bersama komunitas belajarnya di Kalibening, Salatiga, kini memilih berpuasa di rumah. Aku yang tahun lalu masih bekerja di Harian Umum &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt; dan karenanya kadang-kadang harus berbuka di kantor, kini full pula di rumah. Walhasil, seperti yang terjanjikan, saat berbuka adalah “pahala pertama” yang ternyata sudah tiada tara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, terutama tahun ini, “berat” bagiku untuk menerima ajakan atau menghadiri acara buka bersama di luar. Buka bersama Sabtu sore di masjid dekat rumah pun tak bisa menggantikan kekhusukan dan “rasa enak” itu, apalagi buka puasa di mal atau hotel…. Ajakan bertemu untuk ngobrol atau “menggagas proyek bersama” pun aku angguki asal setelah tarawih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, sadar benar aku, ini anugerah yang tak main-main. Sungguh, rahman-rahim Allah begitu melimpah-ruah, khususon bagiku yang belum juga bisa berjauh-jauh dari khilaf dan dosa. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Matur sembah nuwun, Gusti…. Matur sembah nuwun… &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan:  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sampai hari ini, lima kali aku buka puasa di luar. Hanya satu yang memberiku kesan berbeda, tak terasa sebagai basa-basi pergaulan belaka: Sabtu kemarin, berdua saja dengan…. Ah, tak usahlah kusebutkan siapa. Cukuplah aku, dia, Entik, dan yang gaib-gaib yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-5069174040464054729?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/09/seperti-yang-terjanjikan.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-5535181125151519962</guid><pubDate>Sat, 29 Aug 2009 09:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-29T17:01:55.079+07:00</atom:updated><title>Tak Jelas Lagi</title><description>Beginilah pada mulanya: kau biarkan aku berenang dan menyelam sampai ceruk terdalam. Ketika waktu mengunciku di situ, kau karangkan wajahmu. Bahkan tubuhmu. Sebelum aku mulai membangun candi, kau buru-buru menjonggrang tanpa pagi. Maka siapa yang terkutuk tak jelas lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-5535181125151519962?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/08/tak-jelas-lagi.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-3075568287456676483</guid><pubDate>Thu, 27 Aug 2009 01:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-27T09:27:28.788+07:00</atom:updated><title>Bincang Malam sebelum 17-8-2009 (2)</title><description>Di teras, kami duduk bersisihan. Aku bercerita tentang banyak hal, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan, cita-cita, dan masa depan kami sekeluarga. Juga tentang penghapusan Kantin Banget, halaman remaja Suara Mereka yang bertahun kukelola, berikut sebab pembubaran Geng Kantin Banget sehari sebelumnya yang aku lakukan dengan rasa berat dan kesedihan tak tertakar. "Bapak memang lagi sok ngidir..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tia tak banyak berkomentar. Sulung kami itu lebih memilih mendengar, menyerap, semua yang aku katakan. Malam itu, aku benar-benar bapak yang sedang curhat, sekaligus meminta pertimbangan "jalan terbaik" pada anak. "Kebiasaan" yang (seolah) terbalik memang, tapi itu aku lakukan karena Tia --meski berusia enam belas tahun-- "sudah besar", mbarep pula, dan anak yang bakal langsung menerima dampak keputusan "terjun bebas" ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ceritakan juga pada Tia, betapa ibuknya sudah sangat mantap melangkah ke arah yang berbeda, karena yakin arah tempuh selama ini tak memberikan peluang perubahan apa-apa. "Gimana, Nduk?" tanyaku saat malam telah berubah menjadi dinihari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sempurnakan saja," jawab Tia. "Kantin Banget tak ada, gengnya sudah bubar, ya redakturnya keluar sekalian..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini bukan soal Kantin Banget lho Nduk..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu... Sejak setahun lalu aku sudah merdeka belajar, kini saatnya Bapak merdeka bekerja." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi kau setuju Bapak ambil langkah terjun bebas? Tanpa payung, tanpa tali pengaman, tanpa kasur yang menunggu di tanah? Bahkan kau pun harus siap turut berkarya, berjuang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yupz, ayo terjun bebas!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azan subuh terdengar. Aku menangis --meski tanpa air mata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-3075568287456676483?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/08/bincang-malam-sebelum-17-8-2009-2.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>6</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-4126662869780873371</guid><pubDate>Sat, 22 Aug 2009 09:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-22T17:20:47.564+07:00</atom:updated><title>Bincang Malam sebelum 17-8-2009 (1)</title><description>Di meja makan, kami duduk berhadapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana? Berhenti sekarang?" tanyaku soal keinginan (lama) keluar dari Harian Umum Suara Merdeka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, sekarang. Jangan lagi-lagi ditunda," jawab Entik, mantap sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak-anak? Selama ini mereka jadi salah satu pertimbangan yang membuatku selalu ragu... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru karena mereka, Bapak harus berhenti dari Suara Merdeka. Rugi besar kalau sisa umur, energi, kreativitas dan produktivitas yang Bapak punya Bapak habiskan di sana, Bapak akan kerdil dan habis... Demi anak-anak, kita harus lakukan yang memang semestinya kita lakukan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku kadang-kadang takut jadi orang yang tak pandai bersyukur. Banyak orang tak punya pekerjaan tetap, apalagi di perusahaan dengan nama besar berkibar-kibar, bingung ketika sakit karena tak punya asuransi kesehatan, tak punya uang tunjangan, tak punya uang perjalanan.... Aku yang sudah punya semua itu, kok malah berhenti, keluar... Kok rasanya tidak bersyukur..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entik diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kalau dibalik, bisa juga tetap bekerja di Suara Merdeka itu salah, kufur nikmat malah. Tuhan telah memberiku begitu banyak anugerah, jalan kreatif, umur, kesehatan, dan tak terhitung din...Kalau semua itu terabaikan, terbengkalai, karena aku tak pandai berbagi perhatian, tak bisa fokus, terus bekerja di perusahaan yang tak menghargai kreativitas dan profesionalitas, terus menggerutu dan bekerja tak ikhlas.... apakah itu tak berarti aku malah kufur nikmat. Kalau bersyukur, mestinya aku fokus, mengambil jalan kreatif yang telah berkali ulang dibukakan oleh Tuhan...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa kali Bapak bertanya pada Tuhan? Sudah terjawab sebenarnya kan? Kenapa masih ragu juga?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maklumlah, aku laki-laki, kepala keluarga... Aku berani sengsara sendiri, tapi membawa kau dan anak-anak..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu saat berangkat berdua, tanpa pekerjaan tanpa rumah, berani... sekarang ditemani Tia, Biru, dan Gigih... jadi berlima, mestinya tambah berani melangkah dong..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa kecut. Entik mulai berpikir tak linier, mulai ambil jalan alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita tak punya persiapan apa-apa. Kita hanya bisa terjun bebas. Tanpa payung, tanpa pengaman apa pun, bahkan tanpa kasur empuk yang akan menerima kita saat terempas ke tanah. Benar-benar terjun bebas!" kataku menunjukkan segala kemungkinan terburuk yang bakal terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entik mesem. "Tuhan tahu dan sudah lama menunggu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. "Ya, menunggu kita, terutama aku, tak hanya bersaksi dengan kata, tapi juga dengan perbuatan nyata bahwa Dia dan hanya Dia tempat bergantung satu-satunya... bukan yang lain, apalagi cuma Suara Merdeka..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu?"&lt;br /&gt;"Aku akan bertanya sekali lagi pada-Nya..."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-4126662869780873371?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/08/bincang-malam-malam-sebelum-17-agustus.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>6</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-8994532115651473052</guid><pubDate>Thu, 13 Aug 2009 07:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-13T15:13:52.647+07:00</atom:updated><title>DHUENGG!!!</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SoPK_rW3tLI/AAAAAAAAAnc/qD69Jvcqcb8/s1600-h/SIAP+TK9.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 212px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SoPK_rW3tLI/AAAAAAAAAnc/qD69Jvcqcb8/s320/SIAP+TK9.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369358376074982578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SEMINGGU yang lalu, Gigih yang baru saja menikmati hari-hari baru di TK Sekolah Alam Ar-Ridho harus "bolos" karena sakit. Repotnya, seperti Tia dan Biru dulu, dia punya masalah juga dengan puyer dari dokter: menolak. Saat aku bilang, "Kalau gak mau minum obat, gak sembuh-sembuh lho. Kalau gak sembuh-sembuh, gak bisa sekolah...." Eeee... dia malah tanya, "Sekolah itu untuk apa to, Pak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya biar kamu punya lebih banyak teman..." jawabku.&lt;br /&gt;"Terus?"&lt;br /&gt;"Ya biar kamu bisa lebih sering main di luar..."&lt;br /&gt;"Terus?"&lt;br /&gt;"Hmmm... biar kamu lebih pintar..."&lt;br /&gt;"Apalagi?"&lt;br /&gt;"Udah."&lt;br /&gt;"Oooo.... gitu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah. Dia tak bertanya lagi. Dia lakukan hal lain seolah tak pernah bertanya dan tak mendengar jawaban apa pun. Terus terang, jawaban itu jawaban asal. Aslinya, aku kesulitan menjawab. Bukan karena pertanyaannya, melainkan karena yang bertanya: bungsu kami yang berumur empat tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat pertanyaan serupa. Gigih pernah membuatku cep-klakep dan tak bisa tidak aku pilih jalan ngeles karena memang benar-benar tak siap memberikan jawaban. Dalam perjalanan pulang sekolah, naik motor di jalan tembus (jalan setapak menurun) dekat rumah, tiba-tiba dia bertanya, "Kita kok harus sholat itu kenapa to, Pak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa jawabku? "Aduh, Bapak gak bisa dengar dengan jelas. Tanya lagi nanti di rumah ya..." Gigih mengangguk tapi setelah itu langsung bertanya dengan suara lebih kenceng, "Kita kok harus sholat kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban asal pun keluar, "Kenapa ya? Ya biar kita dekat sama Tuhan dan tenteram."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tenteram itu apa?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DHUENG!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Untung segera sampai rumah dan begitu ketemu sang Ibu, Gigih lupa pada pertanyaan yang "merepotkan"-ku itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-8994532115651473052?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/08/dhuengg.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SoPK_rW3tLI/AAAAAAAAAnc/qD69Jvcqcb8/s72-c/SIAP+TK9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-3353447590515528139</guid><pubDate>Mon, 20 Jul 2009 05:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-20T14:10:18.051+07:00</atom:updated><title>Putih Belaka</title><description>"Tunggu di situ, ya, di situ..." katamu. Aku pun duduk berpeluk waktu. Kau berlalu dalam bisu. Kapan kembali tak tahu aku. Seperti biasa, kulukis saja bulan di sudut zaman yang bertentang. Tak peduli malam tak peduli siang. Juga seperti biasa: kanvas itu putih belaka....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-3353447590515528139?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/07/kosong-belaka.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>7</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-609968028366739352</guid><pubDate>Sat, 11 Jul 2009 07:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-11T15:22:58.351+07:00</atom:updated><title>O, Rindu Aku</title><description>Bisa saja kulesakkan bulan ke dalam tidurmu atau kutaburkan bintang di sekujur ranjang tapi beribu langkah luka tanpa darah tak juga menguatkanku untuk bertemu jagamu: "Mana bulan itu? Mana bintang-bintang itu? Kau curi ia dari lelapku? Kau bersihkan mereka dari ranjangku dan ranjangmu?" O, rindu aku pada malam kanak-kanak yang hanya punya satu hantu: kegelapan semu....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-609968028366739352?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/07/o-rindu-aku.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>7</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-6932445841636120585</guid><pubDate>Wed, 08 Jul 2009 13:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-08T20:13:05.398+07:00</atom:updated><title>Terlipat Pengap</title><description>Kuletakkan letih di bawah selimut agar kau tak tahu dan bertanya, "Kenapa?" Sebab, sungguh, tak akan pernah bisa aku menjawab. Pintu dan jendela telah tertutup rapat. Jika pun ada segaris celah, tak akan cukup untuk lewat. Mimpi? Harapan? Sudah lama terlipat pengap.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-6932445841636120585?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/07/terlipat-pengap.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-2777600210132081750</guid><pubDate>Sat, 20 Jun 2009 11:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-20T18:36:13.412+07:00</atom:updated><title>Mesem. Itu Saja.</title><description>&lt;strong&gt;SUDAH&lt;/strong&gt; lama atau bahkan terlalu lama aku memendam keinginan yang bagi orang lain amatlah mudah diwujudkan ini: mengajak istri (sendiri) makan malam di salah satu resto di Semarang atas lalu memandang kerlap-kerlip Semarang bawah. Berkali-kali aku makan malam di sana, tapi dengan "pasangan yang salah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu momen terpenting dalam kehidupan kami, ultah pernikahan, mendesakku habis-habisan untuk mewujudkan keinginan sederhana itu. Maka aku kerahkan seluruh daya-upaya hingga hari Kamis 18 Juni tiba: sore-sore aku, Entik, Biru, dan Gigih meluncur ke kota. "Mestinya berdua aja ya, makan malam romantis..." kata Entik. Aku tertawa. "Anak-anak kita nggak punyah embah, mau kita titipkan ke siapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita nanti ke Jamol, Gramed, trus ke Ada main tulit-tulit, terus makan di Mekdi," celoteh Gigih. Aku protes: "Yang ulang tahun Bapak dan Ibuk, kok Gigih yang bikin acara?" Eh, tangkas dia menjawab, "Bapak nyante aja, aku yang pilihkan acaranya." Hahaha....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pertama memang Jamol: beli celana krem untuk Biru yang bakal jadi MC perpisahan kelas VI di SD Alam Ar-Ridho hari Sabtu (20/6). Tapi dalam perjalanan, terasa ada yang kurang, ada yang kosong, ada yang tak lengkap. Ya, pada hari istimewa, mau makan malam bersama, kok tanpa Tia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka meluncurlah kami ke Salatiga untuk menjemput sulung kami. Saat kukontak,  Tia bilang siaaapppp. Begitu kami sampai di rumah Pak Ridwan-Bu Rifqah di Kalibening, Tia kaget karena dia sangka makan malam di Salatiga, bukan "turun" ke Semarang. Lalu nolak? Tak mungkin wong dalam urusan makan dia yang paling jago (buanyaaaakkk!!!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai magriban, kami meluncur ke Semarang, langsung ke Jamol. "Kita makan di Mekdi ya, Buk?" rajuk Gigih. "Malam ini, makan di mana, ikut Bapak ya?" kataku. Gigih tetep: "Mekdi aja!" Aku pun menggoda "logika"-nya: "Ikut Bapak, Bapak yang bayar." Biru menyela untuk Gigih: "Kalau ikut kamu, kamu yang bayar." Gigih menyahut, "Oke!" Tapi tak lama, dia meralat, "Eh, ya nggak gitu...." Tawa kami pun meledak bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu urusan beli celana si MC kelar, biar tak ada yang rewel, kami turuti kemauan Gigih. Setelah itu, kami kembali naik ke Gombel. Di sanalah, di salah satu resto, aku wujudkan keinginan sederhana yang terpendam lama. Sambil mencari tempat duduk, Entik yang menangkap kerlap-kerlip Semarang bawah langsung komen, "Ih, wow!" Anak-anak begitu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pilih meja yang tak terlalu jauh dari penyanyi dan pemain organ tunggal. "Boleh ngopi, Pak?" tanya Biru. "Ini hari istimewa. Boleh." Tia sibuk motret. Saat ganti motret, aku kaget karena nomor meja yang kami pilih itu 17! Persis umur pernikahan kami. Ya, 17!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SjzGV9Bx_7I/AAAAAAAAAm0/QCIkJGyTT9Y/s1600-h/17PITULAS.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 230px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SjzGV9Bx_7I/AAAAAAAAAm0/QCIkJGyTT9Y/s320/17PITULAS.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349368537870892978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Usai makan, saat Tia dan dua adiknya tak habis-habis bercanda, aku berbisik pada Entik, "Malam ini aku seneng sekaligus sedih." Seperti 17 tahun lalu saat kami mulai mengayuh biduk, dia tersenyum dan bertanya lembut, "Kenapa?" Kubuang nafas ke Semarang bawah sana dan menjawab lirih, "Seneng lihat anak-anak begitu ceria, sehat, cerdas. Sedih karena makin terasa, masih begitu banyak utangku pada mereka, padamu juga..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entik mengelus rambutku yang semrawut dan kian beruban. &lt;em&gt;Mesem&lt;/em&gt;. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;NB:&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mohon doa kekuatan seiring sejalan dalam keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan... &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-2777600210132081750?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/06/mesem-itu-saja.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/SjzGV9Bx_7I/AAAAAAAAAm0/QCIkJGyTT9Y/s72-c/17PITULAS.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>13</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-4697158539501365783</guid><pubDate>Tue, 09 Jun 2009 11:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-09T18:49:32.752+07:00</atom:updated><title>"Awas!!!"</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"MAKASIH&lt;/span&gt; ya, kau telah peluk aku sebegitu rupa tadi malam. Hidup terasa sangat tenteram dan membahagiakan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar kan? Yang kau peluk memang aku kan? Bukan yang lain kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan-jangan...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooooo.... gitu ya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lariiiiiiii.....!!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Awas!!!"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-4697158539501365783?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/06/awas.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>6</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-13335421.post-6013753700884749129</guid><pubDate>Thu, 28 May 2009 07:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-28T14:49:09.089+07:00</atom:updated><title>Kencan Kedua</title><description>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/Sh5AsrnZ-vI/AAAAAAAAAlw/ViwgtWwCcro/s1600-h/TIAKINEH.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/Sh5AsrnZ-vI/AAAAAAAAAlw/ViwgtWwCcro/s320/TIAKINEH.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340777344474413810" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;SEPERTI &lt;/strong&gt;ibu pada umumnya, Entik agak cemas ketika Tia kirim SMS dan bertanya soal ”hukum tindik”. Dari tindik kuping sampai tindik lidah. Setelah beberapa kali saling balas, ”&lt;em&gt;Piye ki&lt;/em&gt;, Pak?”  tanya Entik padaku yang sedang asyik nulis. Harap maklum jika kecemasan Entik meninggi karena sulung kami itu kirim SMS dari Salatiga, kota tempat dia ”sekolah” di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah. Ada jarak fisik yang tentu memudahkan serangan ”penyakit jangan-jangan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santai aku menjawab, ”Bilang aja sama Tia, nggak usah lebay. Tuhan nggak suka sama yang lebay-lebay...” Dan syukurlah, dialog via SMS itu berakhir melegakan karena Tia menutupnya dengan... ”&lt;em&gt;I’m find&lt;/em&gt;, Bunda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya, Tia yang sejak lulus SMP berusaha membiasakan diri berkerudung kirim SMS dan tanya-tanya soal jilbab, termasuk soal tanggung jawab (perilaku) yang begitu berat karena berjilbab. Dia juga bertanya, kenapa ibunya ”baru” berkerudung menjelang menikah, bukan jauh-jauh sebelum itu: saat sekolah atau kuliah. Entik mengajakku berbincang, tapi aku tak tahu apa jawaban yang dia kirim ke Tia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya lagi, Entik menerima SMS dari Tia yang bertanya soal apa sajakah kebenaran umum selain Bumi bulat atau Matahari terbit dari Timur. ”Anak kita sedang belajar apa to ini?” tanya Entik. Aku tentu hanya bisa angkat bahu wong sama-sama tak tahu. Apalagi saat itu aku sedang terkepung &lt;em&gt;deadline &lt;/em&gt;kerjaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena apa, Tia kirim SMS yang sama padaku. Ya, soal kebenaran umum itu. Aku pun menjawab: &lt;em&gt;Bapak pinter dan ganteng, itu kebenaran umum!&lt;/em&gt; Dia ketawa (haha) tapi minta aku serius. ”Kalau mau serius, pulang ke Semarang, kita bisa ngobrol panjang...” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu (23/5) Entik bilang, ”Besok Minggu jalan-jalan ke Jamol dan Gramed ya, Pak... Tia minta ketemu di sana.” Aku kaget dan bertanya persis pemain sinetron yang hanya bisa mengulang pernyataan: ”Minta ketemu di sana?” Entik mengangguk. ”Tia berencana pulang Jumat minggu depan, tapi karena pengin ngobrol, minta ketemu di Gramed besok. Setelah itu, dia langsung balik ke Salatiga, nggak mampir rumah.” Aku mbatin, ”Edan!”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MINGGU&lt;/strong&gt; (24/5) itu aku, Entik, Biru, dan Gigih ”piknik” ke Java Supermall. Biru dan Gigih tak tahu, kakak mereka sudah menunggu di Gramedia. Begitu ketemu, Gigih menutup mukanya dengan buku. Pasti dia kaget dan mbatin, ”Kok tiba-tiba ada Mbak Tia?” Haha... Karena Tia belum sarapan, kami segera ke &lt;em&gt;food court&lt;/em&gt;. ”Bapak aja ya yang ngobrol sama Tia, Ibuk mau nemenin Biru dan Gigih main di Kids Fun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka di meja itu, tinggallah kami berdua, aku dan Tia. Ini jadi kencan kedua. Kencan pertama kami bulan Mei 2007 (silakan buka dan baca arsip). Kami mengawali obrolan tentang kebenaran umum dan aku menambahkannya dengan kebenaran khusus. Aku ungkapkan semua yang aku tahu. Nyaris tanpa sisa. Bahkan nyerempet-nyerempet soal Sang Buddha, Yesus Kristus, dan Muhammad Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ujung, mewakili Entik, aku bertanya, ”Kamu sedang belajar apa to, Nduk?” Tia menjawab cepat, ”Bahasa Inggris...” Hah? ”Kirain lagi belajar filsafat...” kataku. Dia menukas, ”Belajar Bahasa Inggris sekalian belajar filsafat kan ya nggak papa to?” Aku ketawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Entik, Biru, dan Gigih belum selesai main, aku pun bertanya soal jilbab. Persisnya, bertanya kenapa Tia bertanya soal jilbab. ”Ya pengin tahu aja...” jawabnya. Maka, sekali lagi, aku ungkapkan semua yang aku tahu. Termasuk awal-mula gelombang jilbab tahun 80-an di Indonesia dan ”ditandai” oleh Emha Ainun Nadjib lewat puisi panjang &lt;em&gt;Lautan Jilbab&lt;/em&gt;. ”Buku itu dipinjam entah siapa, hilang...” kataku.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau bicara inti,” sambungku kemudian, ”yang harus dijilbabi itu bukan kepala hingga dada, Nduk, melainkan pikiran hingga hati. Tapi sejak awal garisnya kan udah jelas, manusia itu makhluk lemah. Karena itulah, kita butuh perlindungan, juga butuh melindungi diri. Bukan dari kekuatan, melainkan justru dari kelemahan diri sendiri dan orang lain. Kebetulan agama kita ngasih tahu bagaimana cara perempuan melindungi diri agar tetap terhormat. Tapi itu tak berarti apa-apa jika sikap dan perilaku kita amburadul, jika pikiran dan hati tak terjilbabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Laki-laki, termasuk bapakmu ini, seneng-seneng aja kalau dapat gratisan lihat keindahan tubuh perempuan. Begitu ada perempuan yang &lt;em&gt;nyah-nyoh&lt;/em&gt;, jelas sorak-sorak bergembira. Tapi sebatas tubuh, fisik thok. Tak ada yang lebih dalam atau lebih tinggi ketimbang itu. Sangat berbeda jika ketemu perempuan yang pandai menjaga dan membawa diri. Sangat berbeda. Laki-laki, termasuk bapakmu ini, bisa menaruh hormat setinggi langit pada perempuan seperti itu dan nggak berani macem-macem....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entik, Biru, dan Gigih datang. Kencan kami sudahi. Balik ke Gramedia untuk cari buku. ”Aku pengin buku berbahasa Inggris,” kata Tia. Segera aku carikan di rak obralan (haha) dan ketemu buku dengan kemasan bagus: &lt;em&gt;The Meanest Doll in the World &lt;/em&gt;karya Ann M Martin dan Laura Godwin. Setelah beli buku, kami kembali ke &lt;em&gt;food court &lt;/em&gt;untuk makan siang yang jadi sore itu: lontong capgomeh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adegan yang paling ”tidak menyenangkan”: Tia balik ke Salatiga, sedangkan kami berempat pulang ke rumah. Aku dan Entik coba merayu Tia untuk nginep barang semalam, Biru dan Gigih protes, tapi Tia keukeh balik ke komunitas belajarnya: Qaryah Thayyibah. Meski begitu, aku pulang dengan dada longgar karena mulai merasa bisa menjadi teman bagi anak sendiri, bukan cuma ”anak orang lain” seperti selama ini......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ESOKNYA&lt;/strong&gt;, aku terima SMS dari Tia. Dia mengutip puisi Lautan Jilbab karya Ainun:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;jika aurat dipamerkan di koran dan di jalan&lt;br /&gt;Allah mengambil kembali cahaya-Nya&lt;br /&gt;tinggal paha mulus dan leher jenjang&lt;br /&gt;tinggal bentuk pinggul dan warna buah dada&lt;br /&gt;para lelaki yang memelototkan mata&lt;br /&gt;hanya menemukan benda&lt;br /&gt;jika wanita bangga sebagai benda&lt;br /&gt;turun ke tingkat batu&lt;br /&gt;derajat kemakhlukannya....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum dan membalas: &lt;em&gt;Yes&lt;/em&gt;! Alhamdulillah....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13335421-6013753700884749129?l=siluetbulanluka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://siluetbulanluka.blogspot.com/2009/05/kencan-kedua.html</link><author>massakerah@yahoo.com (Mataharipagi)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wit37ooq97s/Sh5AsrnZ-vI/AAAAAAAAAlw/ViwgtWwCcro/s72-c/TIAKINEH.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>21</thr:total></item></channel></rss>